Go to content Go to navigation Go to search

What’s In Your Hands?

Hi friends, how are you? I bet you all are good, or at least coping ;-)

Kangen nge-blog nih, cuti seminggu ke Singapore jadi agak ribet kalau harus blogging lewat Blackberry :-) Anyway, kali ini gw mau ngebahas satu hal yang sederhana banget, tapi lately bener-bener membuka mata gw.. masih belajar juga, masih terus mengharapkan ada improvements atau perkembangan yang signifikan untuk perubahan ke arah positive. Semoga aja dengan baca ini juga elo bisa belajar hal yang sama ya…

Sebagai manusia kita memang nggak pernah puas. We want to have it all. Sampai nggak jarang kita jadi ngiri atau sebel sama orang lain, karena kita nggak punya apa yang dia punya. Mungkin untuk beberapa orang, hal ini nggak penting banget, tapi sebenernya ini sangat penting.. ini tuh sebenarnya bagian dari knowing who you are, what you have, and where should you take those that you have in your hands.

Waktu gw cerita ke seorang mentor soal, ‘kenggakpunyaan’ gw, dia cuma tanya satu kalimat, yaitu judul dari posting ini, “What’s in your hands, Laras?” Karena memang hal itu yang seharusnya kita fokusin, kita jaga, kita sayang, kita kembangin.. bukannya menginginkan yang bukan menjadi milik kita.

Contoh paling keren sih mungkin Singapore (secara masih anget banget di otak gw nih hehehe). Waktu jalan-jalan kemarin, tour guide conference gw sempet bilang di bus begini, “Singapore itu nggak punya sumber daya alam yang banyak, oleh karena itu mereka mikir.. kira-kira apa yang bisa kita kembangkan?” Hal pertama yang muncul di benak mereka adalah, MANUSIA. Makanya kalo elo perhatiin, orang-orang Singapore tuh sangat berambisi, hidup excellent, dan lain sebagainya. They think, “Nggak punya sumber daya alam? So what. Kita punya sumber daya manusia.” What a positive attitude. Lihat apa yang ada di tangan lo, bukan yang nggak ada.

Dewi Lestari juga di fiksinya yang berjudul, “Hanya Isyarat” (Recto Verso) menyinggung soal ini, tapi lebih ke area memiliki seseorang/relationship/love. Tapi intinya sama. Lebih baik tau benar dengan apa yang elo punya, dibanding elo nggak ke mana-mana cuma karena mengharapkan sesuatu yang elo tidak punya. There is no harm of wishing and hoping, but we still need to live based on reality.

Now let me ask you this question, what’s in your hands right now? Love it. Develop it. Embrace it. Cultivate it. See it grows.

9 Responses to “What’s In Your Hands?”

  1. karina saputri Says:

    huaaaaa, pagi-pagi langsung disuguhi tulisan hangat dari kepalamu…
    ini seperti sebuah harapan buat gue hari ini.. ^_^

  2. henrygerson Says:

    oh i can’t stop falling in love with your writings. *reeezzz*

  3. riko sofra denata Says:

    wow….gw slalu suka tulisan lo ras…yup bener bgt kebanyakan orang pada ribet nyari pa yg ngak mereka punya….padahal klo mereka lihat,denger dan rasa lebih dalam …..mereka punya sesuatu yang harus dicintai…..(thx u yaaaaaaaaaaaaaaaa tulisan lo bikin hidupppppppppppppppppppppp)

  4. zoel Says:

    ku ingin menggapai bintang :D

  5. wee Says:

    laras lo bener2 membuka pikiran banget dech apalagi senin pagi kaya gini wah jadi lebih semangat buat ngelakuin yang terbaik buat hidup…thx yyy JBU :-)

  6. Rudy Says:

    Ras, gue punya motto hidup, “never fight, but compensate.” Intinya benernya simple, jangan pernah memaksakan sesuatu yang ngga bisa, dan gunakan apa yang bisa elo gunakan. Kalau elo ngga punya sesuatu, don’t fret. you’ve got something else that they don’t. Kalau elo asah apa yang elo punya, itu bisa bikin orang lain lebih iri. Rumput tetangga akan selalu lebih hijau, tapi yang jadi inti masalah, elo mau pindah ke tetangga, atau elo bikin rumput elo lebih hijau lagi. :D

    So, you go lady. GBU

  7. SIng Says:

    Gimana kalo di combine ras….develop what’s in yer hands, tapi juga tetep ngejar apa yang belom…itung2 usaha…..even though s’times ujung2nya cuma bermimpi, but the world wouldn’t be like what it is now if the people before us stopped dreaming..he..he…:)

  8. nik.e Says:

    setujuuuuu banget dengan kalimat “There is no harm of wishing and hoping, but we still need to live based on reality.”
    dan lebih lengkap lagi kl kita belajar dari aapa yg sudah kita lewati.
    masa lalu, sekarang, masa depan. semua melengkapi ;)

  9. fridita Says:

    larass km benarr,km slalu membuka daya hayalku buat komen.betul ras,ini negeri kaya dg alamnya..so many people get advise but only a few take advantage of it..and the world has no shortage of educated people,but shortage of wisemen..,gimana menurut km ras…?

Leave a Reply