Go to content Go to navigation Go to search

Share What You Know

One of the strongest signs of contentment is the ability to share. Whatever it is that you have, big or small, significant or insignificant, could always bring impacts once it is shared.

I asked a good friend of mine, Rene Suhardono Canoneo to help out in writing an article for Aplaus The Lifestyle tabloid in Medan that wanted me to share on the ‘passion’ topic. Rene is the man of passion, so who would be better for this?

Again, what we shared perhaps just a little start for all of our Medan friends, but who knows, it could also be a start of something big.

I Wonder Why?

I wonder why a caddy girl who dated a married man and caused a murder could appear on public with a celebrity attitude?

I wonder why a girl who got very traumatized after being abused by her husband would let her story go public through a TV show?

I wonder why TV station would rather air a meaningless show such as a singing contest for those who can’t sing than a life-changing talk show?

I wonder why someone could steal else’s spouse (no empathy to others, let alone caring about public’s opinion) and complain to public (looking for sympathy), after the marriage didn’t work ?

The answer to my questions could be the same. This world’s getting more insane each day. That’s why we need to hold on tight to what keeps us sane.

The Root Of The Problem

I’ve been staying in the hospital for two days now, my mom has been having high body temperature. The doctor said, they can’t say anything until around three to five days. This situation is killing me. I don’t really care how many days required to get healed or how much money needed, but at least I need to know what kind of illness that mom’s suffering from. How do we find a cure if we don’t know what we’re curing?

By the way, this thought also applies to our life. We cannot heal our heart if we don’t know which part of our heart that is hurting. We may think it’s the whole part, but we could be wrong. The same thing works for forgiveness. How can we forgive if we don’t know whom to forgive?

Everything comes back to the root of the problem. Do you know what (or who) your problem is?

AxiooTV :: Meet The Vendors 1

picture-1
Here is the first video I did with Axioo! So many to learn about being a great event/wedding organizer! A very inspiring video, indeed :-)

Emil Eriyanto of Multi Kreasi Enterprise (MKE) is one of the best wedding organizers Axioo has had the pleasure of working with.

For more information or to contact Multi Kreasi Enterprise, please call (021) 570-2916 or (021) 570-2055.

Larasati Silalahi wardrobe provided by Urban Twist – Senayan City & Taman Anggrek.

Meet The Vendors – Wedding Organizers from Axioo on Vimeo.

AxiooTV :: Meet The Vendors 2

picture-11
It’s a privilege to do this project together with Axioo! Personally I am a huge fan of their works, I consider working with their dynamic and creative bunch of people as a bonus!

This one’s an interview with Nefi from “Nefi House of Inspiring Decor & Flowers”. For more information or to contact Nefi House, please call (021) 530-6673 or email nefiery@cbn.net.id

Larasati Silalahi wardrobe provided by Urban Twist – Senayan City & Taman Anggrek.

Meet The Vendors – Wedding Decorator from Axioo on Vimeo.

Makeover!

img00726

Viewpoint – HerWorld April 2009

Kira-kira, apa yang membuat Anda melihat seseorang lalu menilai dia dengan kata, “fashionable” atau “beautiful”? Kalau Mona Lisa tidak berada di dalam lukisan Leonardo da Vinci, melainkan berwujud manusia normal yang sedang jalan-jalan di mal, masihkah Anda menganggap dia cantik dan menarik?

Hal-hal seperti kecantikan atau tren fashion memang tidak ada ukuran pastinya, semuanya berjalan sesuai dengan jaman. Mungkin Anda pernah tahu ‘Venus of Willendorf’, imej perempuan cantik pertama yang hadir dalam bentuk patung di tahun 24.000 SM, yang ditemukan di Austria. Kalau saya bisa mendeskripsikan bentuk patung tersebut, mungkin saya akan memakai kata-kata seperti; cebol, aneh, dan sedikit kelebihan.. umm, berat badan.

Serius? Ya! Pada jaman dahulu, imej cantik memang jauh berbeda dengan apa yang kita percaya di jaman sekarang (langsing, tinggi, kaki jenjang, rambut panjang, kulit putih). Anda juga bisa melihat beberapa “buktinya” lewat karya-karya seni lukis yang dibuat di masa lalu, seperti ‘Venus de Milo’ (150-100 SM), ‘The Birth of Venus’ (1482), ‘The Three Graces’ (1628-1630), atau ‘Olympia’ (1863).

Segala sesuatu yang berhubungan dengan kecantikan atau tren fashion memang selalu bermula dari media. Kalau di jaman dahulu medianya berupa karya-karya seni lukis dan patung, jaman sekarang bentuknya berubah menjadi majalah-majalah dan acara-acara di televisi. Makanya, tidak heran kalau standar “cantik” kita adalah cantiknya para model, aktris, dan aktor. Bahkan terkadang kita masih bisa membandingkan “all the pretty people”, yang mana yang lebih cantik, ganteng, dan yang mana yang lebih fashionable. Nah, karena standar yang cukup tinggi itulah, manusia ingin sekali menjadi yang terbaik dalam urusan penampilan. Untuk yang bermasalah di area penampilan, tentunya perlu di-makeover! Semua orang yang mau di-makeover pastinya mempunyai motif yang jelas, yaitu supaya bisa diterima oleh lingkungannya. We do makeover, so then we can fit in!

Tapi tenang, kita tidak se-shallow itu kok. Ada seorang penata rias yang pernah berkata kepada saya, “Ketika kita pergi keluar rumah dengan dandanan yang pantas, sesuai dengan acara yang akan dihadiri, sesungguhnya kita sedang memberikan penghormatan kepada orang lain.” Dengan kata lain, ketika kita berdandan dengan pantas untuk menghadiri suatu acara (bekerja, menghadiri pesta, atau apapun), sebenarnya yang sedang kita lakukan adalah menunjukkan rasa hormat kepada orang yang telah mengundang kita, atau kalau konteksnya dalam bekerja, kita sedang menghormati atasan dan rekan kerja kita.

Okay, let me share you a secret. Saya bukan seorang perempuan yang “banci” dandan maksimal. Kalau boleh memilih, saya lebih suka memakai pakaian dan berdandan yang nyaman, tanpa harus memikirkan apa yang dilihat oleh orang lain. Kalau bukan karena tuntutan pekerjaan, mungkin Anda bisa melihat saya (versi lama) sebagai perempuan yang “biasa banget” dalam urusan penampilan. Karena pernah bekerja full-time di perusahaan korporat, saya terbiasa untuk berpakaian semi resmi, dan jauh dari kata edgy. Tidak heran dong, ketika akhirnya masuk ke dalam perusahaan yang bergerak di area lifestyle dan entertainment, tiba-tiba selera berpakaian serta dandan harus disesuaikan. Masih ingat benar setelah beberapa minggu bekerja di perusahaan baru, si bos memanggil saya, selain untuk memberikan review pekerjaan, juga menghibahkan sedikit “masukkan” dalam berdandan serta berpakaian. Jadilah beberapa minggu setelahnya, saya melakukan makeover habis-habisan, thanks to my friends who were very much concerned and took me out for shopping sessions! Tapi jujur ya, saat atasan saya memberi masukkan tentang penampilan, tidak terbersit sedikitpun perasaan sakit hati atau malu di dalam diri saya, karena saya sadar sekali, penampilan itu adalah hal pertama yang dilihat oleh manusia, dan sebagai orang yang profesional, kita harus mampu mewakili imej yang sudah dipercayakan perusahaan kepada kita.

Ngomong-ngomong soal makeover nih, menurut saya, segala sesuatu yang bisa terjadi secara fisik, sesungguhnya bisa terjadi juga di area kejiwaan kita. Kalau penampilan kita bisa di-makeover, tentunya apa yang ada di dalam diri kita juga bisa di-“makeover”.

Beauty Makeover
Coba saja kita ibaratkan make-up dan treatment kecantikan layaknya hal-hal yang bisa membuat wajah kita bersinar-sinar, mungkin “beauty makeover” untuk jiwa kita adalah perasaan terindah di dalam kehidupan, yaitu cinta. Cinta bisa membuat wajah kita bersinar-sinar, cinta juga yang bisa membuat kita merasa fit walaupun baru saja begadang dua malam menemani pasangan yang sedang bekerja lembur. Sama juga seperti make-up yang bisa menutupi kerutan-kerutan wajah, cinta juga bisa membuat kita bahagia, tidak merasakan stres yang berlebih, dan pastinya terlihat awet muda. Kalau treatment kecantikan selama ini menjadi “pelepasan” dari rutinitas bekerja yang melelahkan, menghabiskan waktu bersama dengan orang yang kita cintai juga mampu membawa suasana relaksasi untuk jiwa kita. Who doesn’t want that? Jika Anda berpikir “beauty makeover” bisa mengeluarkan hal-hal terbaik dari diri kita, itu juga bisa diciptakan oleh rasa mencintai dan dicintai. Love brings out the best of us!

Fashion Makeover
Bagaimana dengan “fashion makeover”? Mengingat pakaian, sepatu, tas, ikat pinggang, dan lain sebagainya adalah “objek tambahan” yang menempel di badan kita, mungkin lucu juga kalau saya ibaratkan “fashion makeover” untuk jiwa adalah hal-hal “pelengkap namun penting” yang mampu membuat kita tampil maksimal, misalnya orang-orang terdekat seperti keluarga (pasangan, anak-anak, atau keluarga di mana kita dibesarkan) yang bisa membuat kita lebih percaya diri ketika kita harus tampil di tempat umum. Atau mungkin sahabat-sahabat terbaik kita yang selalu ada di sana untuk memberikan dukungan di saat-saat sulit. Bisa juga hal-hal seperti mimpi dan passion yang mendasari pembentukkan karakter dan kepribadian kita. Fashion statement always speaks about personality and character. Again, if it works for you physically, it also works for you spiritually.

Semoga saja kalau hari ini Anda memutuskan untuk melakukan ”makeover” dari dalam, bukan hanya semata-mata untuk “fit in”, karena alasan itu tidak akan tahan lama. Pastikan diri Anda untuk melakukan “makeover” dari dalam dengan tujuan untuk meraih kebahagiaan sejati, sehingga apa yang ada di dalam bisa terpancar keluar dari diri Anda dan dirasakan oleh banyak orang. Milikilah cinta, milikilah mimpi dan passion. Kelilingilah hidup Anda dengan orang-orang yang benar-benar mencintai Anda. Ketika kecantikan dan tren fashion bisa dicuri oleh waktu dan orang lain, saya yakin, “kecantikan” yang ada di dalam kita tidak akan pernah bisa dicuri oleh siapapun atau apapun selama kita menjaganya dengan baik.

Mona Lisa dalam wujud manusia normal yang sudah mengalami “makeover” dari dalam, pasti setuju dengan saya. (*)

Bukan Udara, Air, Atau Api

a598971726_1556732_11711
Bohong kalau saya bilang kamu udara
Tanpa kamu, saya masih bernafas
Tidak perlu banyak bertanya
Kamu ada, tanpa saya kerja keras

Kamu juga bukan air
Tanpa kamu, saya masih bisa minum
Masih pakai logika berpikir
Mengasihi walau tidak ranum

Kamu memang bukan api
Tanpa kamu, saya masih merasakan kehangatan
Jelas bukan sumber panas hati
Karena kamu bawa ketenangan

Kamu bergerak
Kamu dinamis
Kamu.. hidup.

Kamu itu seperti angin
Tidak ada, tidak dicari
Ketika ada, digemari
Kamu mampu membuat aku d(ingin)

Kamu itu seperti ombak
Tenang-tenang menghanyutkan
Seringkali sulit ditebak
Mungkin yang tahu cuma Tuhan

Kamu itu seperti lautan api
Karena sangat besar apinya
Yang terbakar tidak lagi merasa sakitnya
Tapi perlahan-lahan mati

Kamu bergerak
Kamu dinamis
Kamu.. hidup.

Si Lautan Api

a598971726_1556732_1171

Perempuan itu berlari mendekati lautan api yang melahap habis apa saja yang ada di dekatnya.

Saya bilang, “Jangan lari ke arah sana! Bahaya! Kamu bisa terbakar!”

Ia hanya memandangiku dengan tatapan kosong, seperti tidak mempunyai pilihan yang lain.

Saya berdoa di dalam hati, semoga perempuan itu baik-baik saja, banyak orang-orang yang mencintainya, menunggunya pulang ke rumah.

Ia tetap mencoba menerobos puing-puing bangunan yang sudah setengah terbakar. Saya kasihan. Saya lari mendekat ke arahnya, menarik tangannya, dan mencoba berteriak sekuat tenaga, “Untuk apa masuk ke sana? Kamu akan terbakar!!!”

Dia bilang, ada sesuatu yang harus diselamatkan.

Hal apa yang lebih penting dari nyawanya? Saya tidak mengerti. Tangan saya sakit karena dia menepis dengan keras, ditambah lagi panasnya api yang mulai membakar kulit saya.

Perempuan itu berhasil mendorong saya jatuh. Dia menghilang dibalik asap dan lautan api yang semakin membesar. Hal apa yang lebih penting dari nyawanya?

Saya masih tidak mengerti.

Sunny day, sweepin’ the clouds away!

n598971726_1964160_2784

Banyak orang suka bertanya, “Kenapa elo masih suka Elmo sih?” Selalu gw jawab, “Karena ada sisi anak-anak dari diri gw yang tidak boleh hilang. The part of me that keeps me sane during my hectic adult life.”

Gw suka bingung lho, kenapa anak jaman sekarang cepat sekali ingin menjadi dewasa. Sepertinya masa kanak-kanak terlalu membosankan, sampai mereka tidak sabar ingin mengenakan sepatu tumit tinggi, lipstick, atau belajar menyetir. Padahal, ketika umur kita sampai ke angka 25, sering sekali merindukan masa anak-anak yang tidak bisa balik lagi.

Kecenderungan ‘ingin cepat tua’ ini juga yang membuat anak-anak jaman sekarang (termasuk di Indonesia) lebih menggemari lagu-lagu orang dewasa daripada lagu-lagu anak-anak. Coba cek, ada berapa banyak penyanyi cilik di Indonesia sekarang, atau mungkin orang-orang dewasa yang menciptakan atau menyanyikan lagu untuk anak-anak? Anak-anak di bangku TK/SD saja sudah sangat fasih menyanyikan lagu-lagu RAN atau bahkan The Click Five. Tidak salah sih, cuma sayang saja. Sebagai orang yang tipenya ‘menikmati musim’, gw sangat percaya kalau kita hidup, jangan hidup di dunia orang lain. Living our life to the fullest. Jadi kalau memang masih berwujud anak-anak, hidupilah dunia anak-anak.

Sewaktu TK di Australia dulu, salah satu hobi gw untuk menikmati visual dan audio adalah dengan menonton Sesame Street (US). Kalau jaman sekarang, program TV musik (edukasi) anak-anak yang ngehits di sana (Nine Network) mungkin Hi-5 (hi5.com), grup penyanyi yang isinya orang-orang dewasa, namun menciptakan dan menyanyikan lagu anak-anak. Acara TV mereka ini sudah disiarkan ke kurang lebih 83 negara-negara di dunia.

Grup musik anak-anak lain yang juga cukup gw kenal adalah The Wiggles (www.thewiggles.com.au), lagi-lagi, mereka adalah band dari Australia (ABC Network) yang terbentuk di Sydney, tahun 1991. Sama seperti Hi-5, The Wiggles banyak mengeluarkan hits lagu anak-anak yang menjadi favorit.

OK, sedikit pengakuan, gw masih suka nonton Hi-5 dan The Wiggles di cable, dan gw selalu merasa refreshed setelah menonton :-) Senang banget melihat anak-anak kecil yang nyanyi bareng sambil lompat-lompat. Tidak jaim. Tidak buru-buru pengen kelihatan ‘cool’. Deep inside my heart I wished that they would stay innocent, at least until their mature seasons come.

Terlalu berlebihan tidak ya kalau gw berharap di Indonesia kita juga punya grup musik macem itu? Anak-anak Indonesia juga bisa menikmati musik sesuai dengan umur mereka, bahkan belajar banyak hal tentang kehidupan – termasuk mempersiapkan diri untuk pelajaran sekolah – lewat musik sejenis itu. Nanti kalau sudah duduk di bangku SD, seperti Wulan dan teman-temannya (http://samsunghopeid.org/wulan/), baru deh bisa dicoba metode-metode menarik lainnya yang sesuai dengan umurnya (http://samsunghopeid.org/beneficiaries/). Thank God for Samsung Hope!

Mungkin mimpi gw terlalu tinggi, mungkin gw sudah tidak terlalu mengerti dunia anak-anak jaman sekarang, tapi gw nggak bisa membuang dunia anak-anak yang akan selalu ada di dalam diri gw.

Seriously, let it be 26 years old, or even 50 years old… I will always remember the lessons through music that I have learned during my childhood (pre-school).

“Sunny Day
Sweepin’ the clouds away
On my way to where the air is sweet

Can you tell me how to get,
How to get to Sesame Street

Come and play
Everything’s A-OK
Friendly neighbors there
That’s where we meet

Can you tell me how to get
How to get to Sesame Street..”

What Did They Teach You?

samsunghope

Selama getaway di Singapore kemarin, gw sempat menghabiskan beberapa waktu untuk santai-santai di depan TV. Nah biasanya, waktu nonton acara-acara kesukaan gw itu (Ellen, Hi-5, dan American Idol), suka muncul nih iklan layanan masyarakat yang dibikin oleh Departemen Pendidikannya Singapore.

Iklan itu sederhana, dimulai dengan pertanyaan (yang ditanyakan kepada beberapa orang) tentang ‘hal apa yang pernah diajarkan oleh guru di masa sekolah yang masih diingat sampai sekarang?’. Jawabannya macam-macam, mulai dari nilai-nilai kehidupan, bagaimana guru-guru mereka berperilaku, sampai ada satu perempuan yang (kurang-lebih) bilang, “The scariest question my teacher always asked us was, ‘what is your passion?’, because I didn’t know the answer.”

Lalu iklan itu dilanjutkan dengan simple encouragement untuk mengajak orang-orang yang memang terpanggil menjadi guru, untuk mulai mengajar dan mengedukasi bangsa mereka.

I know, it’s simple, but it really moved me.

Membuat gw jadi bertanya sama diri sendiri, hal apa yang pernah diajarkan oleh guru gw ketika sekolah, yang sampai sekarang masih gw ingat? Ada banyak. Tapi yang benar-benar mengubah hidup gw adalah kehidupan seorang Bapak Hindra dari SMUK V, yang mengajarkan gw untuk tidak menjadi orang yang ceroboh ketika menghadapi masalah atau situasi genting. Beliau orangnya tenang, dan sangat wise. Selain dari gaya hidupnya yang (juga) positif dan sehat, beliau selalu menjadi panutan gw untuk belajar menjadi orang yang bisa ‘keeping it all together’, bahkan ketika segala sesuatu lagi kacau. Ketika guru-guru lain suka marah dan main bentak, beliau bisa menegur dengan sangat wise, membuat murid-murid tahu salahnya di mana, tapi tidak merasa dihakimi. I think it’s very important for every teacher to have that kind of quality.

Untuk bisa memberikan edukasi yang baik, dibutuhkan guru-guru dengan kualitas yang baik, dan fasilitas yang baik. Oleh karena itu, hal-hal sederhana seperti memberikan pilihan di http://samsunghope.org/ bisa jadi hal yang sangat besar manfaatnya untuk generasi di bawah kita. Kerinduan gw, pada suatu hari nanti, ketika anak-anak kecil itu sudah dewasa, mereka bisa bercerita tentang bagaimana sekolah, guru-guru, dan fasilitas belajar-mengajarnya berhasil membuat mereka menjadi orang yang sukses.

Balik lagi ke iklan layanan masyarakat Singapore tadi, di akhir dari klip tersebut, orang-orang yang sama, yang di awal bercerita soal guru-guru mereka di masa kecil, melanjutkan ceritanya tentang perubahan pada kehidupan mereka karena ajaran si guru. Ada yang sekarang mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang sama kepada anak-anaknya, ada yang akhirnya menjadi seorang pengacara karena gurunya yang selalu bertindak adil, dan si perempuan yang paling takut sama pertanyaan, ‘what’s your passion’ akhirnya menemukan jawaban dari pertanyaan itu.

“My passion is to teach. Now I am also a teacher.” :-)

« Previous Entries