Go to content Go to navigation Go to search

Makeover!

img00726

Viewpoint – HerWorld April 2009

Kira-kira, apa yang membuat Anda melihat seseorang lalu menilai dia dengan kata, “fashionable” atau “beautiful”? Kalau Mona Lisa tidak berada di dalam lukisan Leonardo da Vinci, melainkan berwujud manusia normal yang sedang jalan-jalan di mal, masihkah Anda menganggap dia cantik dan menarik?

Hal-hal seperti kecantikan atau tren fashion memang tidak ada ukuran pastinya, semuanya berjalan sesuai dengan jaman. Mungkin Anda pernah tahu ‘Venus of Willendorf’, imej perempuan cantik pertama yang hadir dalam bentuk patung di tahun 24.000 SM, yang ditemukan di Austria. Kalau saya bisa mendeskripsikan bentuk patung tersebut, mungkin saya akan memakai kata-kata seperti; cebol, aneh, dan sedikit kelebihan.. umm, berat badan.

Serius? Ya! Pada jaman dahulu, imej cantik memang jauh berbeda dengan apa yang kita percaya di jaman sekarang (langsing, tinggi, kaki jenjang, rambut panjang, kulit putih). Anda juga bisa melihat beberapa “buktinya” lewat karya-karya seni lukis yang dibuat di masa lalu, seperti ‘Venus de Milo’ (150-100 SM), ‘The Birth of Venus’ (1482), ‘The Three Graces’ (1628-1630), atau ‘Olympia’ (1863).

Segala sesuatu yang berhubungan dengan kecantikan atau tren fashion memang selalu bermula dari media. Kalau di jaman dahulu medianya berupa karya-karya seni lukis dan patung, jaman sekarang bentuknya berubah menjadi majalah-majalah dan acara-acara di televisi. Makanya, tidak heran kalau standar “cantik” kita adalah cantiknya para model, aktris, dan aktor. Bahkan terkadang kita masih bisa membandingkan “all the pretty people”, yang mana yang lebih cantik, ganteng, dan yang mana yang lebih fashionable. Nah, karena standar yang cukup tinggi itulah, manusia ingin sekali menjadi yang terbaik dalam urusan penampilan. Untuk yang bermasalah di area penampilan, tentunya perlu di-makeover! Semua orang yang mau di-makeover pastinya mempunyai motif yang jelas, yaitu supaya bisa diterima oleh lingkungannya. We do makeover, so then we can fit in!

Tapi tenang, kita tidak se-shallow itu kok. Ada seorang penata rias yang pernah berkata kepada saya, “Ketika kita pergi keluar rumah dengan dandanan yang pantas, sesuai dengan acara yang akan dihadiri, sesungguhnya kita sedang memberikan penghormatan kepada orang lain.” Dengan kata lain, ketika kita berdandan dengan pantas untuk menghadiri suatu acara (bekerja, menghadiri pesta, atau apapun), sebenarnya yang sedang kita lakukan adalah menunjukkan rasa hormat kepada orang yang telah mengundang kita, atau kalau konteksnya dalam bekerja, kita sedang menghormati atasan dan rekan kerja kita.

Okay, let me share you a secret. Saya bukan seorang perempuan yang “banci” dandan maksimal. Kalau boleh memilih, saya lebih suka memakai pakaian dan berdandan yang nyaman, tanpa harus memikirkan apa yang dilihat oleh orang lain. Kalau bukan karena tuntutan pekerjaan, mungkin Anda bisa melihat saya (versi lama) sebagai perempuan yang “biasa banget” dalam urusan penampilan. Karena pernah bekerja full-time di perusahaan korporat, saya terbiasa untuk berpakaian semi resmi, dan jauh dari kata edgy. Tidak heran dong, ketika akhirnya masuk ke dalam perusahaan yang bergerak di area lifestyle dan entertainment, tiba-tiba selera berpakaian serta dandan harus disesuaikan. Masih ingat benar setelah beberapa minggu bekerja di perusahaan baru, si bos memanggil saya, selain untuk memberikan review pekerjaan, juga menghibahkan sedikit “masukkan” dalam berdandan serta berpakaian. Jadilah beberapa minggu setelahnya, saya melakukan makeover habis-habisan, thanks to my friends who were very much concerned and took me out for shopping sessions! Tapi jujur ya, saat atasan saya memberi masukkan tentang penampilan, tidak terbersit sedikitpun perasaan sakit hati atau malu di dalam diri saya, karena saya sadar sekali, penampilan itu adalah hal pertama yang dilihat oleh manusia, dan sebagai orang yang profesional, kita harus mampu mewakili imej yang sudah dipercayakan perusahaan kepada kita.

Ngomong-ngomong soal makeover nih, menurut saya, segala sesuatu yang bisa terjadi secara fisik, sesungguhnya bisa terjadi juga di area kejiwaan kita. Kalau penampilan kita bisa di-makeover, tentunya apa yang ada di dalam diri kita juga bisa di-“makeover”.

Beauty Makeover
Coba saja kita ibaratkan make-up dan treatment kecantikan layaknya hal-hal yang bisa membuat wajah kita bersinar-sinar, mungkin “beauty makeover” untuk jiwa kita adalah perasaan terindah di dalam kehidupan, yaitu cinta. Cinta bisa membuat wajah kita bersinar-sinar, cinta juga yang bisa membuat kita merasa fit walaupun baru saja begadang dua malam menemani pasangan yang sedang bekerja lembur. Sama juga seperti make-up yang bisa menutupi kerutan-kerutan wajah, cinta juga bisa membuat kita bahagia, tidak merasakan stres yang berlebih, dan pastinya terlihat awet muda. Kalau treatment kecantikan selama ini menjadi “pelepasan” dari rutinitas bekerja yang melelahkan, menghabiskan waktu bersama dengan orang yang kita cintai juga mampu membawa suasana relaksasi untuk jiwa kita. Who doesn’t want that? Jika Anda berpikir “beauty makeover” bisa mengeluarkan hal-hal terbaik dari diri kita, itu juga bisa diciptakan oleh rasa mencintai dan dicintai. Love brings out the best of us!

Fashion Makeover
Bagaimana dengan “fashion makeover”? Mengingat pakaian, sepatu, tas, ikat pinggang, dan lain sebagainya adalah “objek tambahan” yang menempel di badan kita, mungkin lucu juga kalau saya ibaratkan “fashion makeover” untuk jiwa adalah hal-hal “pelengkap namun penting” yang mampu membuat kita tampil maksimal, misalnya orang-orang terdekat seperti keluarga (pasangan, anak-anak, atau keluarga di mana kita dibesarkan) yang bisa membuat kita lebih percaya diri ketika kita harus tampil di tempat umum. Atau mungkin sahabat-sahabat terbaik kita yang selalu ada di sana untuk memberikan dukungan di saat-saat sulit. Bisa juga hal-hal seperti mimpi dan passion yang mendasari pembentukkan karakter dan kepribadian kita. Fashion statement always speaks about personality and character. Again, if it works for you physically, it also works for you spiritually.

Semoga saja kalau hari ini Anda memutuskan untuk melakukan ”makeover” dari dalam, bukan hanya semata-mata untuk “fit in”, karena alasan itu tidak akan tahan lama. Pastikan diri Anda untuk melakukan “makeover” dari dalam dengan tujuan untuk meraih kebahagiaan sejati, sehingga apa yang ada di dalam bisa terpancar keluar dari diri Anda dan dirasakan oleh banyak orang. Milikilah cinta, milikilah mimpi dan passion. Kelilingilah hidup Anda dengan orang-orang yang benar-benar mencintai Anda. Ketika kecantikan dan tren fashion bisa dicuri oleh waktu dan orang lain, saya yakin, “kecantikan” yang ada di dalam kita tidak akan pernah bisa dicuri oleh siapapun atau apapun selama kita menjaganya dengan baik.

Mona Lisa dalam wujud manusia normal yang sudah mengalami “makeover” dari dalam, pasti setuju dengan saya. (*)

Bukan Udara, Air, Atau Api

a598971726_1556732_11711
Bohong kalau saya bilang kamu udara
Tanpa kamu, saya masih bernafas
Tidak perlu banyak bertanya
Kamu ada, tanpa saya kerja keras

Kamu juga bukan air
Tanpa kamu, saya masih bisa minum
Masih pakai logika berpikir
Mengasihi walau tidak ranum

Kamu memang bukan api
Tanpa kamu, saya masih merasakan kehangatan
Jelas bukan sumber panas hati
Karena kamu bawa ketenangan

Kamu bergerak
Kamu dinamis
Kamu.. hidup.

Kamu itu seperti angin
Tidak ada, tidak dicari
Ketika ada, digemari
Kamu mampu membuat aku d(ingin)

Kamu itu seperti ombak
Tenang-tenang menghanyutkan
Seringkali sulit ditebak
Mungkin yang tahu cuma Tuhan

Kamu itu seperti lautan api
Karena sangat besar apinya
Yang terbakar tidak lagi merasa sakitnya
Tapi perlahan-lahan mati

Kamu bergerak
Kamu dinamis
Kamu.. hidup.

Si Angin

a598971726_1481135_9250

Bener sih kalo dibilang anak itu hatinya emas…

Hoho… ya btw, emas tuh langka lho.
Emang dasarnya kamu harus mengalami “keemasan” dia kali, hihihihi..

Tapi ya gitu.. masih sayang teman aja :-)
We’ll see :-)

Hhmmmmmmm……..
Biasanya cinta datang dari pertemanan yang dalam. Banyak kesaksian dan the fact yang saya liat..

Hahahaha kita lihat saja bagaimana kelanjutan cerita yang ini ya? :-)
Yang pasti sih, anak itu memang pandai nyuri perhatian.
(Pantas saja selama ini saya tidak melihat dia, memang unsurnya tak terlihat)

Hmmm ok, then I support him, haha!
Btw he is not stealing.. he is TRYING! It’s different.

Udah gitu, penting gitu ya, ke-gap?
From all the people in the world. Why you?

Kata Sy Rogers, nggak ada satu hal pun di dunia ini yang kebetulan!
Semuanya Tuhan yang aturrrr.. wuiiiihhh..
Kenapa juga…?
Kenapa juga…!?

(Perhaps because he’s been there all along?)

You cheeky!

Wuahahaha.. I’m still laughing here.

Hahaha I’m sure you’re having your moment ya.
Dasar!

Just fyi, kalo cowok tuh ya, focusing berarti cuman tutup satu “box” dan fokus ke hal lain, tapi nggak berarti di-eliminate “box” lain yang matters to him. Get it?

Encouragement Builds Hope

samsunghope1
“Discouragement destroys hope.”

I found that line a couple minutes ago, and I was a bit stunned because if we do some words playing, we will come up with different powerful quotes. We can also put it this way, “Encouragement builds hope”, “Discouragement causes hopelessness”, or “Encouragement causes hopefulness”.

Since Samsung Hope voting program (http://samsunghope.org) ends this month, I would like to say thank you to all of my friends who have availed themselves to vote and spent some of their times to read the blog (http://samsunghopeid.org). If you haven’t visited those pages, I encourage you to do so :-)

This is just the beginning, but I believe it’s a beginning of something good. Something that is HOPEFUL. So once again, thank you so much for your ENCOURAGEMENT. Because without encouragement, there is no hope.

Larasati Silalahi
for Samsung Hope

http://samsunghope.org

Perempuan Yang Berbagi

sisterhood

Viewpoint – HerWorld February 2009

Tidak mudah untuk bisa mengerti dunia perempuan seutuhnya meskipun Anda bergender sama, belum lagi kalau Anda laki-laki (mencoba membaca majalah ini untuk mengerti cara pikir perempuan), pastinya banyak misteri yang tidak Anda mengerti.

Sedikit pengakuan, sebenarnya saya adalah tipe perempuan yang lebih suka bergaul dengan lawan jenis. Mungkin karena semasa kecil lebih banyak bermain dengan kakak dan adik laki-laki, saya merasa aman apabila ada bersama dengan mereka. Alasan lain? Selama masih remaja, saya sering mengalami masalah dengan kebiasaan-kebiasaan sahabat perempuan yang suka bergosip, memfitnah, dan terlalu gampang iri (ya memang, ketika sudah berumur 26 tahun seperti sekarang, saya sadar kalau laki-laki juga ada yang begitu). Saat itu saya memutuskan untuk tidak membuka diri untuk bersahabat dengan sesama jenis, apalagi membiarkan diri saya mempercayai mereka.

Okay, okay, don’t hate me just yet. Cara pandang saya sekarang sudah diubahkan bersama dengan berjalannya waktu. Ya, memang harus diakui, ada sisi perempuan yang akan selalu menjadi misteri untuk laki-laki, dan ‘kekosongan’ itu hanya bisa diisi oleh sesama perempuan.

Menurut artikel oleh Hara Estroff Marano dari Psychology Today, “Secrets of Married Men” yang mengutip psikiater Scott Haltzman, M.D., rata-rata perempuan berbicara 7.000 kata setiap harinya, sementara laki-laki hanya 2.000 kata. Hal ini juga didukung oleh pernyataan Allan dan Barbara Pease di buku mereka “Why Men Don’t Listen & Women Can’t Read Maps” yang memberikan data yang mirip kisarannya. Hmm.. bisa jadi, itulah alasan mengapa persahabatan antara perempuan seringkali diwarnai dengan sesi bergosip dan curhat. Perempuan lebih banyak bicara juga disebabkan oleh kebutuhan ingin berbagi.

Mungkin itu juga yang menjadi ide dasar dari dibuatnya novel (oleh Anne Brashares) dan film ‘The Sisterhood of The Traveling Pants’, yang memang inti ceritanya tentang kehidupan empat orang perempuan muda yang walaupun terpisah oleh jarak, tetap berbagai kisah lewat sepasang celana jeans (walau sampai sekarang masih menjadi misteri untuk saya, how could one jeans size fits four body types and sizes? Rocket science!).

Sama seperti saya, Anda dan sahabat-sahabat perempuan memiliki satu kesamaan yang akan selalu menjadi benang merah dari setiap persahabatan antara perempuan, yaitu kata ‘berbagi’.

We Share The Need
Kenalan dulu dengan Irene, salah satu sahabat saya yang sangat mengerti urusan kecantikan. Hobinya adalah menata rambut, saat ini dia sedang merintis karirnya sebagai hairstylist di Jakarta dan Perth. Sebenarnya Irene bukan tipe perempuan yang suka menghadiri pesta-pesta yang mengharuskan dia untuk berdandan, namun dia punya sentuhan magis ketika harus berurusan dengan kecantikan wajah dan rambut.

Nah, berbicara soal kecantikan, cuma sesama perempuan yang mengerti kebutuhan untuk berpenampilan maksimal! Iya, memang sih, katanya laki-laki jaman sekarang juga suka dandan, tapi secara general, laki-laki masih tidak mengerti kenapa perempuan menghabiskan berjam-jam hanya untuk berdandan, atau mengkhususkan hari Sabtunya untuk pergi ke salon, sekedar manicure, pedicure, dan spa rambut. Ketika kita dikelilingi sahabat-sahabat perempuan, kita bisa sebebas mungkin membahas kebutuhan-kebutuhan yang paling terdalam sekalipun.

We Share The Language
Berbicara soal bahasa, Anda harus kenal dengan sahabat saya, Tasia. Tasia mewarisi kemampuan dasar seorang perempuan, yaitu multitasking! Terkadang saya terpana melihat dia makan, sambil menyelesaikan pekerjaan kantor, ngobrol dengan beberapa orang, sambil mencoba beberapa pasang sepatu yang baru saja dikeluarkan dari kotak-kotaknya. Hahaha! Perempuan yang satu ini juga sangat berbakat dalam linguistik, suka menulis dan bermain kata-kata.

Kalau Anda tipe orang yang memperhatikan hal-hal detil, pasti Anda sadar kalau kemampuan ini banyak didapati pada perempuan. Kita secara natural lebih mudah mengungkapkan perasaan atau pemikiran lewat rangkaian kata-kata.

Beberapa contoh ungkapan yang sangat mewakili pembicaraan perempuan dengan sahabat-sahabatnya (dan mungkin saja hanya bisa dimengerti oleh sesama perempuan):

Tentang kecantikan:
“Don’t be bitter. It leads to Botox.” (Catherine, ‘The Women’)

Tentang kebutuhan dalam urusan fashion:
“No, please, don’t get me a diamond… get me a really big closet.” (Carrie, ‘Sex & The City’)

Tentang persahabatan:
“To us. Who we were, and who we are. And who we’ll be.” (Bridget, ‘The Sisterhood of The Traveling Pants’)

Dan tentang mengalami patah hati:
“It feels like someone kicked you in the stomach, feels like your heart stopped beating, feels like that dream you know the one when you are falling and you want so desperately to wake up before you hit the ground but its all out of your control, you cant trust anything anymore, no one is who they say they are, your life is changed forever, and the only thing to come out of the whole ugly experience is no one will be able to break your heart like that again.” (Catherine, ‘The Women’)

We Share The Passion
Kenalan yuk dengan sahabat saya, Lala. Kami berdua adalah pemimpi. Kita seringkali bicara sampai pagi hari hanya untuk berbagi mimpi dan passion dalam banyak hal. Salah satu yang menjadi cita-cita kami berdua adalah memajukan kehidupan perempuan, dimulai dengan orang-orang yang ada di sekeliling kami.

Memang, kita bisa berbagi mimpi dan passion kepada siapa saja, namun tidak bisa dipungkiri, ada beberapa jenis impian yang hanya bisa dimengerti oleh sesama perempuan. Kita bisa mengerti karena kita sudah menghidupi keseharian dengan kebiasaan berbagi. Ada mimpi-mimpi yang tidak perlu diperkatakan, namun di dalam hati, kita dan sahabat-sahabat akan selalu tahu.

*

Dengan jujur harus saya akui, kedekatan saya dengan ketiga sahabat sudah teruji lewat banyak hal. Kami pernah melewati masa-masa berat bersama, berargumen dengan satu sama lain, saling tidak menyukai karakter satu sama lain, sampai hal-hal bodoh seperti ‘rebutan’ laki-laki (oops!).

Fakta kami mampu melewati itu semua dalam lebih dari satu dekade justru menjadi bukti solid kalau kami memang diperuntukkan untuk menjadi sahabat bagi satu sama lain.

So be glad if you have your ‘sisters’ around you. Not only we have the privilege to share the need, passion, and language (or even pants?), but moreover, we share the love. (*)

What Did They Teach You?

samsunghope

Selama getaway di Singapore kemarin, gw sempat menghabiskan beberapa waktu untuk santai-santai di depan TV. Nah biasanya, waktu nonton acara-acara kesukaan gw itu (Ellen, Hi-5, dan American Idol), suka muncul nih iklan layanan masyarakat yang dibikin oleh Departemen Pendidikannya Singapore.

Iklan itu sederhana, dimulai dengan pertanyaan (yang ditanyakan kepada beberapa orang) tentang ‘hal apa yang pernah diajarkan oleh guru di masa sekolah yang masih diingat sampai sekarang?’. Jawabannya macam-macam, mulai dari nilai-nilai kehidupan, bagaimana guru-guru mereka berperilaku, sampai ada satu perempuan yang (kurang-lebih) bilang, “The scariest question my teacher always asked us was, ‘what is your passion?’, because I didn’t know the answer.”

Lalu iklan itu dilanjutkan dengan simple encouragement untuk mengajak orang-orang yang memang terpanggil menjadi guru, untuk mulai mengajar dan mengedukasi bangsa mereka.

I know, it’s simple, but it really moved me.

Membuat gw jadi bertanya sama diri sendiri, hal apa yang pernah diajarkan oleh guru gw ketika sekolah, yang sampai sekarang masih gw ingat? Ada banyak. Tapi yang benar-benar mengubah hidup gw adalah kehidupan seorang Bapak Hindra dari SMUK V, yang mengajarkan gw untuk tidak menjadi orang yang ceroboh ketika menghadapi masalah atau situasi genting. Beliau orangnya tenang, dan sangat wise. Selain dari gaya hidupnya yang (juga) positif dan sehat, beliau selalu menjadi panutan gw untuk belajar menjadi orang yang bisa ‘keeping it all together’, bahkan ketika segala sesuatu lagi kacau. Ketika guru-guru lain suka marah dan main bentak, beliau bisa menegur dengan sangat wise, membuat murid-murid tahu salahnya di mana, tapi tidak merasa dihakimi. I think it’s very important for every teacher to have that kind of quality.

Untuk bisa memberikan edukasi yang baik, dibutuhkan guru-guru dengan kualitas yang baik, dan fasilitas yang baik. Oleh karena itu, hal-hal sederhana seperti memberikan pilihan di http://samsunghope.org/ bisa jadi hal yang sangat besar manfaatnya untuk generasi di bawah kita. Kerinduan gw, pada suatu hari nanti, ketika anak-anak kecil itu sudah dewasa, mereka bisa bercerita tentang bagaimana sekolah, guru-guru, dan fasilitas belajar-mengajarnya berhasil membuat mereka menjadi orang yang sukses.

Balik lagi ke iklan layanan masyarakat Singapore tadi, di akhir dari klip tersebut, orang-orang yang sama, yang di awal bercerita soal guru-guru mereka di masa kecil, melanjutkan ceritanya tentang perubahan pada kehidupan mereka karena ajaran si guru. Ada yang sekarang mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang sama kepada anak-anaknya, ada yang akhirnya menjadi seorang pengacara karena gurunya yang selalu bertindak adil, dan si perempuan yang paling takut sama pertanyaan, ‘what’s your passion’ akhirnya menemukan jawaban dari pertanyaan itu.

“My passion is to teach. Now I am also a teacher.” :-)

||

3178022064_f56009f522_m
Creative Commons License photo credit: montillon

Many of us don’t like the word ‘pause’. Especially our gadget-savvy generation, living in a very instant world, everything runs so fast, and when it doesn’t, we think something is wrong.

How many times have we been facing that moment, where we need to make a decision, and we decide to make the fastest decision ever? Sometimes it has nothing to do with urgency, simply because we, as human, want to get over with things instantly.

Too many people rushing into relationships, deciding to get married, choosing jobs, finding schools, without considering consequences, risks, and impacts. We often forget that those things come in a package, and most of the time, those things that are too quickly being made, are too risky to have.

Why don’t we like to pause?

I think it has everything to do with impatience. We think we’re running out of time. We think we know best. We think there is nothing else better than what is in front of our eyes. We don’t want to wait. We simply can’t stand the process that involves PAUSING.

Me, myself, dislike the word ‘pause’. I feel powerless when I have to take a break, consciously knowing that I am on PAUSE and letting things happen the way they should. Even now, after I have decided to pause.. I’m still having questions.

For how long?
What do I have to lose?
Will I miss great things?
If I do miss it, will there any second chances?
How do I stay calm on PAUSE, while I see my friends running around busy deciding things? Making impulsive actions, living their lives dangerously, putting their lives at stake, those are the things that excite me (most of the time).

But you know what, to PAUSE is actually takes a lot of guts. It IS also exciting!
The word ‘pause’ is not a passive word, it’s active. WE MAKE THE DECISION TO PAUSE.

Oh yeah, I have made that decision. It started as something that was very painful, but now I’m (kinda) used to it.

While everybody else rushing to make impulsive decisions, I am just going to PAUSE. Watching them running around, torn apart, breaking to pieces, losing themselves, and I am here..

Resting. Watching. Learning. Guarding. Waiting.

Until THAT day comes, whenever I am ready, the right somebody will come into my PAUSED (||) life and press PLAY (>). Looking forward to that day, but now I am cherishing my today. No FAST FORWARD (>>) needed.

My life is on || and I’m loving it!

Being Smart Is One Thing

being-smart-is-one-thing

Minggu pertama 2009 bukan minggu yang gampang buat keluarga gw, mungkin ada beberapa di antara temen-temen gw yang tau soal my beloved uncle yang passed away on the 1st day of 2009.

I could write pages and pages about my late uncle, but I’m sure that is not the point of myself writing this. Kalo gw cuma bisa menuliskan satu hal baik tentang Tulang (panggilan di suku Batak) gw ini adalah passionnya dalam mengajar. Tulang Parouli Pakpahan seorang dosen di ITB, Bandung, by the way.

Sewaktu gw on the way ke Bandung dengan keluarga, mama cerita satu hal yang bikin gw tersentuh. Mama bilang, dari dia kecil, ada dua abangnya yang punya kemiripan, keduanya sama-sama pintar, selalu rangking satu, dan menjadi kesayangan guru. Salah satunya adalah Tulang Parouli ini. Yang membedakan Tulang Parouli dengan kakak-kakak mama yang lain adalah hatinya untuk sesama. Mungkin kalau mau ditandingin kepinterannya, ada kakak mama yang lebih jenius dan memang terbukti otaknya gokil. Tapi kalau mama nanya PR sama dia, langsung dibikinin, lalu bukunya dibalikin dengan semua pertanyaan yang sudah lengkap dengan jawaban (tinggal adik-adiknya yang bingung gimana cara ngerjain ulang), sementara kalau Tulang Parouli selalu dengan sabar mengajar detil ke mama gimana proses mendapatkan jawaban dari setiap pertanyaan.

That’s the difference between being smart and being a teacher. Nggak heran kalau Tulang Parouli memang suka mengajar, karena passion-nya adalah ingin berbagi ilmu. My uncle has passed away, but his passion for teaching.. lives on.

Yang membedakan seorang guru dengan seseorang yang (hanya) pintar adalah hatinya. It takes a heart that loves the people to enables someone in becoming a teacher. Harus punya hati yang mau berbagi, yang mau melihat kehidupan orang lain maju karena pengetahuan yang kita punya.

Being smart is not everything. It doesn’t stop there. We need to do more, and that includes TO SHARE. Bayangkan berapa banyak anak-anak Indonesia yang nggak mempunyai kesempatan untuk belajar cuma karena kita terlalu ‘pelit’ berbagi ilmu.

Ketika gw baca fakta ‘12 juta anak Indonesia putus sekolah’, I was broken hearted. Mungkin sedikit banyak, karena kita kurang mau berbagi juga mendukung adanya fakta ini. Being smart is one thing, and then.. what’s next?

Setelah kepergian uncle gw kemarin, I realized that his passion also lives in me. I love to teach, i love to help people around me realizing their potentials. Semoga aja elo punya passion yang sama. Paling enggak, elo punya hati untuk ngebantu orang lain, so let’s do something about this.

Let’s start to share.

Your money. Your passion. Your knowledge. Anything. Starts with what’s in your hands.

What’s New?

herworld

Viewpoint – HerWorld January 2009

Survei kecil-kecilan yang saya pasang di Twitter, “When you hear the word NEW, what pops up in your mind?” Pilihan jawabannya beragam mulai dari fun, challenge, excitement, dan juga relationship (yang ini pasti lagi craving nyari pasangan baru).

Sapaan andalan saya ketika bertemu dengan teman yang sudah lama menghilang adalah, “Hey, how are you? What’s new in life?” Karena memang pada dasarnya, kalau kita sudah lama tidak mendengar kabar tentang seseorang, dan akhirnya ada kesempatan untuk bertanya, yang ingin kita ketahui adalah hal-hal barunya. Buat apa tanya soal yang lama, yang kita sudah tahu. Kata ‘baru’ memang terdengar sangat menarik. Tahun baru, gaya baru, pasangan baru, suasana baru, penulis baru (that’s me, by the way).

New = Changes
Sadarkah Anda, banyak orang berpendapat kalau, ‘people are always reluctant to changes’. Hal yang sangat manusiawi, karena memang kata ‘baru’ selalu datang dengan kata lain, yaitu ‘perubahan’ dan pada dasarnya, manusia tidak terlalu suka dengan perubahan, terutama hal-hal yang drastis, diluar rutinitas atau kebiasaan. Jelas, kalau ada perubahan, tandanya harus ada penyesuaian, belum lagi ‘harga’ yang harus dibayar untuk bisa menyesuaikan diri dengan hal baru tersebut. Contoh nih, pasangan baru. Tidak usah jauh-jauh, pasti ada dari antara teman (atau Anda sendiri) yang pernah mengalami proses berhubungan lebih dari dua tahun dan berjuang sampai titik darah penghabisan untuk tidak mengakhiri hubungan hanya karena, ‘malas memulai yang baru’, sudah terlanjur berada di comfort zone, padahal sudah tahu kalau ada ketidakcocokkan yang signifikan.

Hal ini juga bisa terjadi di lingkungan pekerjaan kita di mana comfort zone dalam bekerja seringkali terbentuk. Untuk orang-orang yang lebih banyak merasa takut dan enggan membuat keputusan besar, lebih baik menderita bekerja di perusahaan yang sama, dibandingkan harus mencari pekerjaan baru, memulai dari awal, dan mengorbankan apa yang sudah dimiliki saat ini.

Tahun lalu ketika saya memutuskan untuk resign dari posisi sebagai Art Director, banyak pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari orang-orang sekitar. I have always known my passion in communication area, and wanted to do something about it. Saya tinggalkan comfort zone dan mencoba mencari pekerjaan baru di area komunikasi. Waktu itu saya belum punya networks apa-apa, memang bocah nekat ?. My mom has always been there to support my passion, but my dad was pretty furious back then. Pada akhirnya saya mendapat kesempatan untuk menjadi salah satu penyiar di 87.6 Hard Rock FM Jakarta, and there it was, I found my passion.

Pengalaman tersebut menggelitik sisi filosofi saya, “When you’re sticking on to the good things, you might be missing out on the great things.”

New = Knowing What You Really Want!
Kalau ada pernyataan begini, “Saya ingin membeli smart phone baru deh,” kayaknya akan menjadi sangat aneh apabila disambung dengan pernyataan, “..tapi nggak tahu sih mau yang mana.” Lho? Menginginkan sesuatu yang baru harus diimbangi dengan pengetahuan tentang ‘baru yang seperti apa yang Anda cari’.

Beberapa tahun yang lalu, seorang teman pernah mempunyai cita-cita membeli apartemen idamannya. Saya masih ingat betul, ketika teman ini bercerita kepada seorang mentor, hal pertama yang disarankan kepadanya (bahkan waktu itu uangnya belum ada) adalah, “Sudah tahu mau apartemen model apa? Try to list down what you’re looking for.” WOW! It sounds very simple. Allow me to ask, how many of us do this when we really want something? Menulis kriteria sekolah terbaik untuk anak Anda mungkin? Atau dalam mencari pasangan hidup? Sudahkah Anda membuat list kriteria yang Anda cari di dalam hal ‘baru’ tersebut? Do you know what you really want?

Ketika kita tidak tahu apa yang kita mau, segala sesuatunya bisa jadi berantakan lho. Bayangkan ketika kita tidak tahu tipe smart phone apa yang kita mau, dengan sangat mudahnya kita bisa termakan omongan penjual yang hanya memikirkan sales. Ketika kita tidak jelas tentang personal passion, kita mung

Worth Having, Worth Pursuing

Ada satu pepatah yang diajarin sama nyokap gw ketika gw masih kecil. Biasanya kalimat ini keluar ketika salah satu dari anak-anaknya ada yang berantem, rebutan mainan. Supaya salah satu anaknya ada yang mau minta maaf duluan, nyokap mancing dengan pepatah itu.

“Mengalah bukan berarti kalah,” said mom. Prinsip itu masih berlaku sampai sekarang. Kadang-kadang kita memang harus tahu kapan saatnya mengalah dan membiarkan sesuatu lepas dari tangan kita, dan itu nggak membuat kita menjadi seseorang yang kalah dalam pertandingan. We’re not losers for doing that.

As much as I believe it, as much as I know that there are some truths in it, menurut gw pernyataan ini cuma berlaku untuk konteks tertentu saja. Contoh, mengalah untuk meminta maaf (lepas dari kita salah atau enggak, just simply having the bigger heart).

‘Mengalah bukan berarti kalah’ ini agak-agak tricky, sepertinya nggak bisa diaplikasikan ke semua area kehidupan. Let’s say you want something/someone so bad, of course I don’t encourage you to just stop putting effort to be THE winner!

Beberapa malam lalu gw ngobrol panjang sama seorang teman yang lagi merantau (halah! :-) ) tentang hal ini, konteksnya adalah tentang relationship (namanya juga dua perempuan ngobrol di malam hari, pasti nggak jauh-jauh dari sini ya topiknya? :-D ), tentang seorang teman yang selalu ‘mengalah’ ketika ada orang lain yang menginginkan orang yang sama dengan dia. Nggak ada salah atau benar sih, kan memang hak segala bangsa untuk ‘tetap mengejar’ atau ‘berhenti mengejar’. Tapi jujur aja, temen gw dan gw malem itu menyimpulkan kalau nggak selamanya kita harus ngalah! Kenapa harus ngalah, kalau memang banyak cara yang bisa dilakukan untuk ngedapetin apa yang elo mau?

Menurut gw, ketika seseorang bilang, “You’re free to go.. if we’re meant to be, nanti juga kita deket lagi,” itu sama sekali nggak ada hubungannya sama pernyataan nyokap gw di awal tulisan ini, karena pernyataan pertama itu jiwanya lebih tentang berbesar hati untuk melakukan sesuatu yang benar, sementara di kasus having/pursuing relationship ini, jiwanya lebih tentang ‘mengalah karena merasa kalah’ atau mungkin ‘orang ini nggak worth having/pursuing’. Kayaknya sih begitu, semoga gw nggak salah :-)

Gw mencoba memposisikan diri sebagai laki-laki nih ya (biar kayak Beyonce dikit yah neik, “If I Were A Boy” gituuu :-p).. kalau dari beribu-ribu temen-temen gw di muka bumi ini bisanya cuma ngisi kepala gw dengan hal-hal complicated dan ribet, ketika gw ketemu seseorang yang bisa membuat gw santai, ngobrol nyambung, anaknya menyenangkan, dan punya semua kriteria yang gw cari, tinggal tunggu momentum yang tepat, I would do anything to get her. Gw nggak akan menyerah ketika gw ngeliat saingan-saingan. I would never ‘ngalah’ in this case, not even expect her to change. “Dia harus lebih nunjukkin kalo dia suka sama gw juga dong,” atau “Dia harus berhenti flirting sama cowok-cowok lain dong,” ataaauuuuu… “Dia nggak seharusnya baik sama semua orang,”… if I really like a person, there is nothing in this world I would want to change, because if they want to change.. they will!

Funny how I talked to these two guys yesterday, on this topic, dan konklusinya bener-bener menarik banget. Note that these two guys bedanya kutub utara dan selatan dalam relationship, yang satu udah pacaran ribuan kali, yang satu lagi belum pernah pacaran (sengaja nih, gw cari dua pendapat dari pihak-pihak yang cukup ekstrim). Both of them said the same thing, menurut mereka nggak ada kebutuhan untuk nggak jadi diri sendiri, kalau pihak sananya emang niat, dia akan mati-matian berjuang untuk dapetin hati lo. Way to go, guys! ;-)

Tadi malam (sebelum gw terbangun dengan sendirinya jam 3 subuh :-( (( hiks!), ketika gw lagi nonton ‘Scrubs’ season 4, CD ke-6, ada cerita soal pasien yang pengen operasi karena nggak pengen diet sehat (taking shortcut) dan Dr. Turk yang lagi pusing nyelametin hubungannya sama Carla. Dr. Kelso, salah satu tokoh yang paling nyebelin (menurut gw) di film itu, ngomong satu hal yang langsung jedaaarrrr, kena banget di gw. He said, “Nothing in this world that is worth having comes easy!” Aaaaah. Agreeee!!!

My thought is very simple, no hidden agenda, it’s plainly logic. When you want something/someone so badly, you will know what to do.. and you will do it.

I hope it’s not just me :-)

« Previous Entries Next Entries »