Go to content Go to navigation Go to search

Exposed!

Hari ini di kantor ada ngumpul-ngumpul nggak penting karena masih jam makan siang, ditambah lagi AC studio lagi bermasalah, jadilah kita semua berkumpul di ruang produser.

Cerita bermula dari Dinda yang tiba-tiba ngebuka situs berita selebriti lokal yang menurut gw agak kurang penting (situsnya, bukan Dinda-nya yaaa :-) ). Berita yang pertama kita baca bareng (Dinda membaca dengan suara lantang untuk kita semua, lebih tepatnya) adalah tentang seorang selebriti perempuan yang ke-gap polisi lagi make narkoba. Right.

Berita kedua yang kita baca bareng adalah, gimana perempuan yang tadi memakai narkoba, terlihat tertidur di pojokkan penjara (semakin nggak penting).

Lalu kita ngobrolin gimana salah satu selebriti lokal masuk situs gossip cuma karena kepeleset dan kebetulan latah jorok. DIBAHAS. Hal kayak gituan dibahas. Gosh.

Mungkin segitu nggak enaknya punya hidup yang disorot sama banyak orang ya. Hal kecil aja jadi bahan omongan. Setau gw, banyak orang-orang lain yang juga suka latah, ngomong jorok, gemukkan, kurusan, jelekkan, cakepan, tapi nggak jadi sorotan publik dan nggak dikomentarin. Kenapa ketika si selebriti lokal itu yang melakukan, langsung heboh di bahas di mana-mana. In a way, I pity them. Pasti nggak enak punya kehidupan yang nyaris nggak ada privacy sama sekali.

Suka banget bagian dari “Catatan Dewi Lestari” ketika dia bilang:

Di dunia di mana seorang martir selalu memperoleh citra istimewa, apa yang saya ungkap barangkali terdengar egois. Sama seperti narasi yang kerap digaungkan infotainment, yang berbicara soal kebahagiaan anak bernama Keenan dan “hatinya yang terkoyak karena keegoisan ayah-bundanya”, seorang anak yang tidak mereka kenal sama sekali tapi mereka berbicara seolah bisa menembus ke dalam hatinya.”

For real. I think she got her point. If you want to read more of these hilarious stuff, check this out.

Menurut gw, semua orang punya hak yang sama untuk hidup, jadi dirinya sendiri, dan nggak merasa terkungkung atau jadi berasa terbeban karena cara pikir orang lain yang nggak sejalan. After all, if how you see things different from others, so what? Have an open mind and appreciate others as you want to be appreciated!

If you ask me, personally I don’t want to have an exposed life. Kalau pun kehidupan gw akan dilihat orang, I wish they really see me for who I am, but if people can’t see the real me, it is no longer my problem.

I am who I am. A girl who…

Hates onion, pickles and olives in her food.

Thinks animal has the same right to live.

Doesn’t smoke and calls herself a vegetarian.

Loves to party but hates the fact that her eyes always got red after clubbing.

Only allows herself to bed after a shower.

Has ambitions, yet not ambitious.

A girl who does what she says, says what she thinks, thinks what she feels, and feels what she does.

Love me? Hate me? Your call.

That’s why I got rid of my shoutbox, I don’t need to read stupid comments, nor having anybody feeling forced to visit my blog. Mau dipanggil autis kek, terserah. I just think that everyone has the same rights to write anything that is in their minds, and of course, the exact privilege is also given to me. Kalau teman-teman suka mampir ke sini dan merasa terinspirasi, then it’s a bonus.

So as for you, who happened to always visit my blog and kept writing stupid words, I have one question for you. If you hate me so much, why are you still here reading my blog?

6 Responses to “Exposed!”

  1. Rama Says:

    Blogsphere is a free world. Kita bebas menulis, orang lain juga bebas untuk ber-komentar. Tapi kan Blog adalah milik pribadi, jadi ya suka-suka kita mau ada apa didalam nya, suka-suka mau apa aja yang muncul.

    On other side, everything is traceable in internet media. Jadi kalo pingin tahu siapa sih yang suka ‘nyampah’ kita bisa dengan mudah nya nge-trace. Tapi mungkin waktu kita lebih berguna dibanding melakukan hal itu.

    Being Anonymous itu hal jaman dulu banget di online media, jadi kalo ada yang leave a message and being anonymous berarti udah keliatan betapa terbelakang nya dia kan.

    One last thing, expose nya artis-artis di Indonesia kayaknya masih lebih sopan dibanding artis-artis diluar. Tapi bedanya orang Indonesia belum bisa menciptakan pilihan-pilihan yang banyak dan baik, dan yang memilih juga akhirnya memilih itu-itu aja.

  2. Laras Silalahi Says:

    Good (and very analytical) comments! :-)

  3. karinasaputri Says:

    heheheh…kan kan ada pepatah tuh anjing mengonggong kafilah tetap berlalu, biarinin aja orang mo ngomong apa, tapi sejauh gue baca blog lo, it’s always inspiring, always….

    so, ke blogging sistah ;)

  4. sasha Says:

    betulllll… ada pepatah sangat2 jadul kan ‘’sirik tanda tak mampu!!”

    gpp cii, makin digosipin makin beken, dan makin beken makin banyak yang sirik, dan makin banyak yang sirik makin keliatan kualitasnya. LOL.

  5. winda Says:

    hahha… gue dapet link-nya dewi itu dari temen gue few days ago, ras. Hilarious beneran, gue ngakak mampus di kantor hahahha….

    gue setuju, jadi seleb kayanya susah banget, dia ngapa2in di judge orang. Gue inget banget pas glen ama dewi sandra merit dan gak ngondang infotainment, ada satu infotaiment, yang gak sengaja gue tonton (seriously, i dont like them. Dan gue emang lebih suka denger hrfm daripada ntn tipi :D ), who spent their 30minutes judging the couple and saying harsh things like, “dia kan terkenal karena kita” etc, etc. I was like, come on dude, yang namanya orang mo merit mah terserah dia dong mo ngondang sapa. Just becos they’re a celebrity doesnt mean they have to invite infotainment. Gimanapun, namanya juga holy matrimony bukan?

    btw, gue juga gak suka shalots, onion, celery, dan berbagai macam bawang2an itu. And since i also dont eat chicken, biasanya tukang bubur ayam suka jadi kasian klo ngerjain pesenan gue hahaha….

  6. Larasati Silalahi Says:

    Hahaha.. funny comments indeed, Winda! Thanks for dropping by ;-) Btw I have approved you on my Facebook! Let’s start poking!!! Hehehehe…

Leave a Reply