Naik Kelas
Menurut gw, manusia itu punya tendensi ingin naik kelas. Mungkin karena bawaan dari lahir, kita adalah makhluk yang punya jiwa juang (kalau yang enggak punya, tandanya ada yang salah!), soalnya kalau dipikir-pikir, kejadian hidup manusia saja sudah dimulai dari sel sperma ayah kita yang berjuang melawan saingan-saingannya yang buanyaaaak itu, dan akhirnya menang, membuahi sel ovum. Betul begitu?
Jadilah kita, makhluk-makhluk yang sukanya naik kelas. Jangan sedih, ini berlaku dalam semua aspek kehidupan, negatif dan positif. Kalau konteksnya positif ya bayangin saja dulu sewaktu kita masih sekolah, siapa sih yang mau tinggal kelas? Jangankan turun, sementara teman-teman yang lain naik dan kita tidak saja pasti rasanya pahit. Sekali lagi, manusia memang tendensinya ingin naik kelas.
Untuk konteks negatif sih mudah, lihat saja kata ‘dosa’. Setelah manusia melakukan kesalahan, biasanya ada dua pilihan, belajar dari kesalahan lalu bertobat atau kembali jatuh ke lubang yang sama. Biasanya, kalau jatuh ke lubang yang sama, kesalahannya semakin besar. Entah kenapa. Mungkin ya karena itu, manusia tendensinya ingin naik kelas, tinggal dipilih saja, mau naik kelasnya ke arah yang negatif atau positif.
Sudah nggak heran ya kalau dengar cerita model begini:
Kenalan dengan orang yang salah – pendekatan dengan orang yang salah – jatuh cinta dengan orang yang salah – jadian dengan orang yang salah – menikah dengan orang yang salah.
Ada kesamaannya dari semua pernyataan di atas, yaitu ‘dengan orang yang salah’, lalu bagian depannya adalah barometernya (naik kelas).
Oh ya, hal ini juga berlaku untuk urusan komitmen, rasa ingin memiliki, nafsu memiliki barang (contoh, belum punya BlackBerry, pengen. Sudah punya, masih pengen ganti BlackBerry Bold
), dan lain sebagainya. Kalau rasa ingin naik kelas ini diaplikasikan ke hal yang tepat, then congratulations! Kalau enggak, ya… selamat sakit hati ya?
Kalau mau dilihat sisi baik dari ‘naik kelas’ ya memang prosesnya. Mau itu negatif atau positif, pasti ada proses belajar yang bisa membuat kita jadi orang yang berbeda. Bedanya, kalau yang positif pasti bayar harganya (walaupun sakit-sakitan) pada akhirnya nanti bikin perasaan enak, sementara kalau yang negatif, bayar harganya cuma bikin rugi diri sendiri.
- 9 Comments »
- Posted in Live on October 7th, 2008

October 7th, 2008 at 11:31 am
Jadii kamu yang manaa?? Positif atau negatif?
Positif kan ya pastinya…
October 7th, 2008 at 1:17 pm
Ummm… kalo diliat positif dan negatifnya ya bok, kan relatif. Setiap orang punya cara pandang masing-masing kan?
October 9th, 2008 at 9:28 pm
“Kenalan dengan orang yang salah – pendekatan dengan orang yang salah – jatuh cinta dengan orang yang salah – jadian dengan orang yang salah – menikah dengan orang yang salah…”…lagi2x seorang laras menuliskan sesuatu cuil tentang pasangan hidup,..sebuah pernyataan aatau pengalaman pribadi ya…??
lagi pula “proses naik kelas” adalah bukti bahwa manusia adalah mahluk yg punya ambisi dan rasa tdk puas yg terbatas,jadi kalo pun “ketemu org yg salah” lebih krn terlalu buru2x dalam menilai ttg sesuatu dan terlalu byk flirting(hahaha..),bukan krn “proses naik kelas”..
October 9th, 2008 at 11:30 pm
@henrygerson: Semoga positive ya til.. doakaaaan…
@Alda: Ember. Relatif memang, ini kan hanya point of view gw aja.. setiap orang boleh punya pendapat masing-masing kok
@Oi: Hahaha terlalu banyak flirting… GONG banget sih pendapatnya. Nyindir siapa sih? Hehehehe.. btw sekali lagi, beneran deh, just happen ya, semua masalah yang gw perhatikan memang soal relationships, dan banyak relationships failing di depan mata gw. Jadi memang ‘memperhatikan’. Tapi ini bener-bener 100% logika gw aja dalam melihat apa yang ada di mata. Well, nggak mencoba memungkiri, gw juga pernah pacaran sama orang-orang yang salah, itu mungkin bisa jadi penekanan juga sih.. tapi point besarnya justru gw belajar dari hidup selama 26 tahun aja.. hahaha.
October 10th, 2008 at 11:09 am
well…that’s life. terkadang apa yg kita dapat tidak sesui dengan yg kita inginkan. tapi kl dipikir lg ternyata ‘we always want more’. skarang tergantung bagaimana appreciate semua yg sudah kita punya.
October 16th, 2008 at 12:04 pm
Bener juga, bisa juga dikatakan manusia itu gak ada puasnya. kalo dah dapet motor pengen mobil, dapet mobil, pengen yang lebih mewah, trus.. trus.. entah sampe. Ya bener juga itu disebut “naik kelas”. negatifnya.. ingin diilihat berkelas hahahahaha..
Tapi kenapa yach? konteks naik kelas cenderung ke negatif..
kecuali naek kelas beneran (baca: sekolah) atau itu cuma perasaan ku aja? tau dech.. heheheh..
Salam kenal..
lagi dengerin HardRock nich..
suaranya masih serak2 gitu.
cepet sembuh yach.. :p
October 16th, 2008 at 3:41 pm
OktaEndy, thanks for the wishes
Iya nih, suara harus diperbaiki. Hmmm soal negative atau positive-nya sih tergantung si orang yang naik kelasnya, mau dibawa ke mana hidupnya hahahaha.. Kalo tipe-tipe yang belajar dari kesalahan sih harusnya sekali jatuh, terus maunya naik kelas ke arah yang lebih positve yaaaaa…
October 22nd, 2008 at 3:41 pm
Orang yang ngga suka untuk improve, sadly, adalah orang yang sepertinya hidup tapi ternyata mereka ngga bener2 hidup. Why? Because growth is a characteristic that show that a living being is actually alive.
A fool never learns from mistakes. A wise man learns from his mistakes. A wiser man learns from others’ mistakes. But the wisest of all learns from others’ successes.
Jbu.
December 8th, 2008 at 3:31 pm
aduhhh…gimana tuh ras…gw positive dan negative tuh kayanya…..
positivenya yah berdekatan dengan semangat juang gw, kalo negative nya berdekatan dengan sifat gw as a human being yang ngga puas……balance aja kali yah neeekkkkkk!!!