What’s New?

Viewpoint – HerWorld January 2009
Survei kecil-kecilan yang saya pasang di Twitter, “When you hear the word NEW, what pops up in your mind?” Pilihan jawabannya beragam mulai dari fun, challenge, excitement, dan juga relationship (yang ini pasti lagi craving nyari pasangan baru).
Sapaan andalan saya ketika bertemu dengan teman yang sudah lama menghilang adalah, “Hey, how are you? What’s new in life?” Karena memang pada dasarnya, kalau kita sudah lama tidak mendengar kabar tentang seseorang, dan akhirnya ada kesempatan untuk bertanya, yang ingin kita ketahui adalah hal-hal barunya. Buat apa tanya soal yang lama, yang kita sudah tahu. Kata ‘baru’ memang terdengar sangat menarik. Tahun baru, gaya baru, pasangan baru, suasana baru, penulis baru (that’s me, by the way).
New = Changes
Sadarkah Anda, banyak orang berpendapat kalau, ‘people are always reluctant to changes’. Hal yang sangat manusiawi, karena memang kata ‘baru’ selalu datang dengan kata lain, yaitu ‘perubahan’ dan pada dasarnya, manusia tidak terlalu suka dengan perubahan, terutama hal-hal yang drastis, diluar rutinitas atau kebiasaan. Jelas, kalau ada perubahan, tandanya harus ada penyesuaian, belum lagi ‘harga’ yang harus dibayar untuk bisa menyesuaikan diri dengan hal baru tersebut. Contoh nih, pasangan baru. Tidak usah jauh-jauh, pasti ada dari antara teman (atau Anda sendiri) yang pernah mengalami proses berhubungan lebih dari dua tahun dan berjuang sampai titik darah penghabisan untuk tidak mengakhiri hubungan hanya karena, ‘malas memulai yang baru’, sudah terlanjur berada di comfort zone, padahal sudah tahu kalau ada ketidakcocokkan yang signifikan.
Hal ini juga bisa terjadi di lingkungan pekerjaan kita di mana comfort zone dalam bekerja seringkali terbentuk. Untuk orang-orang yang lebih banyak merasa takut dan enggan membuat keputusan besar, lebih baik menderita bekerja di perusahaan yang sama, dibandingkan harus mencari pekerjaan baru, memulai dari awal, dan mengorbankan apa yang sudah dimiliki saat ini.
Tahun lalu ketika saya memutuskan untuk resign dari posisi sebagai Art Director, banyak pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari orang-orang sekitar. I have always known my passion in communication area, and wanted to do something about it. Saya tinggalkan comfort zone dan mencoba mencari pekerjaan baru di area komunikasi. Waktu itu saya belum punya networks apa-apa, memang bocah nekat ?. My mom has always been there to support my passion, but my dad was pretty furious back then. Pada akhirnya saya mendapat kesempatan untuk menjadi salah satu penyiar di 87.6 Hard Rock FM Jakarta, and there it was, I found my passion.
Pengalaman tersebut menggelitik sisi filosofi saya, “When you’re sticking on to the good things, you might be missing out on the great things.”
New = Knowing What You Really Want!
Kalau ada pernyataan begini, “Saya ingin membeli smart phone baru deh,” kayaknya akan menjadi sangat aneh apabila disambung dengan pernyataan, “..tapi nggak tahu sih mau yang mana.” Lho? Menginginkan sesuatu yang baru harus diimbangi dengan pengetahuan tentang ‘baru yang seperti apa yang Anda cari’.
Beberapa tahun yang lalu, seorang teman pernah mempunyai cita-cita membeli apartemen idamannya. Saya masih ingat betul, ketika teman ini bercerita kepada seorang mentor, hal pertama yang disarankan kepadanya (bahkan waktu itu uangnya belum ada) adalah, “Sudah tahu mau apartemen model apa? Try to list down what you’re looking for.” WOW! It sounds very simple. Allow me to ask, how many of us do this when we really want something? Menulis kriteria sekolah terbaik untuk anak Anda mungkin? Atau dalam mencari pasangan hidup? Sudahkah Anda membuat list kriteria yang Anda cari di dalam hal ‘baru’ tersebut? Do you know what you really want?
Ketika kita tidak tahu apa yang kita mau, segala sesuatunya bisa jadi berantakan lho. Bayangkan ketika kita tidak tahu tipe smart phone apa yang kita mau, dengan sangat mudahnya kita bisa termakan omongan penjual yang hanya memikirkan sales. Ketika kita tidak jelas tentang personal passion, kita mung
- 7 Comments »
- Posted in Learn, Live on January 6th, 2009
January 8th, 2009 at 11:47 am
hey laras yup gw setuju banget nih ngapain juga inget2 cerita lama kalo ada yang baru
yang penting buat perubahan baru meski tidak suka tapi tetep harus dijalanin kan???soo caiyooo aza ya.JBU
January 8th, 2009 at 4:39 pm
wuih. meree bo…tunjahe jahe.
gue suka banget tulisan lo ras, gayanya beda. padahal gue belom baca loh..hahahhahahahaa.
gak ada yang punya her world dirumah gue, padahal cewe semua isinya. maap ya neing…gimana kalo dipost disini? (of course, sebulan setelah terbibt, jadi gak rancu sama terbitan)
January 12th, 2009 at 4:41 pm
@Andira: Iya tenang cuy, kalo HerWorld February udah keluar, gw posting lengkapnya di sini hehehehe. Udah deh, cuma 38.000 doang.. beli kek. Modal, jangan kayak orang susye.. kekeke :-p
@Wee: Don’t miss next month’s article, wait for it!
January 25th, 2009 at 12:01 am
laras..darling…ayo bikin buku gih..biar gw beli deh ntar….slalu suka tulisan lo en siaran lo…GBU
February 3rd, 2009 at 2:43 am
As promised, I published the whole article after January ends
Happy reading, people!
February 3rd, 2009 at 9:31 pm
gw sll membiarkan pikiran gw diganggu oleh2 hal2 yg menarik, dan artikel lo mengganggu gw:
“….
Tidak usah jauh-jauh, pasti ada dari antara teman (atau Anda sendiri) yang pernah mengalami proses berhubungan lebih dari dua tahun dan berjuang sampai titik darah penghabisan untuk tidak mengakhiri hubungan hanya karena, ‘malas memulai yang baru’, sudah terlanjur berada di comfort zone, padahal sudah tahu kalau ada ketidakcocokkan yang signifikan.
….”
ge tertarik dgn artikel ini. dan gw terganggu dgn paragraf di atas.
gw blm pernah mikir ke arah “comfort zone” dlm hal ini. masuk akal jg sih, bbrp org memilih utk bertahan krn malas utk keluar dr “comfort zone” ini.
gw jd terusik utk sdikit keluar dr “jalur”. apa ya parameter dua org bs dikatakan “cocok” atau mempunyai “ketidakcocokkan yang signifikan”?
gw adl org yg percaya bhw hubungan yg langgeng, bukan kepada siapa yg jd pasangan lo saat ini, tp gmn cara lo utk nerima pasangan lo apa adanya.
gw tdk menitikberatkan kpd “ketidakcocokan” tp kpd “sejauh mana penerimaan” thd pasangan.
dan artikel lo spt sgt mengagungkan hal yg “baru”. hal yg “baru” memang sebagian besar lebih baik, lebih menyenangkan. tp ga semua hal. dan sptnya batasannya krg jelas di artikel ini.
sblmnya makasih laras!
I like your articles..!!
February 3rd, 2009 at 11:24 pm
Dear Stankonia,
Komen elo juga mengganggu pikiran gw, in a good way
First of all, you should be aware that this is an article that was written for the new year of 2009 which was theme-based. But of course apart from that, I also believe in awesome NEW THINGS should always happen in our lives.
Kata ‘baru’ itu relatif untuk semua orang, gw sendiri yakin kalau semuanya pasti balik kepada hati masing-masing orang, ada yang namanya ‘convictions’ in the heart yang mungkin nggak bisa ditangkap sama orang lain. Again, everything comes back to personal values.
Kata ‘baru’ juga bukan berarti harus selalu objeknya yang baru, bisa jadi caranya saja yang harus diperbaharui
For what is worth, I also have written a lot of articles on pursuing people to not easily giving up.. apalagi kalau sudah menyangkut komitmen yang tinggi akan sesuatu. Misalnya di: http://larasatisilalahi.com/worth-having-worth-pursuing/ atau http://larasatisilalahi.com/whats-in-your-hands/
Tapi memang tricky sekali, kita harus mampu melihat jauh ke depan, jangan sampai apa yang kita anggap komitmen, ternyata bukan suatu hal yang terbaik untuk kita. Again, semua balik pada personal values, after all we’re all grown ups.
Tugas gw di sini sepertinya untuk.. hmm.. mencoba membuka mata teman-teman yang memang membutuhkan sedikit encouragements
Terima kasih sekali lagi untuk komennya yang membuat gw bangkit dari tempat tidur, dan menyalakan laptop… hehehe.. nice meeting you here!