Letting Go Is Easy!
Yang bener? Bukannya Letting go is NOT easy?
Hmm. Tergantung. Prinsip baru gw nih: “Letting go is easy when we have the right understanding of what’s not meant for us.”
Mungkin contoh yang paling gampang adalah soal pekerjaan ya. Misalnya, kita punya satu pekerjaan yang bisa dibilang cukup bagus posisinya, gaji OK, dan di mata orang (termasuk kita), it’s like the best job we could ever have. Tapi ternyata setelah dijalanin, somehow kita tau kalau pekerjaan itu ‘nggak kita’ banget. Dengan kata lain, dengan melulu ngejalanin keseharian dalam lingkup pekerjaan itu, kita menjadi pribadi yang nggak berkembang. Maksudnya, monoton. A total comfort zone.
Berapa banyak sih orang di muka bumi ini yang berani ninggalin comfort zone untuk pergi ke tempat baru yang lebih menantang? Nggak banyak. Karena memang ‘ngelepasin’ yang sudah bagus itu susah. Apalagi kalau hal itu dengan susah payah diraih. Well, just to make you feel better, I have done it. And I survived
Soal letting go ini berlaku dalam segala aspek kehidupan. Dalam pekerjaan, dalam berhubungan dengan teman, atau mungkin sama pasangan kita. Untuk bisa melepas seseorang untuk ‘move on’ seringkali nggak mudah, apalagi kalau orang itu terlihat sempurna di mata kita, atau mungkin sepertinya ‘nggak ada yang lain yang sekeren dia’. Oh, cmon!
Semua keluhan-keluhan itu bisa hilang kalau kita ngerti prinsipnya. Kenapa kita harus let go?
Kalau dengan pacaran sama kita, dia jadi orang yang tidak berkembang, tandanya harus let go.
Kalau dengan bekerja di tempat yang sama bertahun-tahun membuat kita nggak belajar lagi, tandanya harus let go.
Kalau dengan berteman dengan seseorang, kita jadi berubah ke arah yang nggak baik, mungkin tandanya harus let go.
Ingat, prinsipnya. Mengertilah dulu kenapa harus let go. Jadi kalau setelah ‘melepas’, lalu banyak bermunculan pendapat orang, kita nggak akan jadi goyah dan plin plan, karena kita TAU BENAR, kenapa kita lepas hal-hal yang terlihat berharga.
Oh ya, dengan kita letting go sesuatu yang nggak buat kita, sebenarnya kita lagi memberkati orang lain. Pernah denger, “One man’s junk is other man’s treasure?” Mungkin ex kita akan lebih bahagia dengan orang lain. Mungkin posisi pekerjaan atau pelayanan kita akan lebih produktif dengan keberadaan orang lain di sana, dan bukan kita.
OK, sekarang jadi penasaran, apa ukurannya untuk let go of something?
Ukurannya cuma bisa digambarin dengan satu kata. PASSION. Kerja tanpa passion, means nothing. Pelayanan tanpa passion, means nothing. Pacaran tanpa passion, means nothing. Why should we keep nothing?
When the passion is no longer there, you need to question yourself. Is it time to let go?
Oh yeah, I don’t write things that I don’t believe in. So take a good guess on what I’m saying good bye to.. very soon
- 8 Comments »
- Posted in Live on July 26th, 2008

July 31st, 2008 at 8:49 am
Great values…keep spreading the good to the world..i like that!
August 1st, 2008 at 9:45 am
Laras…what a good topic..
berhubung gue baru saja melakoninya , meninggalkan 8 tahun masa berpacaran, gue merasa sangat relieve ketika harus mengambil keputusan move on..
dan hal terbaik adalah, melihat dunia dari sisi yang berbeda setelah itu..gue gak tauk nih gimana ngejelasin kalimat ini..cuman i feel happy aja sekarang..
you go girl ……
August 1st, 2008 at 11:38 pm
Karina, believe me, I know how you feel. Been there, done that. LOL.
The best is yet to come, darling!
August 9th, 2008 at 7:45 pm
Ini bagus!! =)
August 25th, 2008 at 5:26 pm
gw setuju, sama bagian: “Ukurannya cuma bisa digambarin dengan satu kata. PASSION. Kerja tanpa passion, means nothing. Pelayanan tanpa passion, means nothing. Pacaran tanpa passion, means nothing. Why should we keep nothing?”
But how about commitment, Ras? Kalo orang nikah, apa iya passion dan cinta mereka selalu ada? Pernikahan mereka cuma bergantung sama komitmen yg udah mereka buat. Orang pacaran juga gitu, kalo mau end-up di nikah.. mereka enggak bisa segampang itu letting go each other, ketika passion-nya tiba2 ilang.
Mungkin benar tolak ukurnya adalah Passion, tapi yang namanya Passion ketika hilang, bukan lantas jadi pertanda bahwa sesuatu itu bisa dilepas. Harus dicari lagi apakah Passion-nya masih ada, dilihat juga komitmen awalnya gimana. Menyusul konsep berikutnya, the “2nd chance” concept.
August 25th, 2008 at 6:52 pm
That’s why I used the word ‘mengerti’, pengertian orang kan beda satu sama lain, erat hubungannya dengan value.
My personal value sih memang tidak ada kata bercerai dalam pernikahan. Semoga saja tidak akan pernah! Hehe tapi balik ke individu masing-masing.
Sekali lagi, ‘mengerti’ itu butuh proses, bukan impulsif. Kalaupun melepas, alasannya harus masuk di akal dan memang sudah melewati usaha berkomitmen.
Sekali lagi, semua balik ke pribadi masing-masing.
August 25th, 2008 at 8:17 pm
nah, itu yang perlu orang tau.
karena dari bagian yg lo tulis, terkesan, menggampangkan.. untuk bisa letting go of something.
supaya yang baca artikel ini enggak ada yang salah tangkep.
yang paling penting NGERTI. giime five ras!
August 26th, 2008 at 12:25 pm
Five!