Go to content Go to navigation Go to search

Worth Having, Worth Pursuing

Ada satu pepatah yang diajarin sama nyokap gw ketika gw masih kecil. Biasanya kalimat ini keluar ketika salah satu dari anak-anaknya ada yang berantem, rebutan mainan. Supaya salah satu anaknya ada yang mau minta maaf duluan, nyokap mancing dengan pepatah itu.

“Mengalah bukan berarti kalah,” said mom. Prinsip itu masih berlaku sampai sekarang. Kadang-kadang kita memang harus tahu kapan saatnya mengalah dan membiarkan sesuatu lepas dari tangan kita, dan itu nggak membuat kita menjadi seseorang yang kalah dalam pertandingan. We’re not losers for doing that.

As much as I believe it, as much as I know that there are some truths in it, menurut gw pernyataan ini cuma berlaku untuk konteks tertentu saja. Contoh, mengalah untuk meminta maaf (lepas dari kita salah atau enggak, just simply having the bigger heart).

‘Mengalah bukan berarti kalah’ ini agak-agak tricky, sepertinya nggak bisa diaplikasikan ke semua area kehidupan. Let’s say you want something/someone so bad, of course I don’t encourage you to just stop putting effort to be THE winner!

Beberapa malam lalu gw ngobrol panjang sama seorang teman yang lagi merantau (halah! :-) ) tentang hal ini, konteksnya adalah tentang relationship (namanya juga dua perempuan ngobrol di malam hari, pasti nggak jauh-jauh dari sini ya topiknya? :-D ), tentang seorang teman yang selalu ‘mengalah’ ketika ada orang lain yang menginginkan orang yang sama dengan dia. Nggak ada salah atau benar sih, kan memang hak segala bangsa untuk ‘tetap mengejar’ atau ‘berhenti mengejar’. Tapi jujur aja, temen gw dan gw malem itu menyimpulkan kalau nggak selamanya kita harus ngalah! Kenapa harus ngalah, kalau memang banyak cara yang bisa dilakukan untuk ngedapetin apa yang elo mau?

Menurut gw, ketika seseorang bilang, “You’re free to go.. if we’re meant to be, nanti juga kita deket lagi,” itu sama sekali nggak ada hubungannya sama pernyataan nyokap gw di awal tulisan ini, karena pernyataan pertama itu jiwanya lebih tentang berbesar hati untuk melakukan sesuatu yang benar, sementara di kasus having/pursuing relationship ini, jiwanya lebih tentang ‘mengalah karena merasa kalah’ atau mungkin ‘orang ini nggak worth having/pursuing’. Kayaknya sih begitu, semoga gw nggak salah :-)

Gw mencoba memposisikan diri sebagai laki-laki nih ya (biar kayak Beyonce dikit yah neik, “If I Were A Boy” gituuu :-p).. kalau dari beribu-ribu temen-temen gw di muka bumi ini bisanya cuma ngisi kepala gw dengan hal-hal complicated dan ribet, ketika gw ketemu seseorang yang bisa membuat gw santai, ngobrol nyambung, anaknya menyenangkan, dan punya semua kriteria yang gw cari, tinggal tunggu momentum yang tepat, I would do anything to get her. Gw nggak akan menyerah ketika gw ngeliat saingan-saingan. I would never ‘ngalah’ in this case, not even expect her to change. “Dia harus lebih nunjukkin kalo dia suka sama gw juga dong,” atau “Dia harus berhenti flirting sama cowok-cowok lain dong,” ataaauuuuu… “Dia nggak seharusnya baik sama semua orang,”… if I really like a person, there is nothing in this world I would want to change, because if they want to change.. they will!

Funny how I talked to these two guys yesterday, on this topic, dan konklusinya bener-bener menarik banget. Note that these two guys bedanya kutub utara dan selatan dalam relationship, yang satu udah pacaran ribuan kali, yang satu lagi belum pernah pacaran (sengaja nih, gw cari dua pendapat dari pihak-pihak yang cukup ekstrim). Both of them said the same thing, menurut mereka nggak ada kebutuhan untuk nggak jadi diri sendiri, kalau pihak sananya emang niat, dia akan mati-matian berjuang untuk dapetin hati lo. Way to go, guys! ;-)

Tadi malam (sebelum gw terbangun dengan sendirinya jam 3 subuh :-( (( hiks!), ketika gw lagi nonton ‘Scrubs’ season 4, CD ke-6, ada cerita soal pasien yang pengen operasi karena nggak pengen diet sehat (taking shortcut) dan Dr. Turk yang lagi pusing nyelametin hubungannya sama Carla. Dr. Kelso, salah satu tokoh yang paling nyebelin (menurut gw) di film itu, ngomong satu hal yang langsung jedaaarrrr, kena banget di gw. He said, “Nothing in this world that is worth having comes easy!” Aaaaah. Agreeee!!!

My thought is very simple, no hidden agenda, it’s plainly logic. When you want something/someone so badly, you will know what to do.. and you will do it.

I hope it’s not just me :-)

Counting Down To 13th Of November

Posting ini special gw bikin untuk menyambut datangnya tanggal 13 November 2008, cause on that day I’m turning 26!

Hari Sabtu yang lalu, gw, nyokap dan dua orang pembantu di rumah berniat mau beresin kamar gw yang memang… yaaaaah, lumayan challenging deh :-D

Ini dia ‘kapal pecah’ yang disebabkan sama isi kamar gw:

I don’t know about you, but I’m not a reminiscing type of person, gw nggak terlalu suka nostalgia atau mengingat masa-masa lalu, terutama hal-hal yang nggak terlalu menyenangkan (hahaha), I’m a today’s person. Tapi lucu juga sih waktu pas beres-beres kamar itu, gw menemukan banyak hal-hal lucu dari masa lalu. Yaaaah.. sekali-kali posting di blog ini ngomongin kehidupan gw, nggak papa ya? :-) Itung-itung, kita kenalan lebih jauh lagi…

Pertama, gw nemuin boneka Cookie Monster yang dikasih oleh seorang laki-laki berinisial M ketika gw kuliah di Perth dulu. Ini dia bonekanya:

Percakapan lucu yang terjadi antara gw dan nyokap…

Mom: “Ini boneka bukannya biasanya warna merah ya?” (sambil nunjuk ke Cookie Monster)

Gw: “No, Mom. That’s Elmo.”

:-D

Anyway, gw ternyata dari masih kecil sampai sekarang memang doyan banget baca. Buku-buku di kamar gw ada buanyaaaaak banget.. ini sebagian dari koleksi buku gw yang sempet dikeluarin pertama-tama:

Dan ternyata, gw dari dulu emang banci publikasi. Sewaktu kuliah di Perth dulu, gw pernah gabung di band jazz bernama Wisemensay, sampai akhirnya gw ribut sama bassist-nya, dan gw memutuskan cabut. Setelah cabut, gw sempet bikin band bales dendam beraliran pop-alternative, biasa deh jiwa rebel, sengaja ngambil aliran yang jauh dari jazz. Nama band itu adalah Eleven Hours. Pada suatu hari kita manggung di acara anak-anak Indonesia di Perth, and we were a hit! We made it to a local tabloid. Here are the tabloid’s cover and article:

Kalau kalian udah cukup kenal gw, you guys would know that I’m a vegetarian. Yes, I am. Sudah menuju dua tahun pas minggu depan pas gw ulang tahun tanggal 13 November nanti. Kalau orang tanya, apa sebabnya gw pengen jadi vegetarian, jawabannya cuma satu. HEWAN. Terlalu cinta. Menurut gw, mereka punya hak yang sama untuk hidup. Kalau orang mikir gw baru ujug-ujug jadi vegetarian, tandanya orang itu nggak kenal gw, karena waktu SMU kelas 1, gw sudah jadi vegetarian walau akhirnya berhenti karena nyokap nggak kasih gw bikin keputusan besar dalam hidup, dibawah umur 21 tahun (hahaha). Nih dia newsletter vegetarian dari tahun gw masih SMU:

Nggak cuma hal-hal tadi yang lucu buat diliatin, ternyata dari masih umur 13 tahunan, gw memang sudah suka nulis. Banyak banget cerpen dan cerbung yang gw pernah bikin, ada yang dikirim ke radio, majalah, dan lain sebagainya. Some of the titles were, “Agent Spencer 123″ (don’t know why the heck did I use the name Spencer), “Love Request”, “Sitti Nurbaya” for high school play (script), dan masih buanyak lagi:

Nggak cuma itu, ternyata mendukung fakta banci tampil, waktu SMP di Santa Ursula, gw ikut serta di OSIS. Ini dia list pernyataan gw untuk mencalonkan diri jadi OSIS:

And I did make it. OSIS sie Publikasi. Tuh kan, emang suka publikasi dari dulu juga :-D

Oh yeah, nggak cuma itu, the story still continues…

Gw suka berhubungan sama manusia. See books above? Cuma orang-orang yang bener-bener suka berhubungan sama manusia yang mau baca buku berjudul, “How To Be A People Magnet” :-D Ternyata memang ketertarikan sama area ini sudah ada di darah. Kalau ada orang bilang, “Laras, you’re such a flirt!” Oh well, blame the book :-)

AKHIRNYA, setelah bekerja seharian (hihihi), inilah kamar gw setelah dibersihin.. lapang.. kosong.. dan sangat nyaman :-D

Semoga aja dengan membaca ini, elo ngerasa lebih deket sama gw. I hope I can be a good friend to you, or at least someone who can infuse something positive into your life. Sekarang gantian ya, please tell me one thing about yourself. I want to know you more. Mau comment yang lain juga nggak pa-pa sih :-D

Choose Love

Based on a true story…

“Hi. Remember me?”

“Hmmm. I’m not sure..”

“I’m your ex. We dated a long time ago.”

“Really? We did?”

“Yes. How’s Allan? I’m sure you have made your best call when you decided to leave me.”

“Oh, gosh. I’m sorry. Are you..”

“Yes, it’s Caleb. Guess I have changed a lot until you didn’t recognize me at all.”

“No, it’s not that. You look great.”

“You too. You always do…”

*

“I met him last night!”

“Him.. who?”

“Caleb, my ex! The guy I left for my husband. You know..”

“Ah, him. Yeah, I still remember that smiley-faced-guy, but I can’t seem to remember why you left him though..”

“I loved him so much. The reason was my mom.”

“Your mom didn’t like Caleb?”

“Not that she didn’t like him.. but back then, Allan was filthy rich, while Caleb just started his career.. mom said I would be happier if I marry Allan instead.”

“How in the world did your mother know a lot about Allan and Caleb’s financial conditions? I don’t get it.”

“Ummm. There was this family party where my mom kind of ‘auctioned’ me.”

“SHE DID!? Crazy!!!”

“Yes. Allan bid the highest price and everyone in the room was so impressed, including my mother.”

“So, that’s it? You left Caleb for Allan just for that stupid auction?”

“….”

“And? Are you happy with your marriage with Allan?”

“I thought I would be…”

*

CHOOSE LOVE. ALWAYS CHOOSE LOVE.

“Rectoverso”, The Review

Larasati Silalahi
Broadcaster
87.6 Hard Rock FM Jakarta

“Rectoverso”

Gw memang bukan tipe manusia yang rajin melapisi setiap buku dengan sampul plastik. Semua keberadaan buku koleksi gw punya penampilan yang berbeda sesuai dengan ceritanya. Every book has its own story, and this is the story of “Rectoverso”…

Setelah meluangkan lima jam penuh di coffee shop, semata-mata untuk menyelami “Rectoverso”, buku dengan sampul hijau ini akhirnya banyak dilumuri saus dari kue cokelat dan sedikit aroma kopi, persis seperti kesan yang gw dapatkan setelah membaca buah pikiran dan hati seorang Dewi Dee Lestari. Perasaan hati gw jadi acak-acakkan memang, tapi rasanya nikmat.

Gw tertegun karena manisnya “Aku Ada”, menangis karena pahitnya “Firasat”, memejamkan mata karena romantisnya “Peluk”, lalu tersenyum karena harumnya aroma “Rectoverso, Curhat Buat Sahabat”. Memang tidak ada pengalaman yang lebih berharga daripada mengalami proses belajar untuk menghargai cinta melalui sudut pandang yang berbeda-beda. Oleh karena itu kita butuh cermin, supaya tidak melulu berpikir kalau cinta hanya untuk disimpan sendiri, melainkan untuk dibagi.

Harus diakui, gw bukan ahli musik yang bisa mengulas sebuah album. But I really did have a sweet journey during listening to songs like “Aku Ada”, “Malaikat Juga Tahu”, “Selamat Ulang Tahun”, “Grow A Day Older”, and also “Cicak Di Dinding” that brings me back to my childhood era, “Cicak, cicak di dinding..” but this time I also sense maturity, romance, wisdom, and strength.

Sebelas cerita dan sebelas lagu yang ada di dalam buku dan album “Rectoverso”, ditambah dengan serangkaian visual di antaranya, membuat gw terbuai di dalam satu dunia penuh cinta. Magical, bukan picisan.

Kalau boleh memberi pendapat pribadi, “Rectoverso” bisa jadi obat untuk orang-orang yang selalu mengklaim dirinya ‘logis’, bahkan dalam urusan yang menyangkut perasaan, seperti cinta. Kadang-kadang, tidak ada gunanya menjadi sok kuat dan tidak memakai hati. Kadang-kadang memang firasat kita harus lebih main daripada logika. Kadang-kadang kita lebih baik mempercayai apa yang tidak bisa dilihat. Kadang-kadang kita memang harus berhenti mencari kalau semata hanya ingin mengerti. Buat apa memakai (hanya) logika kalau tubuh, jiwa, dan roh tidak sinkron?

Keindahan “Rectoverso” juga terletak pada fakta hibrida-nya, karya ini lebih baik dinikmati bersamaan. Karena kalau tidak, kita bisa tersesat dalam pemikiran atau asumsi sendiri. Sebut saja lagu “Malaikat Juga Tahu”, setelah single-nya diputar di banyak radio ibukota (termasuk di Hard Rock FM :-) ), banyak penikmat musik Dewi Dee Lestari yang sibuk menerka cerita di balik lirik yang sangat jujur itu, tidak sedikit juga yang mengirimkan e-mail dan sms ke gw untuk berdiskusi. Namun gw yakin, ketika kita membaca bukunya, semua imajinasi pribadi langsung luntur sesaat. Tapi hal ini wajar juga ya, mengingat setiap orang pasti punya proyeksi pada dirinya masing-masing. Sekali lagi, itu memang salah satu kegunaan cermin.

Cermin juga berfungsi untuk melihat sisi lain yang selama ini selalu datang berpasangan. Gw suka kutipan kalimat Dewi Dee Lestari pada cerita “Grow A Day Older”, “A perfect chocolate bar should be bitter sweet, not all sweet, and certainly not all bitter, for then you lose all the fun.” Itulah kehidupan, itulah cinta. Ada pahit dan manis, gelap dan terang, siang dan malam, hidup dan mati, dan seterusnya. Itulah “Rectoverso”, bukan untuk dimengerti, tapi untuk dinikmati.

Jadi gimana, siap diacak-acak perasaan hatinya?

You Remind Me

Setuju nggak kalo gw bilang, di muka bumi ini banyak orang yang mirip? Iya, memang kalo dibilang mirip itu nggak berarti secara fisik, plek plek mereka mirip. Tapi pasti ada deh di kehidupan kita orang-orang yang punya kharisma sama, sebut saja misalnya X dan Y.

X and Y create the same feeling when they’re around you. The way they make you feel, think or do things, are simply similar, karena somehow, they just have the same ‘it’.

Sebenarnya hal-hal kayak begini sih bisa dibilang hal bagus, unik aja. Cuma ya, bisa jadi masalah kalau hal ingat-mengingat ‘orang lain’ ini bisa menimbulkan perasaan yang beda.

Berapa kali gw denger temen-temen gw cerita, “Gw jadian sama dia karena dia mirip banget sama ex gw, Ras.” Now that’s just wrong.

Kasihan aja sih yang jadi pacarnya itu, dia datang membawa kharisma yang sama, bikin pasangannya merasakan hal yang sama, tapi di benak pasangannya, sebenarnya bukan dia.

Sama kaya satu pertanyaan yang pernah gw lempar ke Hard Rockers waktu siaran di Drive n Jive, “Which one is better, your loved one being with you but thinking about someone else, or your loved one being with someone else but thinking about you?”

Walau saat itu gw ngotot bilang, setuju sama yang pertama, karena gw percaya banget bisa bikin orang itu jatuh cinta sama gw, memang sih dua keadaan itu nggak menguntungkan sama sekali. For both parties.

Intinya, jangan suka atau sebel sama seseorang cuma karena dia mirip seseorang.

Never put anyone under someone else’s shadow. The reason I’m saying this is simple, everyone wants to be seen as they really are.

iPhone or BlackBerry? No, It’s Not A Gadget Talk!

Cerita ini dimulai dari siaran Drive n Jive tadi sore bersama Iwet Ramadhan, ketika dia membuat satu pernyataan yang cukup tajam (well, he always does that every now and then, hahaha).

“Ras, kalau gw liat-liat ya, channels elo tuh banyak banget. Kenalan lo di mana-mana, jauh lebih banyak dari perempuan-perempuan pada umumnya. Kalo lo masih single sampe sekarang, itu lucu lho.”

I said to him (on air), it’s simply because I know what I’m looking for. Masalahnya begini (ini juga yang gw pelajarin belakangan ini), seberapa sering kita merasa kita tahu apa yang kita mau, ternyata hal tersebut bukan apa yang kita perlu.

Sama kayak milih iPhone atau BlackBerry deh. Kalo mikirin looks dan berpegang teguh sama tipe, gw akan dengan mudah membeli iPhone karena hampir semua gadget yang gw pakai, punya label Apple dan gw cinta mati sama tampilan produk Apple. But I chose BlackBerry, and I think that was one of the best decisions I have ever made in life (seriously, I haven’t really made too many great decisions in life :-D ).

Secara fungsi, BlackBerry itu bener-bener JUST RIGHT untuk gw. Buat orang lain mungkin iPhone lebih cocok. Nggak masalah.

Sama seperti nyari pasangan hidup (No, I’m not trying to compare human beings to communication tools, but I really couldn’t find a better example), terkadang kita punya list kriteria yang sebegitu panjangnya, padahal ketika ketemu orang yang seperti itu, ‘fungsi’ yang kita harapkan nggak ada! Kalau handphone sih enak, bisa dijual, tuker tambah, atau buang. Kalau wujudnya manusia yang sudah dinikahin, apa kabar tuh?

Salah satu quote yang gw suka bilang begini, “Be careful with what you wish for.” Hati-hati kalau pengen sesuatu. Mau pasangan yang cakep, kaya, lucu, badan keren, pinter, jago dandan, speaks english well, bisa nyambung sama orang baru, and the list goes on. Yakin mau sama yang segitu sempurnanya? Biasanya tipe yang seperti itu, orangnya suka eksistensi. Banyak temen, disukain sama semua orang, termasuk mungkin ditaksir sama banyak orang lain. Nggak takut cemburu?

Ringga Ardianto pernah bilang ke gw, “Nyari pasangan itu kayak lo belanja baju. Bukan badan lo yang dipaksain pas, tapi bajunya yang nyesuain sama badan lo.” Suka banget lho gw sama apa yang dia bilang. Intinya, jangan maksain badan kita. Berapa sering sih kita ngeliat orang yang kelihatan aneh karena pake baju yang ‘dipaksain’ untuk ‘masuk’ sama badannya? Akhirnya juga jadi nggak comfortable, kelihatan aneh, dan agak terlihat maksa. Pernah ngelihat pasangan yang model kayak gitu? Ganggu di mata? Gw sih sering banget :-D

Intinya sih, balik ke fungsi. Apa sih fungsi pasangan di hidup lo? Untuk diajak tuker pikiran? Untuk dipamerin sama orang-orang? Untuk nemenin elo ngeraih impian bareng? Saran gw, kalau belum menemukan orang yang benar-benar punya ‘fungsi’ yang elo cari, nggak usah maksain badan. Kalau memang belum waktunya pacaran, ya nikmatin aja hidup single :-)

I know and I believe, I will find my ‘BlackBerry*’ one day. He will be this person I can easily talk to, laugh with, and running the race of life together. There are so much in store that we will accomplish together as one team. I pray that the exact kind will also be given to you.

*(Oh yeah, when I use the term ‘BlackBerry’, that doesn’t mean he has to have one. But if he does, then it’s OK too. LOL.)

Next Entries »