Go to content Go to navigation Go to search

Bukan Udara, Air, Atau Api

a598971726_1556732_11711
Bohong kalau saya bilang kamu udara
Tanpa kamu, saya masih bernafas
Tidak perlu banyak bertanya
Kamu ada, tanpa saya kerja keras

Kamu juga bukan air
Tanpa kamu, saya masih bisa minum
Masih pakai logika berpikir
Mengasihi walau tidak ranum

Kamu memang bukan api
Tanpa kamu, saya masih merasakan kehangatan
Jelas bukan sumber panas hati
Karena kamu bawa ketenangan

Kamu bergerak
Kamu dinamis
Kamu.. hidup.

Kamu itu seperti angin
Tidak ada, tidak dicari
Ketika ada, digemari
Kamu mampu membuat aku d(ingin)

Kamu itu seperti ombak
Tenang-tenang menghanyutkan
Seringkali sulit ditebak
Mungkin yang tahu cuma Tuhan

Kamu itu seperti lautan api
Karena sangat besar apinya
Yang terbakar tidak lagi merasa sakitnya
Tapi perlahan-lahan mati

Kamu bergerak
Kamu dinamis
Kamu.. hidup.

Si Angin

a598971726_1481135_9250

Bener sih kalo dibilang anak itu hatinya emas…

Hoho… ya btw, emas tuh langka lho.
Emang dasarnya kamu harus mengalami “keemasan” dia kali, hihihihi..

Tapi ya gitu.. masih sayang teman aja :-)
We’ll see :-)

Hhmmmmmmm……..
Biasanya cinta datang dari pertemanan yang dalam. Banyak kesaksian dan the fact yang saya liat..

Hahahaha kita lihat saja bagaimana kelanjutan cerita yang ini ya? :-)
Yang pasti sih, anak itu memang pandai nyuri perhatian.
(Pantas saja selama ini saya tidak melihat dia, memang unsurnya tak terlihat)

Hmmm ok, then I support him, haha!
Btw he is not stealing.. he is TRYING! It’s different.

Udah gitu, penting gitu ya, ke-gap?
From all the people in the world. Why you?

Kata Sy Rogers, nggak ada satu hal pun di dunia ini yang kebetulan!
Semuanya Tuhan yang aturrrr.. wuiiiihhh..
Kenapa juga…?
Kenapa juga…!?

(Perhaps because he’s been there all along?)

You cheeky!

Wuahahaha.. I’m still laughing here.

Hahaha I’m sure you’re having your moment ya.
Dasar!

Just fyi, kalo cowok tuh ya, focusing berarti cuman tutup satu “box” dan fokus ke hal lain, tapi nggak berarti di-eliminate “box” lain yang matters to him. Get it?

Si Lautan Api

a598971726_1556732_1171

Perempuan itu berlari mendekati lautan api yang melahap habis apa saja yang ada di dekatnya.

Saya bilang, “Jangan lari ke arah sana! Bahaya! Kamu bisa terbakar!”

Ia hanya memandangiku dengan tatapan kosong, seperti tidak mempunyai pilihan yang lain.

Saya berdoa di dalam hati, semoga perempuan itu baik-baik saja, banyak orang-orang yang mencintainya, menunggunya pulang ke rumah.

Ia tetap mencoba menerobos puing-puing bangunan yang sudah setengah terbakar. Saya kasihan. Saya lari mendekat ke arahnya, menarik tangannya, dan mencoba berteriak sekuat tenaga, “Untuk apa masuk ke sana? Kamu akan terbakar!!!”

Dia bilang, ada sesuatu yang harus diselamatkan.

Hal apa yang lebih penting dari nyawanya? Saya tidak mengerti. Tangan saya sakit karena dia menepis dengan keras, ditambah lagi panasnya api yang mulai membakar kulit saya.

Perempuan itu berhasil mendorong saya jatuh. Dia menghilang dibalik asap dan lautan api yang semakin membesar. Hal apa yang lebih penting dari nyawanya?

Saya masih tidak mengerti.

Si Ombak

a598971726_1502943_52

Hey you,
I hope this note finds you well.

I’m missing you. I have been missing you since the last time we talked on the phone. Listening to your voice was like a different kind of carnival to the soul. Yeah, it has always been you, the only person who balances me.

Remember when I told you about falling for that guy? You laughed so hard until I hardly could see your eyes. You said, “Congrats, you finally know how to love again,” but I sensed bitterness. Somehow your line sounded cynical. But you congratulated me, you’ve always been a great friend. Oh yeah, by the way, you were right. He didn’t deserve my feelings.

FYI, I am still in a good ‘healthy’ shape. I missed you checking up on me every saturday morning, during my gym session. I also kinda missed those times you paid attention to small things I always got fussy about. The vegetarian snack you gave me that night, that was sweet.

What about those stupid moments we had. The elevator incident, ring a bell? Only a guy like you could make me laugh like that.

I did a lot of thinking, you know. Especially during idle moment such as waiting for my 15 minutes time during sauna (no, I didn’t mean it in a kinky way :-D ), I thought a lot about you. How you always managed to calm me down. How I always sensed the exact same thing every time I was with you. Pardon me, but I sensed that you have so much thoughts and feelings that were deeply buried under your calm and ‘keep-it-all-together’ facade. Only God knows what.

There is something I need to tell you.
Something you might not like.

I think I fell in love (again), with all the wrong reasons and excuses. Okay, now is the time for you to laugh.

Laugh, laugh all you want.

But hey, you have always been there for me, right?
You will always be there to catch me when I fall.

Hey you,
I’m missing.. the friendship. Your sarcastic laughs. How easy that is for you to read my mind. How you treat me like a little princess who ’should know better’.

I know you will always be there to catch me when I fall.

Right now, I would take you in any forms. Poured, sprinkled, or whatever.

Encouragement Builds Hope

samsunghope1
“Discouragement destroys hope.”

I found that line a couple minutes ago, and I was a bit stunned because if we do some words playing, we will come up with different powerful quotes. We can also put it this way, “Encouragement builds hope”, “Discouragement causes hopelessness”, or “Encouragement causes hopefulness”.

Since Samsung Hope voting program (http://samsunghope.org) ends this month, I would like to say thank you to all of my friends who have availed themselves to vote and spent some of their times to read the blog (http://samsunghopeid.org). If you haven’t visited those pages, I encourage you to do so :-)

This is just the beginning, but I believe it’s a beginning of something good. Something that is HOPEFUL. So once again, thank you so much for your ENCOURAGEMENT. Because without encouragement, there is no hope.

Larasati Silalahi
for Samsung Hope

http://samsunghope.org

Sunny day, sweepin’ the clouds away!

n598971726_1964160_2784

Banyak orang suka bertanya, “Kenapa elo masih suka Elmo sih?” Selalu gw jawab, “Karena ada sisi anak-anak dari diri gw yang tidak boleh hilang. The part of me that keeps me sane during my hectic adult life.”

Gw suka bingung lho, kenapa anak jaman sekarang cepat sekali ingin menjadi dewasa. Sepertinya masa kanak-kanak terlalu membosankan, sampai mereka tidak sabar ingin mengenakan sepatu tumit tinggi, lipstick, atau belajar menyetir. Padahal, ketika umur kita sampai ke angka 25, sering sekali merindukan masa anak-anak yang tidak bisa balik lagi.

Kecenderungan ‘ingin cepat tua’ ini juga yang membuat anak-anak jaman sekarang (termasuk di Indonesia) lebih menggemari lagu-lagu orang dewasa daripada lagu-lagu anak-anak. Coba cek, ada berapa banyak penyanyi cilik di Indonesia sekarang, atau mungkin orang-orang dewasa yang menciptakan atau menyanyikan lagu untuk anak-anak? Anak-anak di bangku TK/SD saja sudah sangat fasih menyanyikan lagu-lagu RAN atau bahkan The Click Five. Tidak salah sih, cuma sayang saja. Sebagai orang yang tipenya ‘menikmati musim’, gw sangat percaya kalau kita hidup, jangan hidup di dunia orang lain. Living our life to the fullest. Jadi kalau memang masih berwujud anak-anak, hidupilah dunia anak-anak.

Sewaktu TK di Australia dulu, salah satu hobi gw untuk menikmati visual dan audio adalah dengan menonton Sesame Street (US). Kalau jaman sekarang, program TV musik (edukasi) anak-anak yang ngehits di sana (Nine Network) mungkin Hi-5 (hi5.com), grup penyanyi yang isinya orang-orang dewasa, namun menciptakan dan menyanyikan lagu anak-anak. Acara TV mereka ini sudah disiarkan ke kurang lebih 83 negara-negara di dunia.

Grup musik anak-anak lain yang juga cukup gw kenal adalah The Wiggles (www.thewiggles.com.au), lagi-lagi, mereka adalah band dari Australia (ABC Network) yang terbentuk di Sydney, tahun 1991. Sama seperti Hi-5, The Wiggles banyak mengeluarkan hits lagu anak-anak yang menjadi favorit.

OK, sedikit pengakuan, gw masih suka nonton Hi-5 dan The Wiggles di cable, dan gw selalu merasa refreshed setelah menonton :-) Senang banget melihat anak-anak kecil yang nyanyi bareng sambil lompat-lompat. Tidak jaim. Tidak buru-buru pengen kelihatan ‘cool’. Deep inside my heart I wished that they would stay innocent, at least until their mature seasons come.

Terlalu berlebihan tidak ya kalau gw berharap di Indonesia kita juga punya grup musik macem itu? Anak-anak Indonesia juga bisa menikmati musik sesuai dengan umur mereka, bahkan belajar banyak hal tentang kehidupan – termasuk mempersiapkan diri untuk pelajaran sekolah – lewat musik sejenis itu. Nanti kalau sudah duduk di bangku SD, seperti Wulan dan teman-temannya (http://samsunghopeid.org/wulan/), baru deh bisa dicoba metode-metode menarik lainnya yang sesuai dengan umurnya (http://samsunghopeid.org/beneficiaries/). Thank God for Samsung Hope!

Mungkin mimpi gw terlalu tinggi, mungkin gw sudah tidak terlalu mengerti dunia anak-anak jaman sekarang, tapi gw nggak bisa membuang dunia anak-anak yang akan selalu ada di dalam diri gw.

Seriously, let it be 26 years old, or even 50 years old… I will always remember the lessons through music that I have learned during my childhood (pre-school).

“Sunny Day
Sweepin’ the clouds away
On my way to where the air is sweet

Can you tell me how to get,
How to get to Sesame Street

Come and play
Everything’s A-OK
Friendly neighbors there
That’s where we meet

Can you tell me how to get
How to get to Sesame Street..”

Perempuan Yang Berbagi

sisterhood

Viewpoint – HerWorld February 2009

Tidak mudah untuk bisa mengerti dunia perempuan seutuhnya meskipun Anda bergender sama, belum lagi kalau Anda laki-laki (mencoba membaca majalah ini untuk mengerti cara pikir perempuan), pastinya banyak misteri yang tidak Anda mengerti.

Sedikit pengakuan, sebenarnya saya adalah tipe perempuan yang lebih suka bergaul dengan lawan jenis. Mungkin karena semasa kecil lebih banyak bermain dengan kakak dan adik laki-laki, saya merasa aman apabila ada bersama dengan mereka. Alasan lain? Selama masih remaja, saya sering mengalami masalah dengan kebiasaan-kebiasaan sahabat perempuan yang suka bergosip, memfitnah, dan terlalu gampang iri (ya memang, ketika sudah berumur 26 tahun seperti sekarang, saya sadar kalau laki-laki juga ada yang begitu). Saat itu saya memutuskan untuk tidak membuka diri untuk bersahabat dengan sesama jenis, apalagi membiarkan diri saya mempercayai mereka.

Okay, okay, don’t hate me just yet. Cara pandang saya sekarang sudah diubahkan bersama dengan berjalannya waktu. Ya, memang harus diakui, ada sisi perempuan yang akan selalu menjadi misteri untuk laki-laki, dan ‘kekosongan’ itu hanya bisa diisi oleh sesama perempuan.

Menurut artikel oleh Hara Estroff Marano dari Psychology Today, “Secrets of Married Men” yang mengutip psikiater Scott Haltzman, M.D., rata-rata perempuan berbicara 7.000 kata setiap harinya, sementara laki-laki hanya 2.000 kata. Hal ini juga didukung oleh pernyataan Allan dan Barbara Pease di buku mereka “Why Men Don’t Listen & Women Can’t Read Maps” yang memberikan data yang mirip kisarannya. Hmm.. bisa jadi, itulah alasan mengapa persahabatan antara perempuan seringkali diwarnai dengan sesi bergosip dan curhat. Perempuan lebih banyak bicara juga disebabkan oleh kebutuhan ingin berbagi.

Mungkin itu juga yang menjadi ide dasar dari dibuatnya novel (oleh Anne Brashares) dan film ‘The Sisterhood of The Traveling Pants’, yang memang inti ceritanya tentang kehidupan empat orang perempuan muda yang walaupun terpisah oleh jarak, tetap berbagai kisah lewat sepasang celana jeans (walau sampai sekarang masih menjadi misteri untuk saya, how could one jeans size fits four body types and sizes? Rocket science!).

Sama seperti saya, Anda dan sahabat-sahabat perempuan memiliki satu kesamaan yang akan selalu menjadi benang merah dari setiap persahabatan antara perempuan, yaitu kata ‘berbagi’.

We Share The Need
Kenalan dulu dengan Irene, salah satu sahabat saya yang sangat mengerti urusan kecantikan. Hobinya adalah menata rambut, saat ini dia sedang merintis karirnya sebagai hairstylist di Jakarta dan Perth. Sebenarnya Irene bukan tipe perempuan yang suka menghadiri pesta-pesta yang mengharuskan dia untuk berdandan, namun dia punya sentuhan magis ketika harus berurusan dengan kecantikan wajah dan rambut.

Nah, berbicara soal kecantikan, cuma sesama perempuan yang mengerti kebutuhan untuk berpenampilan maksimal! Iya, memang sih, katanya laki-laki jaman sekarang juga suka dandan, tapi secara general, laki-laki masih tidak mengerti kenapa perempuan menghabiskan berjam-jam hanya untuk berdandan, atau mengkhususkan hari Sabtunya untuk pergi ke salon, sekedar manicure, pedicure, dan spa rambut. Ketika kita dikelilingi sahabat-sahabat perempuan, kita bisa sebebas mungkin membahas kebutuhan-kebutuhan yang paling terdalam sekalipun.

We Share The Language
Berbicara soal bahasa, Anda harus kenal dengan sahabat saya, Tasia. Tasia mewarisi kemampuan dasar seorang perempuan, yaitu multitasking! Terkadang saya terpana melihat dia makan, sambil menyelesaikan pekerjaan kantor, ngobrol dengan beberapa orang, sambil mencoba beberapa pasang sepatu yang baru saja dikeluarkan dari kotak-kotaknya. Hahaha! Perempuan yang satu ini juga sangat berbakat dalam linguistik, suka menulis dan bermain kata-kata.

Kalau Anda tipe orang yang memperhatikan hal-hal detil, pasti Anda sadar kalau kemampuan ini banyak didapati pada perempuan. Kita secara natural lebih mudah mengungkapkan perasaan atau pemikiran lewat rangkaian kata-kata.

Beberapa contoh ungkapan yang sangat mewakili pembicaraan perempuan dengan sahabat-sahabatnya (dan mungkin saja hanya bisa dimengerti oleh sesama perempuan):

Tentang kecantikan:
“Don’t be bitter. It leads to Botox.” (Catherine, ‘The Women’)

Tentang kebutuhan dalam urusan fashion:
“No, please, don’t get me a diamond… get me a really big closet.” (Carrie, ‘Sex & The City’)

Tentang persahabatan:
“To us. Who we were, and who we are. And who we’ll be.” (Bridget, ‘The Sisterhood of The Traveling Pants’)

Dan tentang mengalami patah hati:
“It feels like someone kicked you in the stomach, feels like your heart stopped beating, feels like that dream you know the one when you are falling and you want so desperately to wake up before you hit the ground but its all out of your control, you cant trust anything anymore, no one is who they say they are, your life is changed forever, and the only thing to come out of the whole ugly experience is no one will be able to break your heart like that again.” (Catherine, ‘The Women’)

We Share The Passion
Kenalan yuk dengan sahabat saya, Lala. Kami berdua adalah pemimpi. Kita seringkali bicara sampai pagi hari hanya untuk berbagi mimpi dan passion dalam banyak hal. Salah satu yang menjadi cita-cita kami berdua adalah memajukan kehidupan perempuan, dimulai dengan orang-orang yang ada di sekeliling kami.

Memang, kita bisa berbagi mimpi dan passion kepada siapa saja, namun tidak bisa dipungkiri, ada beberapa jenis impian yang hanya bisa dimengerti oleh sesama perempuan. Kita bisa mengerti karena kita sudah menghidupi keseharian dengan kebiasaan berbagi. Ada mimpi-mimpi yang tidak perlu diperkatakan, namun di dalam hati, kita dan sahabat-sahabat akan selalu tahu.

*

Dengan jujur harus saya akui, kedekatan saya dengan ketiga sahabat sudah teruji lewat banyak hal. Kami pernah melewati masa-masa berat bersama, berargumen dengan satu sama lain, saling tidak menyukai karakter satu sama lain, sampai hal-hal bodoh seperti ‘rebutan’ laki-laki (oops!).

Fakta kami mampu melewati itu semua dalam lebih dari satu dekade justru menjadi bukti solid kalau kami memang diperuntukkan untuk menjadi sahabat bagi satu sama lain.

So be glad if you have your ‘sisters’ around you. Not only we have the privilege to share the need, passion, and language (or even pants?), but moreover, we share the love. (*)

What Did They Teach You?

samsunghope

Selama getaway di Singapore kemarin, gw sempat menghabiskan beberapa waktu untuk santai-santai di depan TV. Nah biasanya, waktu nonton acara-acara kesukaan gw itu (Ellen, Hi-5, dan American Idol), suka muncul nih iklan layanan masyarakat yang dibikin oleh Departemen Pendidikannya Singapore.

Iklan itu sederhana, dimulai dengan pertanyaan (yang ditanyakan kepada beberapa orang) tentang ‘hal apa yang pernah diajarkan oleh guru di masa sekolah yang masih diingat sampai sekarang?’. Jawabannya macam-macam, mulai dari nilai-nilai kehidupan, bagaimana guru-guru mereka berperilaku, sampai ada satu perempuan yang (kurang-lebih) bilang, “The scariest question my teacher always asked us was, ‘what is your passion?’, because I didn’t know the answer.”

Lalu iklan itu dilanjutkan dengan simple encouragement untuk mengajak orang-orang yang memang terpanggil menjadi guru, untuk mulai mengajar dan mengedukasi bangsa mereka.

I know, it’s simple, but it really moved me.

Membuat gw jadi bertanya sama diri sendiri, hal apa yang pernah diajarkan oleh guru gw ketika sekolah, yang sampai sekarang masih gw ingat? Ada banyak. Tapi yang benar-benar mengubah hidup gw adalah kehidupan seorang Bapak Hindra dari SMUK V, yang mengajarkan gw untuk tidak menjadi orang yang ceroboh ketika menghadapi masalah atau situasi genting. Beliau orangnya tenang, dan sangat wise. Selain dari gaya hidupnya yang (juga) positif dan sehat, beliau selalu menjadi panutan gw untuk belajar menjadi orang yang bisa ‘keeping it all together’, bahkan ketika segala sesuatu lagi kacau. Ketika guru-guru lain suka marah dan main bentak, beliau bisa menegur dengan sangat wise, membuat murid-murid tahu salahnya di mana, tapi tidak merasa dihakimi. I think it’s very important for every teacher to have that kind of quality.

Untuk bisa memberikan edukasi yang baik, dibutuhkan guru-guru dengan kualitas yang baik, dan fasilitas yang baik. Oleh karena itu, hal-hal sederhana seperti memberikan pilihan di http://samsunghope.org/ bisa jadi hal yang sangat besar manfaatnya untuk generasi di bawah kita. Kerinduan gw, pada suatu hari nanti, ketika anak-anak kecil itu sudah dewasa, mereka bisa bercerita tentang bagaimana sekolah, guru-guru, dan fasilitas belajar-mengajarnya berhasil membuat mereka menjadi orang yang sukses.

Balik lagi ke iklan layanan masyarakat Singapore tadi, di akhir dari klip tersebut, orang-orang yang sama, yang di awal bercerita soal guru-guru mereka di masa kecil, melanjutkan ceritanya tentang perubahan pada kehidupan mereka karena ajaran si guru. Ada yang sekarang mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang sama kepada anak-anaknya, ada yang akhirnya menjadi seorang pengacara karena gurunya yang selalu bertindak adil, dan si perempuan yang paling takut sama pertanyaan, ‘what’s your passion’ akhirnya menemukan jawaban dari pertanyaan itu.

“My passion is to teach. Now I am also a teacher.” :-)

||

3178022064_f56009f522_m
Creative Commons License photo credit: montillon

Many of us don’t like the word ‘pause’. Especially our gadget-savvy generation, living in a very instant world, everything runs so fast, and when it doesn’t, we think something is wrong.

How many times have we been facing that moment, where we need to make a decision, and we decide to make the fastest decision ever? Sometimes it has nothing to do with urgency, simply because we, as human, want to get over with things instantly.

Too many people rushing into relationships, deciding to get married, choosing jobs, finding schools, without considering consequences, risks, and impacts. We often forget that those things come in a package, and most of the time, those things that are too quickly being made, are too risky to have.

Why don’t we like to pause?

I think it has everything to do with impatience. We think we’re running out of time. We think we know best. We think there is nothing else better than what is in front of our eyes. We don’t want to wait. We simply can’t stand the process that involves PAUSING.

Me, myself, dislike the word ‘pause’. I feel powerless when I have to take a break, consciously knowing that I am on PAUSE and letting things happen the way they should. Even now, after I have decided to pause.. I’m still having questions.

For how long?
What do I have to lose?
Will I miss great things?
If I do miss it, will there any second chances?
How do I stay calm on PAUSE, while I see my friends running around busy deciding things? Making impulsive actions, living their lives dangerously, putting their lives at stake, those are the things that excite me (most of the time).

But you know what, to PAUSE is actually takes a lot of guts. It IS also exciting!
The word ‘pause’ is not a passive word, it’s active. WE MAKE THE DECISION TO PAUSE.

Oh yeah, I have made that decision. It started as something that was very painful, but now I’m (kinda) used to it.

While everybody else rushing to make impulsive decisions, I am just going to PAUSE. Watching them running around, torn apart, breaking to pieces, losing themselves, and I am here..

Resting. Watching. Learning. Guarding. Waiting.

Until THAT day comes, whenever I am ready, the right somebody will come into my PAUSED (||) life and press PLAY (>). Looking forward to that day, but now I am cherishing my today. No FAST FORWARD (>>) needed.

My life is on || and I’m loving it!

Jangan Pintar Doank

kandank-jurank

Kalau ada orang yang bertanya ke orang tua gw tentang keunikkan gw sewaktu masih kecil, pasti keduanya akan bilang hal yang sama.

“Sementara anak-anak kecil lain biasanya minta dibelikan mainan atau dikasih uang jajan ekstra, kalau Laras tuh agak sedikit beda. Setiap mau ditinggal sama Papa Mamanya, dia selalu minta ditinggalin setumpuk kertas sama spidol warna-warni. Buat menggambar, katanya. Anak itu sukanya mojok, menggambar, melukis, atau baca buku saja.”

I used to think I was weird, until I finally came to know myself as a whole being. Bahkan gw tau, sampai sekarang masih banyak orang yang suka bilang kalau gw aneh, selalu tenggelam sama pikiran, dan senang berimajinasi dan berkutat sama hal-hal kreatif. So what, that’s my world :-)

Waktu kecil dulu, ada satu hal yang selalu menjadi impian gw.. yaitu hidup di satu negeri yang isinya kreativitas. Gw bisa bebas nyanyi, nari, gambar, menulis, dan dikelilingi oleh orang-orang yang juga menghargai karya seni. Ternyata impian gw itu sudah diwujudkan oleh seorang laki-laki bernama Dik Doank, yang (jujur saja) baru gw benar-benar ‘kenal’ setelah mendengar soal Kandank Jurank Doank (KJD), satu Komunitas Kreatifitas untuk anak-anak kurang mampu antara usia enam sampai dua belas tahun.

Hari Jumat, 23 Januari 2009 yang lalu, akhirnya gw mendapat kesempatan untuk berkunjung ke KJD bareng teman-teman dari Samsung Electronics Indonesia (SEIN) yang mendukung lewat program CSR-nya – Samsung Hope Indonesia, Think.Web, dan temen-temen baru yang asik-asik orangnya (ihiy, GR pasti lo semua!), mereka adalah Ndoro Kakung, Chika, Ollie, dan Iqbal.

Selain touring keliling KJD, yang ternyata lengkap dengan ruang-ruang kelas (multimedia, fotografi, etc), dan outbond, kita juga menyempatkan diri untuk hadir di salah satu kelas mereka. Gw suka banget melihat anak-anak yang ditantang untuk bisa berpikir kreatif (pintar doang nggak berarti kreatif), menciptakan alat transportasi baru yang bisa dipakai di darat, laut, dan udara. I could see some of them looked excited, and some were clueless :-p

Ketika kelas berlangsung, gw menyempatkan diri untuk ngobrol dengan beberapa orang tua dari anak-anak itu. Menurut beberapa tante di sana, biasanya mereka mengikuti kelas di KJD setelah atau sebelum masuk sekolah, misalnya sekolah pagi, ya ke KJD siang, kalau sekolah siang, ke KJD-nya pagi. Paling enak kalau akhir pekan, lebih ramai, katanya. Gw pribadi sih setuju banget, daripada anak-anak bengong nggak tau mau ngapain, lebih baik waktunya dipakai untuk suatu hal yang berguna dan menyenangkan.

Para orang tua juga bercerita kalau anak-anak dari kelas tari Saman sudah sering mengisi (tampil) di acara-acara kantoran, bahkan acara-acara yang melibatkan kerjasama dengan negara-negara lain. Wow!

Sore itu Mas Dik sempat bertanya, “Berapa banyak keluarga di jaman sekarang masih menempelkan kertas gambar di kulkas atau di tembok rumah?” Gw yakin jawabannya, nggak banyak :-D He really had a good point. Sudah seharusnya orang tua lebih mendorong anak-anaknya untuk berkarya, menghargai apa yang menjadi ide atau imajinasi kreatif mereka karena banyak anak-anak yang mungkin ranking lima besar di sekolahnya, tapi belum tentu memiliki daya imajinasi yang tinggi.

Di akhir dari acara, gw sempet ngobrol singkat dengan Mas Dik sendiri. Sedikit sharing saja tentang gimana senangnya gw ada di sana, melihat anak-anak belajar untuk bisa lebih lagi menyalurkan kreativitas mereka, dan terlebih lagi, melihat salah satu mimpi masa kecil gw yang terwujud berkat adanya orang-orang seperti Mas Dik (juga semua relawan pastinya!).

Mungkin untuk gw sendiri dan beberapa orang lain, kami cukup beruntung bisa mengecap pendidikan di luar negeri yang entah kenapa, sepertinya lebih banyak menekankan untuk berpikir kreatif daripada (kurikulum) yang kita punya di negeri ini. Well, let’s stop complaining and just do our part to give support for the BEST education in our beloved country. Let’s start with the simplest thing, by clicking on this, and take part in the voting process (on any beneficiaries).

Create better futures through our fingers :-)

« Previous Entries Next Entries »