Hati-Hati
Selama ini kalau kita dengar kata ‘hati’, mungkin ada dua hal populer yang langsung muncul di pikiran kita. Pertama, hati secara harafiah, alias jantung. Satu lagi pastinya bentuk hati yang biasa kita corat-coret di kertas, ketika lagi iseng (lebih sering terjadi pada gender perempuan?).
Sama seperti kata-kata lain yang sudah terlalu sering dipakai, terkadang artinya bisa bergeser, dan seringkali jadi tidak lagi bermakna. Padahal yang namanya hati, adalah sesuatu yang memiliki kekuatan besar. Powerful. Very, very powerful!
1. Sesungguhnya, apa yang ada di hati, bermula dari pikiran. Percaya, tidak percaya, pikiran kita bisa mengkontrol hati. Kalau diumpamakan hubungan sebab-akibat, pikiran adalah sebab, hati adalah akibat. Apa yang ada dipikiran kita, secara langsung, maupun tidak langsung akan mempengaruhi susana hati. Contoh deh yang paling sederhana, disaat kita bertemu orang yang enak dilihat, mata langsung mengirim signal ke otak, “Lucu juga nih.” Nah, kalau pemikiran itu dilanjutin, bisa jadi suka. Suka itu ada di mana? Di hati.
Makanya, sangat penting untuk kita memiliki pembaharuan pikiran (renewing the minds). Ini juga salah satu alasan kenapa kita perlu mempunyai self-image yang benar. Karena apa yang ada di kepala kita, larinya ke hati. Karena ini juga, hadirlah satu pernyataan hebat, “Happiness is a choice” (Rasa bahagia itu adalah keputusan). Truth is, everything that we feel (hati), always starts with a decision (pikiran).
2. Hati kita bisa tercemar. Oh yes, for sure. Ibaratnya hati itu adalah sebuah ruangan, sangat mungkin sekali dikotori dengan sampah. Kalau mau disambung dengan point nomor satu, pikiran (baca: hati) kita juga bisa dikotori dengan sampah. Kalau kita suka baca, nonton, mengkonsumsi ’sampah’, sangatlah mungkin kalau hati kita juga jadi cemar. Hati-hati dengan fakta ini, karena apapun yang keluar, ditentukan dari apa yang masuk
Jadi kalau ada orang yang sukanya ‘nyampah’ (baca: bikin gosip, hina orang, etc), ada kemungkinan memang pikirannya (sekali lagi, baca: hatinya) juga secara konstan diisi dengan ’sampah’.
Sopan santunnya kalau bertamu, atau mungkin ketika beribadah, adalah melepas sendal atau sepatu. Tujuannya kan selain nilai kesopanan, adalah supaya bakteri dan kuman dari luar tidak perlu dibawa masuk. Sama seperti hati kita, ada ‘bakteri’ dan ‘kuman’ yang tidak perlu dibawa masuk. Bagus kalau cuma masuk, lalu keluar lagi. Gimana kalau masuk, terus tinggal selamanya di hati kita? Rugi bener.
3. Hati kita bisa dijaga. Menyambung point nomor dua, pintar-pintar memilih ya. Belajar untuk mengerti, yang mana yang boleh masuk di hati, yang mana yang tidak. Mungkin kata-kata “jaga hati” sudah terlalu sering dikumandangkan, jadi sepertinya sudah terlalu biasa. Padahal, kalau mau ditanyakan ke diri sendiri, seberapa sering kita jaga hati? Maksudnya, secara ’sadar’ membuat keputusan untuk menjaga hati.
Kalau memang kita sudah segitu pandainya menjaga hati, seharusnya tidak akan jatuh cinta kepada orang yang salah. Kalau memang kita sudah segitu pandainya menjaga hati, mungkin tidak akan menyakiti hati orang lain dengan perkataan atau perbuatan kita. Kalau memang kita sudah segitu pandainya menjaga hati, mungkin tidak akan batal puasa (ehem, hehehe).
4. Hati tidak bisa ‘dicuri’, namun bisa ‘dijajah’. Kalau ada orang pakai istilah ‘mencuri hati’, sebenarnya gw kurang setuju sih. Hati itu tidak bisa ‘dicuri’, orang kita yang mengkontrol, kok. Tapi benar, hati bisa ‘dijajah’. Sama halnya seperti kehidupan bernegara. Negara kita secara fisik tidak akan pernah bisa dicuri (masak mau diangkat, lalu dibawa kabur?), tapi bisa dijajah. Thank God we are free :-p
Begitu juga dengan hati. Yang ‘menjajah’ bisa jadi tidak berwujud manusia (seringkali sih manusia ya? Aaaw!), dan semoga saja bukan setan (Hahaha), tapi bisa saja nilai-nilai yang salah. Rasa iri, dengki, amarah, dendam, cemburu, rakus, dan lain sebagainya. Hal-hal itu bisa saja ‘menjajah’ hati kita. Pertanyaannya sih cuma satu, berapa lama mau ‘dijajah’?
Gw pribadi, suka sekali dengan dua kata ini: anugerah (grace) dan pengampunan (forgiveness). Untuk bisa ‘merdeka’ dari ‘penjajahan’, kita butuh dua hal itu.
5. Hati kita adalah sumber kehidupan. Enough said. Gw yakin elo tahu apa yang gw maksud di sini
Coba yuk kita refleksi ke diri sendiri, tanya begini: “Kehidupan macam apa yang kita mau?” Jawabannya akan menentukan usaha apa yang perlu dilakukan. Kalau sudah tahu apa itu, coba balik lagi ke point nomor satu.
“Guard your heart with all diligence, from out of it are the sources of life.” (Proverbs 4:23)
- 5 Comments »
- Posted in Learn on September 1st, 2008

September 1st, 2008 at 10:51 pm
well said there…
kaya pernah dgr tuh point di no.1 di radio.. “Happiness is a choice” (Rasa bahagia itu adalah keputusan). Truth is, everything that we feel (hati), is started with a decision (pikiran).” hmmm rupanya moto elu ya ras?! hehehehe =)
yup setujuuuuuuu……
semua di kontrol sama otak kita (like it or not)… jadi klo kita choose to be positif we will have a positif life also… (i totally support this, in fact one of my motto is always to think positif)
well ras the question is…. g kadang2 mikir klo semuanya dari pikiran(hati) kita, kapan The Mighty One take His stand?! ato ini case yang beda ya?! hmmm ada pstr SM nga ya?! sorry klo jadi curhat nih….
September 1st, 2008 at 10:54 pm
WOW!
nancep ke pikiran dan hati..
good posting at perfect timing!
September 1st, 2008 at 11:06 pm
Samuel: Grace and forgiveness. Terjawabkah?
September 2nd, 2008 at 6:29 pm
Boleh ikutan komen ga?
I really like this posting!
setuju soal anugerah dan pengampunan.. Kita hidup krn anugerah dr Tuhan. Tp suka ga sadar dgn anugerah itu sdiri,akhirnya jd sombong dan belagu deh. Trus,sering bgt tuh kita sbg manusia lupa utk mengampuni,jadinya sakit hati dan timbul akar pahit,yg pastinya menimbulkan penyakit.. Jd klo mau hidup yg bebas dari kesakit-hatian, hrs selalu bersyukur dan mau memaafkan sesama kita..
September 2nd, 2008 at 10:09 pm
ok ras.. gw dah baca extended version fb Henry haha..
and comes @ d’right time 
love it !
thanks 4 sharing this.. this is so true
thx being such an inspiration, girl