Go to content Go to navigation Go to search

||

3178022064_f56009f522_m
Creative Commons License photo credit: montillon

Many of us don’t like the word ‘pause’. Especially our gadget-savvy generation, living in a very instant world, everything runs so fast, and when it doesn’t, we think something is wrong.

How many times have we been facing that moment, where we need to make a decision, and we decide to make the fastest decision ever? Sometimes it has nothing to do with urgency, simply because we, as human, want to get over with things instantly.

Too many people rushing into relationships, deciding to get married, choosing jobs, finding schools, without considering consequences, risks, and impacts. We often forget that those things come in a package, and most of the time, those things that are too quickly being made, are too risky to have.

Why don’t we like to pause?

I think it has everything to do with impatience. We think we’re running out of time. We think we know best. We think there is nothing else better than what is in front of our eyes. We don’t want to wait. We simply can’t stand the process that involves PAUSING.

Me, myself, dislike the word ‘pause’. I feel powerless when I have to take a break, consciously knowing that I am on PAUSE and letting things happen the way they should. Even now, after I have decided to pause.. I’m still having questions.

For how long?
What do I have to lose?
Will I miss great things?
If I do miss it, will there any second chances?
How do I stay calm on PAUSE, while I see my friends running around busy deciding things? Making impulsive actions, living their lives dangerously, putting their lives at stake, those are the things that excite me (most of the time).

But you know what, to PAUSE is actually takes a lot of guts. It IS also exciting!
The word ‘pause’ is not a passive word, it’s active. WE MAKE THE DECISION TO PAUSE.

Oh yeah, I have made that decision. It started as something that was very painful, but now I’m (kinda) used to it.

While everybody else rushing to make impulsive decisions, I am just going to PAUSE. Watching them running around, torn apart, breaking to pieces, losing themselves, and I am here..

Resting. Watching. Learning. Guarding. Waiting.

Until THAT day comes, whenever I am ready, the right somebody will come into my PAUSED (||) life and press PLAY (>). Looking forward to that day, but now I am cherishing my today. No FAST FORWARD (>>) needed.

My life is on || and I’m loving it!

Jangan Pintar Doank

kandank-jurank

Kalau ada orang yang bertanya ke orang tua gw tentang keunikkan gw sewaktu masih kecil, pasti keduanya akan bilang hal yang sama.

“Sementara anak-anak kecil lain biasanya minta dibelikan mainan atau dikasih uang jajan ekstra, kalau Laras tuh agak sedikit beda. Setiap mau ditinggal sama Papa Mamanya, dia selalu minta ditinggalin setumpuk kertas sama spidol warna-warni. Buat menggambar, katanya. Anak itu sukanya mojok, menggambar, melukis, atau baca buku saja.”

I used to think I was weird, until I finally came to know myself as a whole being. Bahkan gw tau, sampai sekarang masih banyak orang yang suka bilang kalau gw aneh, selalu tenggelam sama pikiran, dan senang berimajinasi dan berkutat sama hal-hal kreatif. So what, that’s my world :-)

Waktu kecil dulu, ada satu hal yang selalu menjadi impian gw.. yaitu hidup di satu negeri yang isinya kreativitas. Gw bisa bebas nyanyi, nari, gambar, menulis, dan dikelilingi oleh orang-orang yang juga menghargai karya seni. Ternyata impian gw itu sudah diwujudkan oleh seorang laki-laki bernama Dik Doank, yang (jujur saja) baru gw benar-benar ‘kenal’ setelah mendengar soal Kandank Jurank Doank (KJD), satu Komunitas Kreatifitas untuk anak-anak kurang mampu antara usia enam sampai dua belas tahun.

Hari Jumat, 23 Januari 2009 yang lalu, akhirnya gw mendapat kesempatan untuk berkunjung ke KJD bareng teman-teman dari Samsung Electronics Indonesia (SEIN) yang mendukung lewat program CSR-nya – Samsung Hope Indonesia, Think.Web, dan temen-temen baru yang asik-asik orangnya (ihiy, GR pasti lo semua!), mereka adalah Ndoro Kakung, Chika, Ollie, dan Iqbal.

Selain touring keliling KJD, yang ternyata lengkap dengan ruang-ruang kelas (multimedia, fotografi, etc), dan outbond, kita juga menyempatkan diri untuk hadir di salah satu kelas mereka. Gw suka banget melihat anak-anak yang ditantang untuk bisa berpikir kreatif (pintar doang nggak berarti kreatif), menciptakan alat transportasi baru yang bisa dipakai di darat, laut, dan udara. I could see some of them looked excited, and some were clueless :-p

Ketika kelas berlangsung, gw menyempatkan diri untuk ngobrol dengan beberapa orang tua dari anak-anak itu. Menurut beberapa tante di sana, biasanya mereka mengikuti kelas di KJD setelah atau sebelum masuk sekolah, misalnya sekolah pagi, ya ke KJD siang, kalau sekolah siang, ke KJD-nya pagi. Paling enak kalau akhir pekan, lebih ramai, katanya. Gw pribadi sih setuju banget, daripada anak-anak bengong nggak tau mau ngapain, lebih baik waktunya dipakai untuk suatu hal yang berguna dan menyenangkan.

Para orang tua juga bercerita kalau anak-anak dari kelas tari Saman sudah sering mengisi (tampil) di acara-acara kantoran, bahkan acara-acara yang melibatkan kerjasama dengan negara-negara lain. Wow!

Sore itu Mas Dik sempat bertanya, “Berapa banyak keluarga di jaman sekarang masih menempelkan kertas gambar di kulkas atau di tembok rumah?” Gw yakin jawabannya, nggak banyak :-D He really had a good point. Sudah seharusnya orang tua lebih mendorong anak-anaknya untuk berkarya, menghargai apa yang menjadi ide atau imajinasi kreatif mereka karena banyak anak-anak yang mungkin ranking lima besar di sekolahnya, tapi belum tentu memiliki daya imajinasi yang tinggi.

Di akhir dari acara, gw sempet ngobrol singkat dengan Mas Dik sendiri. Sedikit sharing saja tentang gimana senangnya gw ada di sana, melihat anak-anak belajar untuk bisa lebih lagi menyalurkan kreativitas mereka, dan terlebih lagi, melihat salah satu mimpi masa kecil gw yang terwujud berkat adanya orang-orang seperti Mas Dik (juga semua relawan pastinya!).

Mungkin untuk gw sendiri dan beberapa orang lain, kami cukup beruntung bisa mengecap pendidikan di luar negeri yang entah kenapa, sepertinya lebih banyak menekankan untuk berpikir kreatif daripada (kurikulum) yang kita punya di negeri ini. Well, let’s stop complaining and just do our part to give support for the BEST education in our beloved country. Let’s start with the simplest thing, by clicking on this, and take part in the voting process (on any beneficiaries).

Create better futures through our fingers :-)

Being Smart Is One Thing

being-smart-is-one-thing

Minggu pertama 2009 bukan minggu yang gampang buat keluarga gw, mungkin ada beberapa di antara temen-temen gw yang tau soal my beloved uncle yang passed away on the 1st day of 2009.

I could write pages and pages about my late uncle, but I’m sure that is not the point of myself writing this. Kalo gw cuma bisa menuliskan satu hal baik tentang Tulang (panggilan di suku Batak) gw ini adalah passionnya dalam mengajar. Tulang Parouli Pakpahan seorang dosen di ITB, Bandung, by the way.

Sewaktu gw on the way ke Bandung dengan keluarga, mama cerita satu hal yang bikin gw tersentuh. Mama bilang, dari dia kecil, ada dua abangnya yang punya kemiripan, keduanya sama-sama pintar, selalu rangking satu, dan menjadi kesayangan guru. Salah satunya adalah Tulang Parouli ini. Yang membedakan Tulang Parouli dengan kakak-kakak mama yang lain adalah hatinya untuk sesama. Mungkin kalau mau ditandingin kepinterannya, ada kakak mama yang lebih jenius dan memang terbukti otaknya gokil. Tapi kalau mama nanya PR sama dia, langsung dibikinin, lalu bukunya dibalikin dengan semua pertanyaan yang sudah lengkap dengan jawaban (tinggal adik-adiknya yang bingung gimana cara ngerjain ulang), sementara kalau Tulang Parouli selalu dengan sabar mengajar detil ke mama gimana proses mendapatkan jawaban dari setiap pertanyaan.

That’s the difference between being smart and being a teacher. Nggak heran kalau Tulang Parouli memang suka mengajar, karena passion-nya adalah ingin berbagi ilmu. My uncle has passed away, but his passion for teaching.. lives on.

Yang membedakan seorang guru dengan seseorang yang (hanya) pintar adalah hatinya. It takes a heart that loves the people to enables someone in becoming a teacher. Harus punya hati yang mau berbagi, yang mau melihat kehidupan orang lain maju karena pengetahuan yang kita punya.

Being smart is not everything. It doesn’t stop there. We need to do more, and that includes TO SHARE. Bayangkan berapa banyak anak-anak Indonesia yang nggak mempunyai kesempatan untuk belajar cuma karena kita terlalu ‘pelit’ berbagi ilmu.

Ketika gw baca fakta ‘12 juta anak Indonesia putus sekolah’, I was broken hearted. Mungkin sedikit banyak, karena kita kurang mau berbagi juga mendukung adanya fakta ini. Being smart is one thing, and then.. what’s next?

Setelah kepergian uncle gw kemarin, I realized that his passion also lives in me. I love to teach, i love to help people around me realizing their potentials. Semoga aja elo punya passion yang sama. Paling enggak, elo punya hati untuk ngebantu orang lain, so let’s do something about this.

Let’s start to share.

Your money. Your passion. Your knowledge. Anything. Starts with what’s in your hands.

What’s New?

herworld

Viewpoint – HerWorld January 2009

Survei kecil-kecilan yang saya pasang di Twitter, “When you hear the word NEW, what pops up in your mind?” Pilihan jawabannya beragam mulai dari fun, challenge, excitement, dan juga relationship (yang ini pasti lagi craving nyari pasangan baru).

Sapaan andalan saya ketika bertemu dengan teman yang sudah lama menghilang adalah, “Hey, how are you? What’s new in life?” Karena memang pada dasarnya, kalau kita sudah lama tidak mendengar kabar tentang seseorang, dan akhirnya ada kesempatan untuk bertanya, yang ingin kita ketahui adalah hal-hal barunya. Buat apa tanya soal yang lama, yang kita sudah tahu. Kata ‘baru’ memang terdengar sangat menarik. Tahun baru, gaya baru, pasangan baru, suasana baru, penulis baru (that’s me, by the way).

New = Changes
Sadarkah Anda, banyak orang berpendapat kalau, ‘people are always reluctant to changes’. Hal yang sangat manusiawi, karena memang kata ‘baru’ selalu datang dengan kata lain, yaitu ‘perubahan’ dan pada dasarnya, manusia tidak terlalu suka dengan perubahan, terutama hal-hal yang drastis, diluar rutinitas atau kebiasaan. Jelas, kalau ada perubahan, tandanya harus ada penyesuaian, belum lagi ‘harga’ yang harus dibayar untuk bisa menyesuaikan diri dengan hal baru tersebut. Contoh nih, pasangan baru. Tidak usah jauh-jauh, pasti ada dari antara teman (atau Anda sendiri) yang pernah mengalami proses berhubungan lebih dari dua tahun dan berjuang sampai titik darah penghabisan untuk tidak mengakhiri hubungan hanya karena, ‘malas memulai yang baru’, sudah terlanjur berada di comfort zone, padahal sudah tahu kalau ada ketidakcocokkan yang signifikan.

Hal ini juga bisa terjadi di lingkungan pekerjaan kita di mana comfort zone dalam bekerja seringkali terbentuk. Untuk orang-orang yang lebih banyak merasa takut dan enggan membuat keputusan besar, lebih baik menderita bekerja di perusahaan yang sama, dibandingkan harus mencari pekerjaan baru, memulai dari awal, dan mengorbankan apa yang sudah dimiliki saat ini.

Tahun lalu ketika saya memutuskan untuk resign dari posisi sebagai Art Director, banyak pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari orang-orang sekitar. I have always known my passion in communication area, and wanted to do something about it. Saya tinggalkan comfort zone dan mencoba mencari pekerjaan baru di area komunikasi. Waktu itu saya belum punya networks apa-apa, memang bocah nekat ?. My mom has always been there to support my passion, but my dad was pretty furious back then. Pada akhirnya saya mendapat kesempatan untuk menjadi salah satu penyiar di 87.6 Hard Rock FM Jakarta, and there it was, I found my passion.

Pengalaman tersebut menggelitik sisi filosofi saya, “When you’re sticking on to the good things, you might be missing out on the great things.”

New = Knowing What You Really Want!
Kalau ada pernyataan begini, “Saya ingin membeli smart phone baru deh,” kayaknya akan menjadi sangat aneh apabila disambung dengan pernyataan, “..tapi nggak tahu sih mau yang mana.” Lho? Menginginkan sesuatu yang baru harus diimbangi dengan pengetahuan tentang ‘baru yang seperti apa yang Anda cari’.

Beberapa tahun yang lalu, seorang teman pernah mempunyai cita-cita membeli apartemen idamannya. Saya masih ingat betul, ketika teman ini bercerita kepada seorang mentor, hal pertama yang disarankan kepadanya (bahkan waktu itu uangnya belum ada) adalah, “Sudah tahu mau apartemen model apa? Try to list down what you’re looking for.” WOW! It sounds very simple. Allow me to ask, how many of us do this when we really want something? Menulis kriteria sekolah terbaik untuk anak Anda mungkin? Atau dalam mencari pasangan hidup? Sudahkah Anda membuat list kriteria yang Anda cari di dalam hal ‘baru’ tersebut? Do you know what you really want?

Ketika kita tidak tahu apa yang kita mau, segala sesuatunya bisa jadi berantakan lho. Bayangkan ketika kita tidak tahu tipe smart phone apa yang kita mau, dengan sangat mudahnya kita bisa termakan omongan penjual yang hanya memikirkan sales. Ketika kita tidak jelas tentang personal passion, kita mung