Go to content Go to navigation Go to search

Jangan Pintar Doank

kandank-jurank

Kalau ada orang yang bertanya ke orang tua gw tentang keunikkan gw sewaktu masih kecil, pasti keduanya akan bilang hal yang sama.

“Sementara anak-anak kecil lain biasanya minta dibelikan mainan atau dikasih uang jajan ekstra, kalau Laras tuh agak sedikit beda. Setiap mau ditinggal sama Papa Mamanya, dia selalu minta ditinggalin setumpuk kertas sama spidol warna-warni. Buat menggambar, katanya. Anak itu sukanya mojok, menggambar, melukis, atau baca buku saja.”

I used to think I was weird, until I finally came to know myself as a whole being. Bahkan gw tau, sampai sekarang masih banyak orang yang suka bilang kalau gw aneh, selalu tenggelam sama pikiran, dan senang berimajinasi dan berkutat sama hal-hal kreatif. So what, that’s my world :-)

Waktu kecil dulu, ada satu hal yang selalu menjadi impian gw.. yaitu hidup di satu negeri yang isinya kreativitas. Gw bisa bebas nyanyi, nari, gambar, menulis, dan dikelilingi oleh orang-orang yang juga menghargai karya seni. Ternyata impian gw itu sudah diwujudkan oleh seorang laki-laki bernama Dik Doank, yang (jujur saja) baru gw benar-benar ‘kenal’ setelah mendengar soal Kandank Jurank Doank (KJD), satu Komunitas Kreatifitas untuk anak-anak kurang mampu antara usia enam sampai dua belas tahun.

Hari Jumat, 23 Januari 2009 yang lalu, akhirnya gw mendapat kesempatan untuk berkunjung ke KJD bareng teman-teman dari Samsung Electronics Indonesia (SEIN) yang mendukung lewat program CSR-nya – Samsung Hope Indonesia, Think.Web, dan temen-temen baru yang asik-asik orangnya (ihiy, GR pasti lo semua!), mereka adalah Ndoro Kakung, Chika, Ollie, dan Iqbal.

Selain touring keliling KJD, yang ternyata lengkap dengan ruang-ruang kelas (multimedia, fotografi, etc), dan outbond, kita juga menyempatkan diri untuk hadir di salah satu kelas mereka. Gw suka banget melihat anak-anak yang ditantang untuk bisa berpikir kreatif (pintar doang nggak berarti kreatif), menciptakan alat transportasi baru yang bisa dipakai di darat, laut, dan udara. I could see some of them looked excited, and some were clueless :-p

Ketika kelas berlangsung, gw menyempatkan diri untuk ngobrol dengan beberapa orang tua dari anak-anak itu. Menurut beberapa tante di sana, biasanya mereka mengikuti kelas di KJD setelah atau sebelum masuk sekolah, misalnya sekolah pagi, ya ke KJD siang, kalau sekolah siang, ke KJD-nya pagi. Paling enak kalau akhir pekan, lebih ramai, katanya. Gw pribadi sih setuju banget, daripada anak-anak bengong nggak tau mau ngapain, lebih baik waktunya dipakai untuk suatu hal yang berguna dan menyenangkan.

Para orang tua juga bercerita kalau anak-anak dari kelas tari Saman sudah sering mengisi (tampil) di acara-acara kantoran, bahkan acara-acara yang melibatkan kerjasama dengan negara-negara lain. Wow!

Sore itu Mas Dik sempat bertanya, “Berapa banyak keluarga di jaman sekarang masih menempelkan kertas gambar di kulkas atau di tembok rumah?” Gw yakin jawabannya, nggak banyak :-D He really had a good point. Sudah seharusnya orang tua lebih mendorong anak-anaknya untuk berkarya, menghargai apa yang menjadi ide atau imajinasi kreatif mereka karena banyak anak-anak yang mungkin ranking lima besar di sekolahnya, tapi belum tentu memiliki daya imajinasi yang tinggi.

Di akhir dari acara, gw sempet ngobrol singkat dengan Mas Dik sendiri. Sedikit sharing saja tentang gimana senangnya gw ada di sana, melihat anak-anak belajar untuk bisa lebih lagi menyalurkan kreativitas mereka, dan terlebih lagi, melihat salah satu mimpi masa kecil gw yang terwujud berkat adanya orang-orang seperti Mas Dik (juga semua relawan pastinya!).

Mungkin untuk gw sendiri dan beberapa orang lain, kami cukup beruntung bisa mengecap pendidikan di luar negeri yang entah kenapa, sepertinya lebih banyak menekankan untuk berpikir kreatif daripada (kurikulum) yang kita punya di negeri ini. Well, let’s stop complaining and just do our part to give support for the BEST education in our beloved country. Let’s start with the simplest thing, by clicking on this, and take part in the voting process (on any beneficiaries).

Create better futures through our fingers :-)

Being Smart Is One Thing

being-smart-is-one-thing

Minggu pertama 2009 bukan minggu yang gampang buat keluarga gw, mungkin ada beberapa di antara temen-temen gw yang tau soal my beloved uncle yang passed away on the 1st day of 2009.

I could write pages and pages about my late uncle, but I’m sure that is not the point of myself writing this. Kalo gw cuma bisa menuliskan satu hal baik tentang Tulang (panggilan di suku Batak) gw ini adalah passionnya dalam mengajar. Tulang Parouli Pakpahan seorang dosen di ITB, Bandung, by the way.

Sewaktu gw on the way ke Bandung dengan keluarga, mama cerita satu hal yang bikin gw tersentuh. Mama bilang, dari dia kecil, ada dua abangnya yang punya kemiripan, keduanya sama-sama pintar, selalu rangking satu, dan menjadi kesayangan guru. Salah satunya adalah Tulang Parouli ini. Yang membedakan Tulang Parouli dengan kakak-kakak mama yang lain adalah hatinya untuk sesama. Mungkin kalau mau ditandingin kepinterannya, ada kakak mama yang lebih jenius dan memang terbukti otaknya gokil. Tapi kalau mama nanya PR sama dia, langsung dibikinin, lalu bukunya dibalikin dengan semua pertanyaan yang sudah lengkap dengan jawaban (tinggal adik-adiknya yang bingung gimana cara ngerjain ulang), sementara kalau Tulang Parouli selalu dengan sabar mengajar detil ke mama gimana proses mendapatkan jawaban dari setiap pertanyaan.

That’s the difference between being smart and being a teacher. Nggak heran kalau Tulang Parouli memang suka mengajar, karena passion-nya adalah ingin berbagi ilmu. My uncle has passed away, but his passion for teaching.. lives on.

Yang membedakan seorang guru dengan seseorang yang (hanya) pintar adalah hatinya. It takes a heart that loves the people to enables someone in becoming a teacher. Harus punya hati yang mau berbagi, yang mau melihat kehidupan orang lain maju karena pengetahuan yang kita punya.

Being smart is not everything. It doesn’t stop there. We need to do more, and that includes TO SHARE. Bayangkan berapa banyak anak-anak Indonesia yang nggak mempunyai kesempatan untuk belajar cuma karena kita terlalu ‘pelit’ berbagi ilmu.

Ketika gw baca fakta ‘12 juta anak Indonesia putus sekolah’, I was broken hearted. Mungkin sedikit banyak, karena kita kurang mau berbagi juga mendukung adanya fakta ini. Being smart is one thing, and then.. what’s next?

Setelah kepergian uncle gw kemarin, I realized that his passion also lives in me. I love to teach, i love to help people around me realizing their potentials. Semoga aja elo punya passion yang sama. Paling enggak, elo punya hati untuk ngebantu orang lain, so let’s do something about this.

Let’s start to share.

Your money. Your passion. Your knowledge. Anything. Starts with what’s in your hands.

What’s New?

herworld

Viewpoint – HerWorld January 2009

Survei kecil-kecilan yang saya pasang di Twitter, “When you hear the word NEW, what pops up in your mind?” Pilihan jawabannya beragam mulai dari fun, challenge, excitement, dan juga relationship (yang ini pasti lagi craving nyari pasangan baru).

Sapaan andalan saya ketika bertemu dengan teman yang sudah lama menghilang adalah, “Hey, how are you? What’s new in life?” Karena memang pada dasarnya, kalau kita sudah lama tidak mendengar kabar tentang seseorang, dan akhirnya ada kesempatan untuk bertanya, yang ingin kita ketahui adalah hal-hal barunya. Buat apa tanya soal yang lama, yang kita sudah tahu. Kata ‘baru’ memang terdengar sangat menarik. Tahun baru, gaya baru, pasangan baru, suasana baru, penulis baru (that’s me, by the way).

New = Changes
Sadarkah Anda, banyak orang berpendapat kalau, ‘people are always reluctant to changes’. Hal yang sangat manusiawi, karena memang kata ‘baru’ selalu datang dengan kata lain, yaitu ‘perubahan’ dan pada dasarnya, manusia tidak terlalu suka dengan perubahan, terutama hal-hal yang drastis, diluar rutinitas atau kebiasaan. Jelas, kalau ada perubahan, tandanya harus ada penyesuaian, belum lagi ‘harga’ yang harus dibayar untuk bisa menyesuaikan diri dengan hal baru tersebut. Contoh nih, pasangan baru. Tidak usah jauh-jauh, pasti ada dari antara teman (atau Anda sendiri) yang pernah mengalami proses berhubungan lebih dari dua tahun dan berjuang sampai titik darah penghabisan untuk tidak mengakhiri hubungan hanya karena, ‘malas memulai yang baru’, sudah terlanjur berada di comfort zone, padahal sudah tahu kalau ada ketidakcocokkan yang signifikan.

Hal ini juga bisa terjadi di lingkungan pekerjaan kita di mana comfort zone dalam bekerja seringkali terbentuk. Untuk orang-orang yang lebih banyak merasa takut dan enggan membuat keputusan besar, lebih baik menderita bekerja di perusahaan yang sama, dibandingkan harus mencari pekerjaan baru, memulai dari awal, dan mengorbankan apa yang sudah dimiliki saat ini.

Tahun lalu ketika saya memutuskan untuk resign dari posisi sebagai Art Director, banyak pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari orang-orang sekitar. I have always known my passion in communication area, and wanted to do something about it. Saya tinggalkan comfort zone dan mencoba mencari pekerjaan baru di area komunikasi. Waktu itu saya belum punya networks apa-apa, memang bocah nekat ?. My mom has always been there to support my passion, but my dad was pretty furious back then. Pada akhirnya saya mendapat kesempatan untuk menjadi salah satu penyiar di 87.6 Hard Rock FM Jakarta, and there it was, I found my passion.

Pengalaman tersebut menggelitik sisi filosofi saya, “When you’re sticking on to the good things, you might be missing out on the great things.”

New = Knowing What You Really Want!
Kalau ada pernyataan begini, “Saya ingin membeli smart phone baru deh,” kayaknya akan menjadi sangat aneh apabila disambung dengan pernyataan, “..tapi nggak tahu sih mau yang mana.” Lho? Menginginkan sesuatu yang baru harus diimbangi dengan pengetahuan tentang ‘baru yang seperti apa yang Anda cari’.

Beberapa tahun yang lalu, seorang teman pernah mempunyai cita-cita membeli apartemen idamannya. Saya masih ingat betul, ketika teman ini bercerita kepada seorang mentor, hal pertama yang disarankan kepadanya (bahkan waktu itu uangnya belum ada) adalah, “Sudah tahu mau apartemen model apa? Try to list down what you’re looking for.” WOW! It sounds very simple. Allow me to ask, how many of us do this when we really want something? Menulis kriteria sekolah terbaik untuk anak Anda mungkin? Atau dalam mencari pasangan hidup? Sudahkah Anda membuat list kriteria yang Anda cari di dalam hal ‘baru’ tersebut? Do you know what you really want?

Ketika kita tidak tahu apa yang kita mau, segala sesuatunya bisa jadi berantakan lho. Bayangkan ketika kita tidak tahu tipe smart phone apa yang kita mau, dengan sangat mudahnya kita bisa termakan omongan penjual yang hanya memikirkan sales. Ketika kita tidak jelas tentang personal passion, kita mung

Worth Having, Worth Pursuing

Ada satu pepatah yang diajarin sama nyokap gw ketika gw masih kecil. Biasanya kalimat ini keluar ketika salah satu dari anak-anaknya ada yang berantem, rebutan mainan. Supaya salah satu anaknya ada yang mau minta maaf duluan, nyokap mancing dengan pepatah itu.

“Mengalah bukan berarti kalah,” said mom. Prinsip itu masih berlaku sampai sekarang. Kadang-kadang kita memang harus tahu kapan saatnya mengalah dan membiarkan sesuatu lepas dari tangan kita, dan itu nggak membuat kita menjadi seseorang yang kalah dalam pertandingan. We’re not losers for doing that.

As much as I believe it, as much as I know that there are some truths in it, menurut gw pernyataan ini cuma berlaku untuk konteks tertentu saja. Contoh, mengalah untuk meminta maaf (lepas dari kita salah atau enggak, just simply having the bigger heart).

‘Mengalah bukan berarti kalah’ ini agak-agak tricky, sepertinya nggak bisa diaplikasikan ke semua area kehidupan. Let’s say you want something/someone so bad, of course I don’t encourage you to just stop putting effort to be THE winner!

Beberapa malam lalu gw ngobrol panjang sama seorang teman yang lagi merantau (halah! :-) ) tentang hal ini, konteksnya adalah tentang relationship (namanya juga dua perempuan ngobrol di malam hari, pasti nggak jauh-jauh dari sini ya topiknya? :-D ), tentang seorang teman yang selalu ‘mengalah’ ketika ada orang lain yang menginginkan orang yang sama dengan dia. Nggak ada salah atau benar sih, kan memang hak segala bangsa untuk ‘tetap mengejar’ atau ‘berhenti mengejar’. Tapi jujur aja, temen gw dan gw malem itu menyimpulkan kalau nggak selamanya kita harus ngalah! Kenapa harus ngalah, kalau memang banyak cara yang bisa dilakukan untuk ngedapetin apa yang elo mau?

Menurut gw, ketika seseorang bilang, “You’re free to go.. if we’re meant to be, nanti juga kita deket lagi,” itu sama sekali nggak ada hubungannya sama pernyataan nyokap gw di awal tulisan ini, karena pernyataan pertama itu jiwanya lebih tentang berbesar hati untuk melakukan sesuatu yang benar, sementara di kasus having/pursuing relationship ini, jiwanya lebih tentang ‘mengalah karena merasa kalah’ atau mungkin ‘orang ini nggak worth having/pursuing’. Kayaknya sih begitu, semoga gw nggak salah :-)

Gw mencoba memposisikan diri sebagai laki-laki nih ya (biar kayak Beyonce dikit yah neik, “If I Were A Boy” gituuu :-p).. kalau dari beribu-ribu temen-temen gw di muka bumi ini bisanya cuma ngisi kepala gw dengan hal-hal complicated dan ribet, ketika gw ketemu seseorang yang bisa membuat gw santai, ngobrol nyambung, anaknya menyenangkan, dan punya semua kriteria yang gw cari, tinggal tunggu momentum yang tepat, I would do anything to get her. Gw nggak akan menyerah ketika gw ngeliat saingan-saingan. I would never ‘ngalah’ in this case, not even expect her to change. “Dia harus lebih nunjukkin kalo dia suka sama gw juga dong,” atau “Dia harus berhenti flirting sama cowok-cowok lain dong,” ataaauuuuu… “Dia nggak seharusnya baik sama semua orang,”… if I really like a person, there is nothing in this world I would want to change, because if they want to change.. they will!

Funny how I talked to these two guys yesterday, on this topic, dan konklusinya bener-bener menarik banget. Note that these two guys bedanya kutub utara dan selatan dalam relationship, yang satu udah pacaran ribuan kali, yang satu lagi belum pernah pacaran (sengaja nih, gw cari dua pendapat dari pihak-pihak yang cukup ekstrim). Both of them said the same thing, menurut mereka nggak ada kebutuhan untuk nggak jadi diri sendiri, kalau pihak sananya emang niat, dia akan mati-matian berjuang untuk dapetin hati lo. Way to go, guys! ;-)

Tadi malam (sebelum gw terbangun dengan sendirinya jam 3 subuh :-( (( hiks!), ketika gw lagi nonton ‘Scrubs’ season 4, CD ke-6, ada cerita soal pasien yang pengen operasi karena nggak pengen diet sehat (taking shortcut) dan Dr. Turk yang lagi pusing nyelametin hubungannya sama Carla. Dr. Kelso, salah satu tokoh yang paling nyebelin (menurut gw) di film itu, ngomong satu hal yang langsung jedaaarrrr, kena banget di gw. He said, “Nothing in this world that is worth having comes easy!” Aaaaah. Agreeee!!!

My thought is very simple, no hidden agenda, it’s plainly logic. When you want something/someone so badly, you will know what to do.. and you will do it.

I hope it’s not just me :-)

What’s In Your Hands?

Hi friends, how are you? I bet you all are good, or at least coping ;-)

Kangen nge-blog nih, cuti seminggu ke Singapore jadi agak ribet kalau harus blogging lewat Blackberry :-) Anyway, kali ini gw mau ngebahas satu hal yang sederhana banget, tapi lately bener-bener membuka mata gw.. masih belajar juga, masih terus mengharapkan ada improvements atau perkembangan yang signifikan untuk perubahan ke arah positive. Semoga aja dengan baca ini juga elo bisa belajar hal yang sama ya…

Sebagai manusia kita memang nggak pernah puas. We want to have it all. Sampai nggak jarang kita jadi ngiri atau sebel sama orang lain, karena kita nggak punya apa yang dia punya. Mungkin untuk beberapa orang, hal ini nggak penting banget, tapi sebenernya ini sangat penting.. ini tuh sebenarnya bagian dari knowing who you are, what you have, and where should you take those that you have in your hands.

Waktu gw cerita ke seorang mentor soal, ‘kenggakpunyaan’ gw, dia cuma tanya satu kalimat, yaitu judul dari posting ini, “What’s in your hands, Laras?” Karena memang hal itu yang seharusnya kita fokusin, kita jaga, kita sayang, kita kembangin.. bukannya menginginkan yang bukan menjadi milik kita.

Contoh paling keren sih mungkin Singapore (secara masih anget banget di otak gw nih hehehe). Waktu jalan-jalan kemarin, tour guide conference gw sempet bilang di bus begini, “Singapore itu nggak punya sumber daya alam yang banyak, oleh karena itu mereka mikir.. kira-kira apa yang bisa kita kembangkan?” Hal pertama yang muncul di benak mereka adalah, MANUSIA. Makanya kalo elo perhatiin, orang-orang Singapore tuh sangat berambisi, hidup excellent, dan lain sebagainya. They think, “Nggak punya sumber daya alam? So what. Kita punya sumber daya manusia.” What a positive attitude. Lihat apa yang ada di tangan lo, bukan yang nggak ada.

Dewi Lestari juga di fiksinya yang berjudul, “Hanya Isyarat” (Recto Verso) menyinggung soal ini, tapi lebih ke area memiliki seseorang/relationship/love. Tapi intinya sama. Lebih baik tau benar dengan apa yang elo punya, dibanding elo nggak ke mana-mana cuma karena mengharapkan sesuatu yang elo tidak punya. There is no harm of wishing and hoping, but we still need to live based on reality.

Now let me ask you this question, what’s in your hands right now? Love it. Develop it. Embrace it. Cultivate it. See it grows.

Counting Down To 13th Of November

Posting ini special gw bikin untuk menyambut datangnya tanggal 13 November 2008, cause on that day I’m turning 26!

Hari Sabtu yang lalu, gw, nyokap dan dua orang pembantu di rumah berniat mau beresin kamar gw yang memang… yaaaaah, lumayan challenging deh :-D

Ini dia ‘kapal pecah’ yang disebabkan sama isi kamar gw:

I don’t know about you, but I’m not a reminiscing type of person, gw nggak terlalu suka nostalgia atau mengingat masa-masa lalu, terutama hal-hal yang nggak terlalu menyenangkan (hahaha), I’m a today’s person. Tapi lucu juga sih waktu pas beres-beres kamar itu, gw menemukan banyak hal-hal lucu dari masa lalu. Yaaaah.. sekali-kali posting di blog ini ngomongin kehidupan gw, nggak papa ya? :-) Itung-itung, kita kenalan lebih jauh lagi…

Pertama, gw nemuin boneka Cookie Monster yang dikasih oleh seorang laki-laki berinisial M ketika gw kuliah di Perth dulu. Ini dia bonekanya:

Percakapan lucu yang terjadi antara gw dan nyokap…

Mom: “Ini boneka bukannya biasanya warna merah ya?” (sambil nunjuk ke Cookie Monster)

Gw: “No, Mom. That’s Elmo.”

:-D

Anyway, gw ternyata dari masih kecil sampai sekarang memang doyan banget baca. Buku-buku di kamar gw ada buanyaaaaak banget.. ini sebagian dari koleksi buku gw yang sempet dikeluarin pertama-tama:

Dan ternyata, gw dari dulu emang banci publikasi. Sewaktu kuliah di Perth dulu, gw pernah gabung di band jazz bernama Wisemensay, sampai akhirnya gw ribut sama bassist-nya, dan gw memutuskan cabut. Setelah cabut, gw sempet bikin band bales dendam beraliran pop-alternative, biasa deh jiwa rebel, sengaja ngambil aliran yang jauh dari jazz. Nama band itu adalah Eleven Hours. Pada suatu hari kita manggung di acara anak-anak Indonesia di Perth, and we were a hit! We made it to a local tabloid. Here are the tabloid’s cover and article:

Kalau kalian udah cukup kenal gw, you guys would know that I’m a vegetarian. Yes, I am. Sudah menuju dua tahun pas minggu depan pas gw ulang tahun tanggal 13 November nanti. Kalau orang tanya, apa sebabnya gw pengen jadi vegetarian, jawabannya cuma satu. HEWAN. Terlalu cinta. Menurut gw, mereka punya hak yang sama untuk hidup. Kalau orang mikir gw baru ujug-ujug jadi vegetarian, tandanya orang itu nggak kenal gw, karena waktu SMU kelas 1, gw sudah jadi vegetarian walau akhirnya berhenti karena nyokap nggak kasih gw bikin keputusan besar dalam hidup, dibawah umur 21 tahun (hahaha). Nih dia newsletter vegetarian dari tahun gw masih SMU:

Nggak cuma hal-hal tadi yang lucu buat diliatin, ternyata dari masih umur 13 tahunan, gw memang sudah suka nulis. Banyak banget cerpen dan cerbung yang gw pernah bikin, ada yang dikirim ke radio, majalah, dan lain sebagainya. Some of the titles were, “Agent Spencer 123″ (don’t know why the heck did I use the name Spencer), “Love Request”, “Sitti Nurbaya” for high school play (script), dan masih buanyak lagi:

Nggak cuma itu, ternyata mendukung fakta banci tampil, waktu SMP di Santa Ursula, gw ikut serta di OSIS. Ini dia list pernyataan gw untuk mencalonkan diri jadi OSIS:

And I did make it. OSIS sie Publikasi. Tuh kan, emang suka publikasi dari dulu juga :-D

Oh yeah, nggak cuma itu, the story still continues…

Gw suka berhubungan sama manusia. See books above? Cuma orang-orang yang bener-bener suka berhubungan sama manusia yang mau baca buku berjudul, “How To Be A People Magnet” :-D Ternyata memang ketertarikan sama area ini sudah ada di darah. Kalau ada orang bilang, “Laras, you’re such a flirt!” Oh well, blame the book :-)

AKHIRNYA, setelah bekerja seharian (hihihi), inilah kamar gw setelah dibersihin.. lapang.. kosong.. dan sangat nyaman :-D

Semoga aja dengan membaca ini, elo ngerasa lebih deket sama gw. I hope I can be a good friend to you, or at least someone who can infuse something positive into your life. Sekarang gantian ya, please tell me one thing about yourself. I want to know you more. Mau comment yang lain juga nggak pa-pa sih :-D

iQuit!

Kemarin malam gw baru nonton film “Magnolia”. Yeah, a bit too late, but still.. scenes film-nya masih nempel di kepala gw sampai sekarang. Sebel banget ngeliat karakter peran Tom Cruise yang gayanya super tengil, stress ngeliat tokoh-tokohnya yang mostly orang depresi, belum lagi hujan kodok yang gw harap nggak akan pernah terjadi di dalam kehidupan gw :-p

Back to ‘tokoh-tokohnya yang mostly orang depresi’, mereka memang orang-orang stress yang seumur hidupnya cuma bisa memendam rasa marah atau rasa kesel, sampai akhirnya numpuk, and finally they wanted to quit it. Kayaknya ‘gampang’ banget untuk mereka nelen pil, ngambil pistol, atau lompat dari gedung bertingkat, in the name of ‘quitting’.

Yah namanya hidup, pasti ada momen di mana kita pengen quit. Capek sama kerjaan, capek karena rutinitas, capek karena banyak pertanyaan-pertanyaan yang nggak terjawab, capek sama urusan relationships, capek harus dealing sama orang-orang yang kerjaannya cuma bikin beban, dan masih banyak jenis-jenis rasa capek yang lainnya. Gw nggak naif, gw juga tau kalau ada jenis-jenis rasa ‘capek’ ekstrim yang mungkin bisa bikin orang pengen ‘quit’ dari kehidupannya. I understand.

Dua hari yang lalu I felt like quitting from this one thing I’ve been entrusted to do. Kalau mau cari short cut, it would be easy for me to say, “I quit, I give up”. Tapi untuk seseorang yang terlalu banyak belajar soal proses ‘letting go that is not mine’, gw tau betul bedanya ‘quitting’ sama ‘letting go’. The former one is very much self-centered, while the latter is not.

‘Letting go’ is when you know that the season is over, you know that what you have right now is better off being done by someone else, and you just know that there is something better in store. While ‘quitting’ is simply wanting to stop doing something just because you don’t want to bear the burdens any longer (or you can’t live with the consequences). Kayaknya gw nggak perlu point it out ya, yang mana yang winner’s attitude, yang mana yang.. umm, loser’s.

If you think I’m being judgmental here, wait until you finish reading this posting. Give me another minute, would you? :-)

Try to say, “I quit” in front of those ladies who don’t know how it feels to just hang out for fun, due to taking care of their mother who’s facing death.

Try to say, “I quit” setelah nonton “Laskar Pelangi”.

Try to say, “I quit” di depan seorang ayah penjual barang bekas yang lagi narik gerobak di bawah terik panas matahari Jakarta. Oh yah, di dalam gerobak itu ada anaknya yang berseragam SD, baru pulang sekolah.

Try to say, “I quit” kepada orang tua lo yang lepas dari segala kekurangan mereka, sudah ngerawat lo dengan keringat. Paling enggak elo masih bisa bernafas, masih bisa punya uang untuk main internet, ngerti yang namanya blog, dan bisa baca posting ini.

Try to say, “I quit” ketika jam 3 subuh elo ngeliat bapak-ibu yang dengan sekuat tenaga mendorong gerobak sayur, siap-siap untuk berjualan di pasar, sementara elo lagi nyetir di mobil lo yang bagus, baru aja pulang clubbing atas nama pelampiasan patah hati, putus cinta.

Try that.

If you find it hard to do so, then you know that quitting costs too much. But if you find it easy, at least you know who you are.

Choose Love

Based on a true story…

“Hi. Remember me?”

“Hmmm. I’m not sure..”

“I’m your ex. We dated a long time ago.”

“Really? We did?”

“Yes. How’s Allan? I’m sure you have made your best call when you decided to leave me.”

“Oh, gosh. I’m sorry. Are you..”

“Yes, it’s Caleb. Guess I have changed a lot until you didn’t recognize me at all.”

“No, it’s not that. You look great.”

“You too. You always do…”

*

“I met him last night!”

“Him.. who?”

“Caleb, my ex! The guy I left for my husband. You know..”

“Ah, him. Yeah, I still remember that smiley-faced-guy, but I can’t seem to remember why you left him though..”

“I loved him so much. The reason was my mom.”

“Your mom didn’t like Caleb?”

“Not that she didn’t like him.. but back then, Allan was filthy rich, while Caleb just started his career.. mom said I would be happier if I marry Allan instead.”

“How in the world did your mother know a lot about Allan and Caleb’s financial conditions? I don’t get it.”

“Ummm. There was this family party where my mom kind of ‘auctioned’ me.”

“SHE DID!? Crazy!!!”

“Yes. Allan bid the highest price and everyone in the room was so impressed, including my mother.”

“So, that’s it? You left Caleb for Allan just for that stupid auction?”

“….”

“And? Are you happy with your marriage with Allan?”

“I thought I would be…”

*

CHOOSE LOVE. ALWAYS CHOOSE LOVE.

Naik Kelas

Menurut gw, manusia itu punya tendensi ingin naik kelas. Mungkin karena bawaan dari lahir, kita adalah makhluk yang punya jiwa juang (kalau yang enggak punya, tandanya ada yang salah!), soalnya kalau dipikir-pikir, kejadian hidup manusia saja sudah dimulai dari sel sperma ayah kita yang berjuang melawan saingan-saingannya yang buanyaaaak itu, dan akhirnya menang, membuahi sel ovum. Betul begitu?

Jadilah kita, makhluk-makhluk yang sukanya naik kelas. Jangan sedih, ini berlaku dalam semua aspek kehidupan, negatif dan positif. Kalau konteksnya positif ya bayangin saja dulu sewaktu kita masih sekolah, siapa sih yang mau tinggal kelas? Jangankan turun, sementara teman-teman yang lain naik dan kita tidak saja pasti rasanya pahit. Sekali lagi, manusia memang tendensinya ingin naik kelas.

Untuk konteks negatif sih mudah, lihat saja kata ‘dosa’. Setelah manusia melakukan kesalahan, biasanya ada dua pilihan, belajar dari kesalahan lalu bertobat atau kembali jatuh ke lubang yang sama. Biasanya, kalau jatuh ke lubang yang sama, kesalahannya semakin besar. Entah kenapa. Mungkin ya karena itu, manusia tendensinya ingin naik kelas, tinggal dipilih saja, mau naik kelasnya ke arah yang negatif atau positif.

Sudah nggak heran ya kalau dengar cerita model begini:

Kenalan dengan orang yang salah – pendekatan dengan orang yang salah – jatuh cinta dengan orang yang salah – jadian dengan orang yang salah – menikah dengan orang yang salah.

Ada kesamaannya dari semua pernyataan di atas, yaitu ‘dengan orang yang salah’, lalu bagian depannya adalah barometernya (naik kelas).

Oh ya, hal ini juga berlaku untuk urusan komitmen, rasa ingin memiliki, nafsu memiliki barang (contoh, belum punya BlackBerry, pengen. Sudah punya, masih pengen ganti BlackBerry Bold :-D ), dan lain sebagainya. Kalau rasa ingin naik kelas ini diaplikasikan ke hal yang tepat, then congratulations! Kalau enggak, ya… selamat sakit hati ya? :-D

Kalau mau dilihat sisi baik dari ‘naik kelas’ ya memang prosesnya. Mau itu negatif atau positif, pasti ada proses belajar yang bisa membuat kita jadi orang yang berbeda. Bedanya, kalau yang positif pasti bayar harganya (walaupun sakit-sakitan) pada akhirnya nanti bikin perasaan enak, sementara kalau yang negatif, bayar harganya cuma bikin rugi diri sendiri.

“Rectoverso”, The Review

Larasati Silalahi
Broadcaster
87.6 Hard Rock FM Jakarta

“Rectoverso”

Gw memang bukan tipe manusia yang rajin melapisi setiap buku dengan sampul plastik. Semua keberadaan buku koleksi gw punya penampilan yang berbeda sesuai dengan ceritanya. Every book has its own story, and this is the story of “Rectoverso”…

Setelah meluangkan lima jam penuh di coffee shop, semata-mata untuk menyelami “Rectoverso”, buku dengan sampul hijau ini akhirnya banyak dilumuri saus dari kue cokelat dan sedikit aroma kopi, persis seperti kesan yang gw dapatkan setelah membaca buah pikiran dan hati seorang Dewi Dee Lestari. Perasaan hati gw jadi acak-acakkan memang, tapi rasanya nikmat.

Gw tertegun karena manisnya “Aku Ada”, menangis karena pahitnya “Firasat”, memejamkan mata karena romantisnya “Peluk”, lalu tersenyum karena harumnya aroma “Rectoverso, Curhat Buat Sahabat”. Memang tidak ada pengalaman yang lebih berharga daripada mengalami proses belajar untuk menghargai cinta melalui sudut pandang yang berbeda-beda. Oleh karena itu kita butuh cermin, supaya tidak melulu berpikir kalau cinta hanya untuk disimpan sendiri, melainkan untuk dibagi.

Harus diakui, gw bukan ahli musik yang bisa mengulas sebuah album. But I really did have a sweet journey during listening to songs like “Aku Ada”, “Malaikat Juga Tahu”, “Selamat Ulang Tahun”, “Grow A Day Older”, and also “Cicak Di Dinding” that brings me back to my childhood era, “Cicak, cicak di dinding..” but this time I also sense maturity, romance, wisdom, and strength.

Sebelas cerita dan sebelas lagu yang ada di dalam buku dan album “Rectoverso”, ditambah dengan serangkaian visual di antaranya, membuat gw terbuai di dalam satu dunia penuh cinta. Magical, bukan picisan.

Kalau boleh memberi pendapat pribadi, “Rectoverso” bisa jadi obat untuk orang-orang yang selalu mengklaim dirinya ‘logis’, bahkan dalam urusan yang menyangkut perasaan, seperti cinta. Kadang-kadang, tidak ada gunanya menjadi sok kuat dan tidak memakai hati. Kadang-kadang memang firasat kita harus lebih main daripada logika. Kadang-kadang kita lebih baik mempercayai apa yang tidak bisa dilihat. Kadang-kadang kita memang harus berhenti mencari kalau semata hanya ingin mengerti. Buat apa memakai (hanya) logika kalau tubuh, jiwa, dan roh tidak sinkron?

Keindahan “Rectoverso” juga terletak pada fakta hibrida-nya, karya ini lebih baik dinikmati bersamaan. Karena kalau tidak, kita bisa tersesat dalam pemikiran atau asumsi sendiri. Sebut saja lagu “Malaikat Juga Tahu”, setelah single-nya diputar di banyak radio ibukota (termasuk di Hard Rock FM :-) ), banyak penikmat musik Dewi Dee Lestari yang sibuk menerka cerita di balik lirik yang sangat jujur itu, tidak sedikit juga yang mengirimkan e-mail dan sms ke gw untuk berdiskusi. Namun gw yakin, ketika kita membaca bukunya, semua imajinasi pribadi langsung luntur sesaat. Tapi hal ini wajar juga ya, mengingat setiap orang pasti punya proyeksi pada dirinya masing-masing. Sekali lagi, itu memang salah satu kegunaan cermin.

Cermin juga berfungsi untuk melihat sisi lain yang selama ini selalu datang berpasangan. Gw suka kutipan kalimat Dewi Dee Lestari pada cerita “Grow A Day Older”, “A perfect chocolate bar should be bitter sweet, not all sweet, and certainly not all bitter, for then you lose all the fun.” Itulah kehidupan, itulah cinta. Ada pahit dan manis, gelap dan terang, siang dan malam, hidup dan mati, dan seterusnya. Itulah “Rectoverso”, bukan untuk dimengerti, tapi untuk dinikmati.

Jadi gimana, siap diacak-acak perasaan hatinya?

« Previous Entries Next Entries »