Go to content Go to navigation Go to search

Things That Make You Happy

I believe happiness and having fun are for everyone, and it’s got nothing to do with age or circumstances. Being happy is a choice, so is having fun.. that is why I always try to do new things (at least one) every day. Try! You’ll realize how colorful life is, suddenly your problems and burdens look so small when you see them through a happy set of eyes.

What are the things that make you happy and help you to have fun? For me, those are books, music, and surrounded by passionate people. Find the source of your happiness and keep them close.

Want to see how happy I can be? Take a look at this.

Told you. Books. Music. And the people who are passionate for photography.

AxiooTV :: Meet The Vendors 1

picture-1
Here is the first video I did with Axioo! So many to learn about being a great event/wedding organizer! A very inspiring video, indeed :-)

Emil Eriyanto of Multi Kreasi Enterprise (MKE) is one of the best wedding organizers Axioo has had the pleasure of working with.

For more information or to contact Multi Kreasi Enterprise, please call (021) 570-2916 or (021) 570-2055.

Larasati Silalahi wardrobe provided by Urban Twist – Senayan City & Taman Anggrek.

Meet The Vendors – Wedding Organizers from Axioo on Vimeo.

AxiooTV :: Meet The Vendors 2

picture-11
It’s a privilege to do this project together with Axioo! Personally I am a huge fan of their works, I consider working with their dynamic and creative bunch of people as a bonus!

This one’s an interview with Nefi from “Nefi House of Inspiring Decor & Flowers”. For more information or to contact Nefi House, please call (021) 530-6673 or email nefiery@cbn.net.id

Larasati Silalahi wardrobe provided by Urban Twist – Senayan City & Taman Anggrek.

Meet The Vendors – Wedding Decorator from Axioo on Vimeo.

Makeover!

img00726

Viewpoint – HerWorld April 2009

Kira-kira, apa yang membuat Anda melihat seseorang lalu menilai dia dengan kata, “fashionable” atau “beautiful”? Kalau Mona Lisa tidak berada di dalam lukisan Leonardo da Vinci, melainkan berwujud manusia normal yang sedang jalan-jalan di mal, masihkah Anda menganggap dia cantik dan menarik?

Hal-hal seperti kecantikan atau tren fashion memang tidak ada ukuran pastinya, semuanya berjalan sesuai dengan jaman. Mungkin Anda pernah tahu ‘Venus of Willendorf’, imej perempuan cantik pertama yang hadir dalam bentuk patung di tahun 24.000 SM, yang ditemukan di Austria. Kalau saya bisa mendeskripsikan bentuk patung tersebut, mungkin saya akan memakai kata-kata seperti; cebol, aneh, dan sedikit kelebihan.. umm, berat badan.

Serius? Ya! Pada jaman dahulu, imej cantik memang jauh berbeda dengan apa yang kita percaya di jaman sekarang (langsing, tinggi, kaki jenjang, rambut panjang, kulit putih). Anda juga bisa melihat beberapa “buktinya” lewat karya-karya seni lukis yang dibuat di masa lalu, seperti ‘Venus de Milo’ (150-100 SM), ‘The Birth of Venus’ (1482), ‘The Three Graces’ (1628-1630), atau ‘Olympia’ (1863).

Segala sesuatu yang berhubungan dengan kecantikan atau tren fashion memang selalu bermula dari media. Kalau di jaman dahulu medianya berupa karya-karya seni lukis dan patung, jaman sekarang bentuknya berubah menjadi majalah-majalah dan acara-acara di televisi. Makanya, tidak heran kalau standar “cantik” kita adalah cantiknya para model, aktris, dan aktor. Bahkan terkadang kita masih bisa membandingkan “all the pretty people”, yang mana yang lebih cantik, ganteng, dan yang mana yang lebih fashionable. Nah, karena standar yang cukup tinggi itulah, manusia ingin sekali menjadi yang terbaik dalam urusan penampilan. Untuk yang bermasalah di area penampilan, tentunya perlu di-makeover! Semua orang yang mau di-makeover pastinya mempunyai motif yang jelas, yaitu supaya bisa diterima oleh lingkungannya. We do makeover, so then we can fit in!

Tapi tenang, kita tidak se-shallow itu kok. Ada seorang penata rias yang pernah berkata kepada saya, “Ketika kita pergi keluar rumah dengan dandanan yang pantas, sesuai dengan acara yang akan dihadiri, sesungguhnya kita sedang memberikan penghormatan kepada orang lain.” Dengan kata lain, ketika kita berdandan dengan pantas untuk menghadiri suatu acara (bekerja, menghadiri pesta, atau apapun), sebenarnya yang sedang kita lakukan adalah menunjukkan rasa hormat kepada orang yang telah mengundang kita, atau kalau konteksnya dalam bekerja, kita sedang menghormati atasan dan rekan kerja kita.

Okay, let me share you a secret. Saya bukan seorang perempuan yang “banci” dandan maksimal. Kalau boleh memilih, saya lebih suka memakai pakaian dan berdandan yang nyaman, tanpa harus memikirkan apa yang dilihat oleh orang lain. Kalau bukan karena tuntutan pekerjaan, mungkin Anda bisa melihat saya (versi lama) sebagai perempuan yang “biasa banget” dalam urusan penampilan. Karena pernah bekerja full-time di perusahaan korporat, saya terbiasa untuk berpakaian semi resmi, dan jauh dari kata edgy. Tidak heran dong, ketika akhirnya masuk ke dalam perusahaan yang bergerak di area lifestyle dan entertainment, tiba-tiba selera berpakaian serta dandan harus disesuaikan. Masih ingat benar setelah beberapa minggu bekerja di perusahaan baru, si bos memanggil saya, selain untuk memberikan review pekerjaan, juga menghibahkan sedikit “masukkan” dalam berdandan serta berpakaian. Jadilah beberapa minggu setelahnya, saya melakukan makeover habis-habisan, thanks to my friends who were very much concerned and took me out for shopping sessions! Tapi jujur ya, saat atasan saya memberi masukkan tentang penampilan, tidak terbersit sedikitpun perasaan sakit hati atau malu di dalam diri saya, karena saya sadar sekali, penampilan itu adalah hal pertama yang dilihat oleh manusia, dan sebagai orang yang profesional, kita harus mampu mewakili imej yang sudah dipercayakan perusahaan kepada kita.

Ngomong-ngomong soal makeover nih, menurut saya, segala sesuatu yang bisa terjadi secara fisik, sesungguhnya bisa terjadi juga di area kejiwaan kita. Kalau penampilan kita bisa di-makeover, tentunya apa yang ada di dalam diri kita juga bisa di-“makeover”.

Beauty Makeover
Coba saja kita ibaratkan make-up dan treatment kecantikan layaknya hal-hal yang bisa membuat wajah kita bersinar-sinar, mungkin “beauty makeover” untuk jiwa kita adalah perasaan terindah di dalam kehidupan, yaitu cinta. Cinta bisa membuat wajah kita bersinar-sinar, cinta juga yang bisa membuat kita merasa fit walaupun baru saja begadang dua malam menemani pasangan yang sedang bekerja lembur. Sama juga seperti make-up yang bisa menutupi kerutan-kerutan wajah, cinta juga bisa membuat kita bahagia, tidak merasakan stres yang berlebih, dan pastinya terlihat awet muda. Kalau treatment kecantikan selama ini menjadi “pelepasan” dari rutinitas bekerja yang melelahkan, menghabiskan waktu bersama dengan orang yang kita cintai juga mampu membawa suasana relaksasi untuk jiwa kita. Who doesn’t want that? Jika Anda berpikir “beauty makeover” bisa mengeluarkan hal-hal terbaik dari diri kita, itu juga bisa diciptakan oleh rasa mencintai dan dicintai. Love brings out the best of us!

Fashion Makeover
Bagaimana dengan “fashion makeover”? Mengingat pakaian, sepatu, tas, ikat pinggang, dan lain sebagainya adalah “objek tambahan” yang menempel di badan kita, mungkin lucu juga kalau saya ibaratkan “fashion makeover” untuk jiwa adalah hal-hal “pelengkap namun penting” yang mampu membuat kita tampil maksimal, misalnya orang-orang terdekat seperti keluarga (pasangan, anak-anak, atau keluarga di mana kita dibesarkan) yang bisa membuat kita lebih percaya diri ketika kita harus tampil di tempat umum. Atau mungkin sahabat-sahabat terbaik kita yang selalu ada di sana untuk memberikan dukungan di saat-saat sulit. Bisa juga hal-hal seperti mimpi dan passion yang mendasari pembentukkan karakter dan kepribadian kita. Fashion statement always speaks about personality and character. Again, if it works for you physically, it also works for you spiritually.

Semoga saja kalau hari ini Anda memutuskan untuk melakukan ”makeover” dari dalam, bukan hanya semata-mata untuk “fit in”, karena alasan itu tidak akan tahan lama. Pastikan diri Anda untuk melakukan “makeover” dari dalam dengan tujuan untuk meraih kebahagiaan sejati, sehingga apa yang ada di dalam bisa terpancar keluar dari diri Anda dan dirasakan oleh banyak orang. Milikilah cinta, milikilah mimpi dan passion. Kelilingilah hidup Anda dengan orang-orang yang benar-benar mencintai Anda. Ketika kecantikan dan tren fashion bisa dicuri oleh waktu dan orang lain, saya yakin, “kecantikan” yang ada di dalam kita tidak akan pernah bisa dicuri oleh siapapun atau apapun selama kita menjaganya dengan baik.

Mona Lisa dalam wujud manusia normal yang sudah mengalami “makeover” dari dalam, pasti setuju dengan saya. (*)

Bukan Udara, Air, Atau Api

a598971726_1556732_11711
Bohong kalau saya bilang kamu udara
Tanpa kamu, saya masih bernafas
Tidak perlu banyak bertanya
Kamu ada, tanpa saya kerja keras

Kamu juga bukan air
Tanpa kamu, saya masih bisa minum
Masih pakai logika berpikir
Mengasihi walau tidak ranum

Kamu memang bukan api
Tanpa kamu, saya masih merasakan kehangatan
Jelas bukan sumber panas hati
Karena kamu bawa ketenangan

Kamu bergerak
Kamu dinamis
Kamu.. hidup.

Kamu itu seperti angin
Tidak ada, tidak dicari
Ketika ada, digemari
Kamu mampu membuat aku d(ingin)

Kamu itu seperti ombak
Tenang-tenang menghanyutkan
Seringkali sulit ditebak
Mungkin yang tahu cuma Tuhan

Kamu itu seperti lautan api
Karena sangat besar apinya
Yang terbakar tidak lagi merasa sakitnya
Tapi perlahan-lahan mati

Kamu bergerak
Kamu dinamis
Kamu.. hidup.

Si Ombak

a598971726_1502943_52

Hey you,
I hope this note finds you well.

I’m missing you. I have been missing you since the last time we talked on the phone. Listening to your voice was like a different kind of carnival to the soul. Yeah, it has always been you, the only person who balances me.

Remember when I told you about falling for that guy? You laughed so hard until I hardly could see your eyes. You said, “Congrats, you finally know how to love again,” but I sensed bitterness. Somehow your line sounded cynical. But you congratulated me, you’ve always been a great friend. Oh yeah, by the way, you were right. He didn’t deserve my feelings.

FYI, I am still in a good ‘healthy’ shape. I missed you checking up on me every saturday morning, during my gym session. I also kinda missed those times you paid attention to small things I always got fussy about. The vegetarian snack you gave me that night, that was sweet.

What about those stupid moments we had. The elevator incident, ring a bell? Only a guy like you could make me laugh like that.

I did a lot of thinking, you know. Especially during idle moment such as waiting for my 15 minutes time during sauna (no, I didn’t mean it in a kinky way :-D ), I thought a lot about you. How you always managed to calm me down. How I always sensed the exact same thing every time I was with you. Pardon me, but I sensed that you have so much thoughts and feelings that were deeply buried under your calm and ‘keep-it-all-together’ facade. Only God knows what.

There is something I need to tell you.
Something you might not like.

I think I fell in love (again), with all the wrong reasons and excuses. Okay, now is the time for you to laugh.

Laugh, laugh all you want.

But hey, you have always been there for me, right?
You will always be there to catch me when I fall.

Hey you,
I’m missing.. the friendship. Your sarcastic laughs. How easy that is for you to read my mind. How you treat me like a little princess who ’should know better’.

I know you will always be there to catch me when I fall.

Right now, I would take you in any forms. Poured, sprinkled, or whatever.

Counting Down To 13th Of November

Posting ini special gw bikin untuk menyambut datangnya tanggal 13 November 2008, cause on that day I’m turning 26!

Hari Sabtu yang lalu, gw, nyokap dan dua orang pembantu di rumah berniat mau beresin kamar gw yang memang… yaaaaah, lumayan challenging deh :-D

Ini dia ‘kapal pecah’ yang disebabkan sama isi kamar gw:

I don’t know about you, but I’m not a reminiscing type of person, gw nggak terlalu suka nostalgia atau mengingat masa-masa lalu, terutama hal-hal yang nggak terlalu menyenangkan (hahaha), I’m a today’s person. Tapi lucu juga sih waktu pas beres-beres kamar itu, gw menemukan banyak hal-hal lucu dari masa lalu. Yaaaah.. sekali-kali posting di blog ini ngomongin kehidupan gw, nggak papa ya? :-) Itung-itung, kita kenalan lebih jauh lagi…

Pertama, gw nemuin boneka Cookie Monster yang dikasih oleh seorang laki-laki berinisial M ketika gw kuliah di Perth dulu. Ini dia bonekanya:

Percakapan lucu yang terjadi antara gw dan nyokap…

Mom: “Ini boneka bukannya biasanya warna merah ya?” (sambil nunjuk ke Cookie Monster)

Gw: “No, Mom. That’s Elmo.”

:-D

Anyway, gw ternyata dari masih kecil sampai sekarang memang doyan banget baca. Buku-buku di kamar gw ada buanyaaaaak banget.. ini sebagian dari koleksi buku gw yang sempet dikeluarin pertama-tama:

Dan ternyata, gw dari dulu emang banci publikasi. Sewaktu kuliah di Perth dulu, gw pernah gabung di band jazz bernama Wisemensay, sampai akhirnya gw ribut sama bassist-nya, dan gw memutuskan cabut. Setelah cabut, gw sempet bikin band bales dendam beraliran pop-alternative, biasa deh jiwa rebel, sengaja ngambil aliran yang jauh dari jazz. Nama band itu adalah Eleven Hours. Pada suatu hari kita manggung di acara anak-anak Indonesia di Perth, and we were a hit! We made it to a local tabloid. Here are the tabloid’s cover and article:

Kalau kalian udah cukup kenal gw, you guys would know that I’m a vegetarian. Yes, I am. Sudah menuju dua tahun pas minggu depan pas gw ulang tahun tanggal 13 November nanti. Kalau orang tanya, apa sebabnya gw pengen jadi vegetarian, jawabannya cuma satu. HEWAN. Terlalu cinta. Menurut gw, mereka punya hak yang sama untuk hidup. Kalau orang mikir gw baru ujug-ujug jadi vegetarian, tandanya orang itu nggak kenal gw, karena waktu SMU kelas 1, gw sudah jadi vegetarian walau akhirnya berhenti karena nyokap nggak kasih gw bikin keputusan besar dalam hidup, dibawah umur 21 tahun (hahaha). Nih dia newsletter vegetarian dari tahun gw masih SMU:

Nggak cuma hal-hal tadi yang lucu buat diliatin, ternyata dari masih umur 13 tahunan, gw memang sudah suka nulis. Banyak banget cerpen dan cerbung yang gw pernah bikin, ada yang dikirim ke radio, majalah, dan lain sebagainya. Some of the titles were, “Agent Spencer 123″ (don’t know why the heck did I use the name Spencer), “Love Request”, “Sitti Nurbaya” for high school play (script), dan masih buanyak lagi:

Nggak cuma itu, ternyata mendukung fakta banci tampil, waktu SMP di Santa Ursula, gw ikut serta di OSIS. Ini dia list pernyataan gw untuk mencalonkan diri jadi OSIS:

And I did make it. OSIS sie Publikasi. Tuh kan, emang suka publikasi dari dulu juga :-D

Oh yeah, nggak cuma itu, the story still continues…

Gw suka berhubungan sama manusia. See books above? Cuma orang-orang yang bener-bener suka berhubungan sama manusia yang mau baca buku berjudul, “How To Be A People Magnet” :-D Ternyata memang ketertarikan sama area ini sudah ada di darah. Kalau ada orang bilang, “Laras, you’re such a flirt!” Oh well, blame the book :-)

AKHIRNYA, setelah bekerja seharian (hihihi), inilah kamar gw setelah dibersihin.. lapang.. kosong.. dan sangat nyaman :-D

Semoga aja dengan membaca ini, elo ngerasa lebih deket sama gw. I hope I can be a good friend to you, or at least someone who can infuse something positive into your life. Sekarang gantian ya, please tell me one thing about yourself. I want to know you more. Mau comment yang lain juga nggak pa-pa sih :-D

“Rectoverso”, The Review

Larasati Silalahi
Broadcaster
87.6 Hard Rock FM Jakarta

“Rectoverso”

Gw memang bukan tipe manusia yang rajin melapisi setiap buku dengan sampul plastik. Semua keberadaan buku koleksi gw punya penampilan yang berbeda sesuai dengan ceritanya. Every book has its own story, and this is the story of “Rectoverso”…

Setelah meluangkan lima jam penuh di coffee shop, semata-mata untuk menyelami “Rectoverso”, buku dengan sampul hijau ini akhirnya banyak dilumuri saus dari kue cokelat dan sedikit aroma kopi, persis seperti kesan yang gw dapatkan setelah membaca buah pikiran dan hati seorang Dewi Dee Lestari. Perasaan hati gw jadi acak-acakkan memang, tapi rasanya nikmat.

Gw tertegun karena manisnya “Aku Ada”, menangis karena pahitnya “Firasat”, memejamkan mata karena romantisnya “Peluk”, lalu tersenyum karena harumnya aroma “Rectoverso, Curhat Buat Sahabat”. Memang tidak ada pengalaman yang lebih berharga daripada mengalami proses belajar untuk menghargai cinta melalui sudut pandang yang berbeda-beda. Oleh karena itu kita butuh cermin, supaya tidak melulu berpikir kalau cinta hanya untuk disimpan sendiri, melainkan untuk dibagi.

Harus diakui, gw bukan ahli musik yang bisa mengulas sebuah album. But I really did have a sweet journey during listening to songs like “Aku Ada”, “Malaikat Juga Tahu”, “Selamat Ulang Tahun”, “Grow A Day Older”, and also “Cicak Di Dinding” that brings me back to my childhood era, “Cicak, cicak di dinding..” but this time I also sense maturity, romance, wisdom, and strength.

Sebelas cerita dan sebelas lagu yang ada di dalam buku dan album “Rectoverso”, ditambah dengan serangkaian visual di antaranya, membuat gw terbuai di dalam satu dunia penuh cinta. Magical, bukan picisan.

Kalau boleh memberi pendapat pribadi, “Rectoverso” bisa jadi obat untuk orang-orang yang selalu mengklaim dirinya ‘logis’, bahkan dalam urusan yang menyangkut perasaan, seperti cinta. Kadang-kadang, tidak ada gunanya menjadi sok kuat dan tidak memakai hati. Kadang-kadang memang firasat kita harus lebih main daripada logika. Kadang-kadang kita lebih baik mempercayai apa yang tidak bisa dilihat. Kadang-kadang kita memang harus berhenti mencari kalau semata hanya ingin mengerti. Buat apa memakai (hanya) logika kalau tubuh, jiwa, dan roh tidak sinkron?

Keindahan “Rectoverso” juga terletak pada fakta hibrida-nya, karya ini lebih baik dinikmati bersamaan. Karena kalau tidak, kita bisa tersesat dalam pemikiran atau asumsi sendiri. Sebut saja lagu “Malaikat Juga Tahu”, setelah single-nya diputar di banyak radio ibukota (termasuk di Hard Rock FM :-) ), banyak penikmat musik Dewi Dee Lestari yang sibuk menerka cerita di balik lirik yang sangat jujur itu, tidak sedikit juga yang mengirimkan e-mail dan sms ke gw untuk berdiskusi. Namun gw yakin, ketika kita membaca bukunya, semua imajinasi pribadi langsung luntur sesaat. Tapi hal ini wajar juga ya, mengingat setiap orang pasti punya proyeksi pada dirinya masing-masing. Sekali lagi, itu memang salah satu kegunaan cermin.

Cermin juga berfungsi untuk melihat sisi lain yang selama ini selalu datang berpasangan. Gw suka kutipan kalimat Dewi Dee Lestari pada cerita “Grow A Day Older”, “A perfect chocolate bar should be bitter sweet, not all sweet, and certainly not all bitter, for then you lose all the fun.” Itulah kehidupan, itulah cinta. Ada pahit dan manis, gelap dan terang, siang dan malam, hidup dan mati, dan seterusnya. Itulah “Rectoverso”, bukan untuk dimengerti, tapi untuk dinikmati.

Jadi gimana, siap diacak-acak perasaan hatinya?

Thanks to bYSI

Waktu dikasih kabar gw akan ngemsi di acara conference wanita, pertanyaan pertama yang muncul di kepala adalah, “Pake baju apa ya?”

Thanks to the power of micro-blogging, I put up a line on Twitter: “Anyone knows any boutique owner who can dress me up?” Dengan cepat, bantuan-bantuan berdatangan, salah duanya datang dari Kenny dan Jiji. I finally got in contact with bYSI who was willing to lend some of their dresses.

Akhirnya, di Sabtu sore yang cerah (halah!) serulah gw mencoba-coba banyak baju dari satu toko bYSI – Senayan City, thanks to Martin and Christa! Yeah, this is what every girl would feel, like owning the world!

Kalau ada butik yang mau endorse gw untuk setiap kali ngemsi, lucu juga kali ya? :-D

Ps. Gw foto-foto di changing room ini bukan karena narsis, tapi memang the owner wanted to see the dresses on me, untuk bantuin milih! Hehehehe…

Amazing Dee

Kalau selama ini orang suka melihat sisi ‘cool’ gw, di hari Jumat 29 Agustus 2008 jam 9 pagi, rusaklah semua image-image itu. Jadi ceritanya gw sudah denger kabar dari seminggu sebelumnya (thanks to Budhi Samsudin dan Nasta Inda Sadikin, duo produser GMHR yang sangat mengerti kenorakkan gw) kalau Dewi ‘Dee’ Lestari akan datang ke Hard Rock FM untuk interview di Good Morning Hard Rockers Show (GMHR).

Sedikit background saja, gw sudah ngefans sama tulisan seorang Dewi Lestari dari awal dia menulis “Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh.” Dulu gw masih kuliah di Perth, setiap pulang Indo, sementara anak-anak perantauan lain sibuk shopping baju, gw sibuk ngeburu buku-buku Dee.

Jadilah dibela-belain ya, siaran jam 10 (Powder Room), tapi sudah hadir dari jam 9 pagi. Masuk ruangan dengan muka norak dan tingkah super kampungan. Secara anak-anak kantor sudah pada tahu gimana gw ngefans sama Dewi, mereka sibuk gangguin gw lah. I really lost my cool that morning :-p

Inilah percakapan-percakapan nggak cool gw…

Laras: “Ha…aaaiii.. D..ee..wwii… saya Laras, dari dulu gw suka baa..angge…ett.. baaa…caaa.. tu..liissaa…n… looo…”

Pandji: “Lha, Ras, gw kirain selama ini lo ngefans sama gw? Ternyata ngefans sama Dewi?”

(Dee cuma tertawa melihat kekampungannya gw, dan mendengar becandaan Pandji)

*

Budhi: “Dewi, Laras mau foto bareng…” (Sumpah, Budhi nyengir lebar banget, agak-agak bikin gw jiper)

Inilah hasil fotonya…

*

ON AIR

(Dee lagi nyanyi “Grow A Day Older”, dan gw nangis di pojokkan – males nggak sih? Hahaha.)

Pandji: “Di sini juga ada Larasati Silalahi, lagi nangis dia, Hard Rockers! Ah, tapi dia emang cengeng, nangis mulu. Eh Dewi, Laras ini suka nulis lho. Buka deh www.larasatisilalahi.com, bagus tulisan-tulisan dia.”

Dee: “Oh ya? Laras biasa nulis apa? Mau dong gw baca…”

Pandji: “Jadi dia tuh pernah nulis tentang….” (Pandji mulai mereview blog ini. Thanks, Ndji. Di balik penampilan nakal dan iseng lo, ternyata hati lo baik :-D )

*

OFF AIR

Dee: “Jadi kamu suka nulis, Ras?”

Gw: “Bangeeeettt…”

Dee: “Wah, boleh dong kita ngobrol-ngobrol lagi…”

Gw (mau pingsan): “Do you happen to use BlackBerry?”

Dee: “Yes, I do! Yuk tukeran PIN, kita ping-pingan.”

Gw: “Sure thing!” (sok cool ya?)

*

Karena gw takut terlalu terlihat seperti groupie berwujud stalker, gw banyak ‘menonton’ wawancara dari ruang studio.

Ayu: “Bu, nontonnya di luar ajaaaa… Tampil di setiap foto-foto.”

Gw: “Gila neik, malu gw. Jaim dikit ah.”

Dee: “Ehhh.. nggak papaaa lagiiii.. sini ajaaaa…”

(asssiiikkkk :-D )

*

Bagian paling keren dari wawancara pagi itu adalah ketika Pandji dan Ayu ngebahas gimana Dewi nanggepin semua gosip-gosip tentang perceraiannya dengan Marcell. Dewi sempet bilang, “Kalau selama ini orang bilang ‘diam itu emas’, sebenarnya setiap orang pasti punya sesuatu yang ingin disampaikan. Kalaupun orang itu diam, dalam hatinya pasti banyak yang dipendam. Jadi, diam itu hanya emas imitasi.” (Wow. Saat itu gw teringat lagi kenapa gw ngefans sama perempuan ini.)

*

The next day on BlackBerry messenger…

Dee: “Aku ada surprise buat kamu hari Selasa. Tungguin ya.”

Gw: “Looking forward to it!”

(Sebenarnya gw dan Dee masih nyerocos tentang banyak hal, tapi masih rahasia ah. Hahaha!)

*

Phone call on Tuesday morning…

Reza: “Halo, Laras! Ini Reza Gunawan, kamu hari ini siaran? Aku ada di Cosmopolitan FM nih habis siaran, ada titipan buat kamu dari Dewi.”

Gw (suara tidur): “Haaaaaah? Rezaaaa Gunnaaawaaaan? Thank youuuuu!” (Ngimpi apa gw dibangunin sama Reza Gunawan di pagi yang indah? Halah. Agak lebai yah gw.. hihihih.. tapi sumpah deh, seneeeeeeeng banget gw.)

*

Again, on BlackBerry messenger…

Gw: “Reza just called. THANK YOU SO MUCH!”

Dee: “Hehehe… You’re welcome, Dear. Please let me know what you think after ‘experiencing’ both works…”

Gw: “Will do! Will do! (ancur ya, kebaca noraknya) Btw, I love your ‘Mencari Herman’ short story! Just read it last night.. seperti ada banyak yang mau diungkap lewat cerita yang (cukup) sederhana.”

Dee: “Thank you for noticing.. Memang banyak metafora dan kontemplasi yang kusisipkan dalam cerita itu..”

Gw: “Nanti check blog-ku ya. Mau review ‘Rectoverso’ dan ‘Filosofi Kopi’.”

Dee: “Sure thing.. Aku akan posting comment/review kamu later on website ‘Rectoverso’, boleh ya?”

Gw: “Pleasures all mine!”

*

Akhirnya Rabu sore (hari ini) gw baru bisa ambil titipannya, karenaaaaaa.. kemarin macet gila dari airport, so I just picked them up today.

Inilah titipan seorang Dewi Lestari…

So far, my favorite tracks from “Rectoverso” the album would be: “Tidur”, “Selamat Ulang Tahun”, “Rectoverso, Curhat Buat Sahabat”, “Peluk”, “Malaikat Juga tahu”, “Hanya Isyarat”, “Grow A Day Older”, “Aku Ada”. Nggak sabar pengen baca the stories behind the songs.

Wait for my review on these fabulous stuff :-)

« Previous Entries