Go to content Go to navigation Go to search

Sunny day, sweepin’ the clouds away!

n598971726_1964160_2784

Banyak orang suka bertanya, “Kenapa elo masih suka Elmo sih?” Selalu gw jawab, “Karena ada sisi anak-anak dari diri gw yang tidak boleh hilang. The part of me that keeps me sane during my hectic adult life.”

Gw suka bingung lho, kenapa anak jaman sekarang cepat sekali ingin menjadi dewasa. Sepertinya masa kanak-kanak terlalu membosankan, sampai mereka tidak sabar ingin mengenakan sepatu tumit tinggi, lipstick, atau belajar menyetir. Padahal, ketika umur kita sampai ke angka 25, sering sekali merindukan masa anak-anak yang tidak bisa balik lagi.

Kecenderungan ‘ingin cepat tua’ ini juga yang membuat anak-anak jaman sekarang (termasuk di Indonesia) lebih menggemari lagu-lagu orang dewasa daripada lagu-lagu anak-anak. Coba cek, ada berapa banyak penyanyi cilik di Indonesia sekarang, atau mungkin orang-orang dewasa yang menciptakan atau menyanyikan lagu untuk anak-anak? Anak-anak di bangku TK/SD saja sudah sangat fasih menyanyikan lagu-lagu RAN atau bahkan The Click Five. Tidak salah sih, cuma sayang saja. Sebagai orang yang tipenya ‘menikmati musim’, gw sangat percaya kalau kita hidup, jangan hidup di dunia orang lain. Living our life to the fullest. Jadi kalau memang masih berwujud anak-anak, hidupilah dunia anak-anak.

Sewaktu TK di Australia dulu, salah satu hobi gw untuk menikmati visual dan audio adalah dengan menonton Sesame Street (US). Kalau jaman sekarang, program TV musik (edukasi) anak-anak yang ngehits di sana (Nine Network) mungkin Hi-5 (hi5.com), grup penyanyi yang isinya orang-orang dewasa, namun menciptakan dan menyanyikan lagu anak-anak. Acara TV mereka ini sudah disiarkan ke kurang lebih 83 negara-negara di dunia.

Grup musik anak-anak lain yang juga cukup gw kenal adalah The Wiggles (www.thewiggles.com.au), lagi-lagi, mereka adalah band dari Australia (ABC Network) yang terbentuk di Sydney, tahun 1991. Sama seperti Hi-5, The Wiggles banyak mengeluarkan hits lagu anak-anak yang menjadi favorit.

OK, sedikit pengakuan, gw masih suka nonton Hi-5 dan The Wiggles di cable, dan gw selalu merasa refreshed setelah menonton :-) Senang banget melihat anak-anak kecil yang nyanyi bareng sambil lompat-lompat. Tidak jaim. Tidak buru-buru pengen kelihatan ‘cool’. Deep inside my heart I wished that they would stay innocent, at least until their mature seasons come.

Terlalu berlebihan tidak ya kalau gw berharap di Indonesia kita juga punya grup musik macem itu? Anak-anak Indonesia juga bisa menikmati musik sesuai dengan umur mereka, bahkan belajar banyak hal tentang kehidupan – termasuk mempersiapkan diri untuk pelajaran sekolah – lewat musik sejenis itu. Nanti kalau sudah duduk di bangku SD, seperti Wulan dan teman-temannya (http://samsunghopeid.org/wulan/), baru deh bisa dicoba metode-metode menarik lainnya yang sesuai dengan umurnya (http://samsunghopeid.org/beneficiaries/). Thank God for Samsung Hope!

Mungkin mimpi gw terlalu tinggi, mungkin gw sudah tidak terlalu mengerti dunia anak-anak jaman sekarang, tapi gw nggak bisa membuang dunia anak-anak yang akan selalu ada di dalam diri gw.

Seriously, let it be 26 years old, or even 50 years old… I will always remember the lessons through music that I have learned during my childhood (pre-school).

“Sunny Day
Sweepin’ the clouds away
On my way to where the air is sweet

Can you tell me how to get,
How to get to Sesame Street

Come and play
Everything’s A-OK
Friendly neighbors there
That’s where we meet

Can you tell me how to get
How to get to Sesame Street..”

Perempuan Yang Berbagi

sisterhood

Viewpoint – HerWorld February 2009

Tidak mudah untuk bisa mengerti dunia perempuan seutuhnya meskipun Anda bergender sama, belum lagi kalau Anda laki-laki (mencoba membaca majalah ini untuk mengerti cara pikir perempuan), pastinya banyak misteri yang tidak Anda mengerti.

Sedikit pengakuan, sebenarnya saya adalah tipe perempuan yang lebih suka bergaul dengan lawan jenis. Mungkin karena semasa kecil lebih banyak bermain dengan kakak dan adik laki-laki, saya merasa aman apabila ada bersama dengan mereka. Alasan lain? Selama masih remaja, saya sering mengalami masalah dengan kebiasaan-kebiasaan sahabat perempuan yang suka bergosip, memfitnah, dan terlalu gampang iri (ya memang, ketika sudah berumur 26 tahun seperti sekarang, saya sadar kalau laki-laki juga ada yang begitu). Saat itu saya memutuskan untuk tidak membuka diri untuk bersahabat dengan sesama jenis, apalagi membiarkan diri saya mempercayai mereka.

Okay, okay, don’t hate me just yet. Cara pandang saya sekarang sudah diubahkan bersama dengan berjalannya waktu. Ya, memang harus diakui, ada sisi perempuan yang akan selalu menjadi misteri untuk laki-laki, dan ‘kekosongan’ itu hanya bisa diisi oleh sesama perempuan.

Menurut artikel oleh Hara Estroff Marano dari Psychology Today, “Secrets of Married Men” yang mengutip psikiater Scott Haltzman, M.D., rata-rata perempuan berbicara 7.000 kata setiap harinya, sementara laki-laki hanya 2.000 kata. Hal ini juga didukung oleh pernyataan Allan dan Barbara Pease di buku mereka “Why Men Don’t Listen & Women Can’t Read Maps” yang memberikan data yang mirip kisarannya. Hmm.. bisa jadi, itulah alasan mengapa persahabatan antara perempuan seringkali diwarnai dengan sesi bergosip dan curhat. Perempuan lebih banyak bicara juga disebabkan oleh kebutuhan ingin berbagi.

Mungkin itu juga yang menjadi ide dasar dari dibuatnya novel (oleh Anne Brashares) dan film ‘The Sisterhood of The Traveling Pants’, yang memang inti ceritanya tentang kehidupan empat orang perempuan muda yang walaupun terpisah oleh jarak, tetap berbagai kisah lewat sepasang celana jeans (walau sampai sekarang masih menjadi misteri untuk saya, how could one jeans size fits four body types and sizes? Rocket science!).

Sama seperti saya, Anda dan sahabat-sahabat perempuan memiliki satu kesamaan yang akan selalu menjadi benang merah dari setiap persahabatan antara perempuan, yaitu kata ‘berbagi’.

We Share The Need
Kenalan dulu dengan Irene, salah satu sahabat saya yang sangat mengerti urusan kecantikan. Hobinya adalah menata rambut, saat ini dia sedang merintis karirnya sebagai hairstylist di Jakarta dan Perth. Sebenarnya Irene bukan tipe perempuan yang suka menghadiri pesta-pesta yang mengharuskan dia untuk berdandan, namun dia punya sentuhan magis ketika harus berurusan dengan kecantikan wajah dan rambut.

Nah, berbicara soal kecantikan, cuma sesama perempuan yang mengerti kebutuhan untuk berpenampilan maksimal! Iya, memang sih, katanya laki-laki jaman sekarang juga suka dandan, tapi secara general, laki-laki masih tidak mengerti kenapa perempuan menghabiskan berjam-jam hanya untuk berdandan, atau mengkhususkan hari Sabtunya untuk pergi ke salon, sekedar manicure, pedicure, dan spa rambut. Ketika kita dikelilingi sahabat-sahabat perempuan, kita bisa sebebas mungkin membahas kebutuhan-kebutuhan yang paling terdalam sekalipun.

We Share The Language
Berbicara soal bahasa, Anda harus kenal dengan sahabat saya, Tasia. Tasia mewarisi kemampuan dasar seorang perempuan, yaitu multitasking! Terkadang saya terpana melihat dia makan, sambil menyelesaikan pekerjaan kantor, ngobrol dengan beberapa orang, sambil mencoba beberapa pasang sepatu yang baru saja dikeluarkan dari kotak-kotaknya. Hahaha! Perempuan yang satu ini juga sangat berbakat dalam linguistik, suka menulis dan bermain kata-kata.

Kalau Anda tipe orang yang memperhatikan hal-hal detil, pasti Anda sadar kalau kemampuan ini banyak didapati pada perempuan. Kita secara natural lebih mudah mengungkapkan perasaan atau pemikiran lewat rangkaian kata-kata.

Beberapa contoh ungkapan yang sangat mewakili pembicaraan perempuan dengan sahabat-sahabatnya (dan mungkin saja hanya bisa dimengerti oleh sesama perempuan):

Tentang kecantikan:
“Don’t be bitter. It leads to Botox.” (Catherine, ‘The Women’)

Tentang kebutuhan dalam urusan fashion:
“No, please, don’t get me a diamond… get me a really big closet.” (Carrie, ‘Sex & The City’)

Tentang persahabatan:
“To us. Who we were, and who we are. And who we’ll be.” (Bridget, ‘The Sisterhood of The Traveling Pants’)

Dan tentang mengalami patah hati:
“It feels like someone kicked you in the stomach, feels like your heart stopped beating, feels like that dream you know the one when you are falling and you want so desperately to wake up before you hit the ground but its all out of your control, you cant trust anything anymore, no one is who they say they are, your life is changed forever, and the only thing to come out of the whole ugly experience is no one will be able to break your heart like that again.” (Catherine, ‘The Women’)

We Share The Passion
Kenalan yuk dengan sahabat saya, Lala. Kami berdua adalah pemimpi. Kita seringkali bicara sampai pagi hari hanya untuk berbagi mimpi dan passion dalam banyak hal. Salah satu yang menjadi cita-cita kami berdua adalah memajukan kehidupan perempuan, dimulai dengan orang-orang yang ada di sekeliling kami.

Memang, kita bisa berbagi mimpi dan passion kepada siapa saja, namun tidak bisa dipungkiri, ada beberapa jenis impian yang hanya bisa dimengerti oleh sesama perempuan. Kita bisa mengerti karena kita sudah menghidupi keseharian dengan kebiasaan berbagi. Ada mimpi-mimpi yang tidak perlu diperkatakan, namun di dalam hati, kita dan sahabat-sahabat akan selalu tahu.

*

Dengan jujur harus saya akui, kedekatan saya dengan ketiga sahabat sudah teruji lewat banyak hal. Kami pernah melewati masa-masa berat bersama, berargumen dengan satu sama lain, saling tidak menyukai karakter satu sama lain, sampai hal-hal bodoh seperti ‘rebutan’ laki-laki (oops!).

Fakta kami mampu melewati itu semua dalam lebih dari satu dekade justru menjadi bukti solid kalau kami memang diperuntukkan untuk menjadi sahabat bagi satu sama lain.

So be glad if you have your ‘sisters’ around you. Not only we have the privilege to share the need, passion, and language (or even pants?), but moreover, we share the love. (*)

What Did They Teach You?

samsunghope

Selama getaway di Singapore kemarin, gw sempat menghabiskan beberapa waktu untuk santai-santai di depan TV. Nah biasanya, waktu nonton acara-acara kesukaan gw itu (Ellen, Hi-5, dan American Idol), suka muncul nih iklan layanan masyarakat yang dibikin oleh Departemen Pendidikannya Singapore.

Iklan itu sederhana, dimulai dengan pertanyaan (yang ditanyakan kepada beberapa orang) tentang ‘hal apa yang pernah diajarkan oleh guru di masa sekolah yang masih diingat sampai sekarang?’. Jawabannya macam-macam, mulai dari nilai-nilai kehidupan, bagaimana guru-guru mereka berperilaku, sampai ada satu perempuan yang (kurang-lebih) bilang, “The scariest question my teacher always asked us was, ‘what is your passion?’, because I didn’t know the answer.”

Lalu iklan itu dilanjutkan dengan simple encouragement untuk mengajak orang-orang yang memang terpanggil menjadi guru, untuk mulai mengajar dan mengedukasi bangsa mereka.

I know, it’s simple, but it really moved me.

Membuat gw jadi bertanya sama diri sendiri, hal apa yang pernah diajarkan oleh guru gw ketika sekolah, yang sampai sekarang masih gw ingat? Ada banyak. Tapi yang benar-benar mengubah hidup gw adalah kehidupan seorang Bapak Hindra dari SMUK V, yang mengajarkan gw untuk tidak menjadi orang yang ceroboh ketika menghadapi masalah atau situasi genting. Beliau orangnya tenang, dan sangat wise. Selain dari gaya hidupnya yang (juga) positif dan sehat, beliau selalu menjadi panutan gw untuk belajar menjadi orang yang bisa ‘keeping it all together’, bahkan ketika segala sesuatu lagi kacau. Ketika guru-guru lain suka marah dan main bentak, beliau bisa menegur dengan sangat wise, membuat murid-murid tahu salahnya di mana, tapi tidak merasa dihakimi. I think it’s very important for every teacher to have that kind of quality.

Untuk bisa memberikan edukasi yang baik, dibutuhkan guru-guru dengan kualitas yang baik, dan fasilitas yang baik. Oleh karena itu, hal-hal sederhana seperti memberikan pilihan di http://samsunghope.org/ bisa jadi hal yang sangat besar manfaatnya untuk generasi di bawah kita. Kerinduan gw, pada suatu hari nanti, ketika anak-anak kecil itu sudah dewasa, mereka bisa bercerita tentang bagaimana sekolah, guru-guru, dan fasilitas belajar-mengajarnya berhasil membuat mereka menjadi orang yang sukses.

Balik lagi ke iklan layanan masyarakat Singapore tadi, di akhir dari klip tersebut, orang-orang yang sama, yang di awal bercerita soal guru-guru mereka di masa kecil, melanjutkan ceritanya tentang perubahan pada kehidupan mereka karena ajaran si guru. Ada yang sekarang mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang sama kepada anak-anaknya, ada yang akhirnya menjadi seorang pengacara karena gurunya yang selalu bertindak adil, dan si perempuan yang paling takut sama pertanyaan, ‘what’s your passion’ akhirnya menemukan jawaban dari pertanyaan itu.

“My passion is to teach. Now I am also a teacher.” :-)