Go to content Go to navigation Go to search

“Rectoverso”, The Review

Larasati Silalahi
Broadcaster
87.6 Hard Rock FM Jakarta

“Rectoverso”

Gw memang bukan tipe manusia yang rajin melapisi setiap buku dengan sampul plastik. Semua keberadaan buku koleksi gw punya penampilan yang berbeda sesuai dengan ceritanya. Every book has its own story, and this is the story of “Rectoverso”…

Setelah meluangkan lima jam penuh di coffee shop, semata-mata untuk menyelami “Rectoverso”, buku dengan sampul hijau ini akhirnya banyak dilumuri saus dari kue cokelat dan sedikit aroma kopi, persis seperti kesan yang gw dapatkan setelah membaca buah pikiran dan hati seorang Dewi Dee Lestari. Perasaan hati gw jadi acak-acakkan memang, tapi rasanya nikmat.

Gw tertegun karena manisnya “Aku Ada”, menangis karena pahitnya “Firasat”, memejamkan mata karena romantisnya “Peluk”, lalu tersenyum karena harumnya aroma “Rectoverso, Curhat Buat Sahabat”. Memang tidak ada pengalaman yang lebih berharga daripada mengalami proses belajar untuk menghargai cinta melalui sudut pandang yang berbeda-beda. Oleh karena itu kita butuh cermin, supaya tidak melulu berpikir kalau cinta hanya untuk disimpan sendiri, melainkan untuk dibagi.

Harus diakui, gw bukan ahli musik yang bisa mengulas sebuah album. But I really did have a sweet journey during listening to songs like “Aku Ada”, “Malaikat Juga Tahu”, “Selamat Ulang Tahun”, “Grow A Day Older”, and also “Cicak Di Dinding” that brings me back to my childhood era, “Cicak, cicak di dinding..” but this time I also sense maturity, romance, wisdom, and strength.

Sebelas cerita dan sebelas lagu yang ada di dalam buku dan album “Rectoverso”, ditambah dengan serangkaian visual di antaranya, membuat gw terbuai di dalam satu dunia penuh cinta. Magical, bukan picisan.

Kalau boleh memberi pendapat pribadi, “Rectoverso” bisa jadi obat untuk orang-orang yang selalu mengklaim dirinya ‘logis’, bahkan dalam urusan yang menyangkut perasaan, seperti cinta. Kadang-kadang, tidak ada gunanya menjadi sok kuat dan tidak memakai hati. Kadang-kadang memang firasat kita harus lebih main daripada logika. Kadang-kadang kita lebih baik mempercayai apa yang tidak bisa dilihat. Kadang-kadang kita memang harus berhenti mencari kalau semata hanya ingin mengerti. Buat apa memakai (hanya) logika kalau tubuh, jiwa, dan roh tidak sinkron?

Keindahan “Rectoverso” juga terletak pada fakta hibrida-nya, karya ini lebih baik dinikmati bersamaan. Karena kalau tidak, kita bisa tersesat dalam pemikiran atau asumsi sendiri. Sebut saja lagu “Malaikat Juga Tahu”, setelah single-nya diputar di banyak radio ibukota (termasuk di Hard Rock FM :-) ), banyak penikmat musik Dewi Dee Lestari yang sibuk menerka cerita di balik lirik yang sangat jujur itu, tidak sedikit juga yang mengirimkan e-mail dan sms ke gw untuk berdiskusi. Namun gw yakin, ketika kita membaca bukunya, semua imajinasi pribadi langsung luntur sesaat. Tapi hal ini wajar juga ya, mengingat setiap orang pasti punya proyeksi pada dirinya masing-masing. Sekali lagi, itu memang salah satu kegunaan cermin.

Cermin juga berfungsi untuk melihat sisi lain yang selama ini selalu datang berpasangan. Gw suka kutipan kalimat Dewi Dee Lestari pada cerita “Grow A Day Older”, “A perfect chocolate bar should be bitter sweet, not all sweet, and certainly not all bitter, for then you lose all the fun.” Itulah kehidupan, itulah cinta. Ada pahit dan manis, gelap dan terang, siang dan malam, hidup dan mati, dan seterusnya. Itulah “Rectoverso”, bukan untuk dimengerti, tapi untuk dinikmati.

Jadi gimana, siap diacak-acak perasaan hatinya?

What Comes Out Of You?

Gw masih inget banget ketika seorang ‘kakak’ mengajari gw satu tips penting dalam mencari pasangan hidup. Tes karakternya. Katanya cara paling bagus untuk bisa mengenal karakter seseorang adalah melihat bagaimana reaksi dia ketika ‘diinjek kakinya’ :-D Tentunya ini bukan secara literal ya (well, it could also be literally, hehehe).

Maksudnya begini, tentu mudah sekali untuk kita jatuh cinta pada seseorang ketika kondisi kehidupannya lagi senang-senang saja. Semua yang bagus bisa dipasang di depan (apalagi kalau masih stage pendekatan, semua manis). Tapi ketika orang itu lagi ‘diinjek kakinya’, biasanya karakter aslinya keluar. Ibaratnya buah jeruk, kalau diperes, enak nggak rasa jusnya? Busuk nggak? Nanti kalau sudah terlihat ‘aslinya’, tinggal tanya sama diri sendiri, masih mau nggak sama dia?

Pandji juga pernah bilang hal yang sama, kurang lebih begini omongan dia, “How you react towards problems is who you are!” Cara paling gampang untuk menilai orang ya memang itu balik-baliknya. Gimana reaksi orang tersebut ketika dihadapi oleh masalah (sometimes it only takes small problem to support this point).

Semakin gw perhatiin, semakin dianalisa, hal ini memang sangat benar. Dua orang yang berbeda, menghadapi masalah yang sama, bisa beda reaksinya tergantung karakter masing-masing. Misalnya ketika kita digosipin, atau mungkin difitnah, atau mungkin ribut sama temen baik, reaksinya apa?

Apakah kita akan gosip balik?

Atau mungkin memfitnah balik?

Atau jangan-jangan ngediemin temen baik kita berhari-hari (for some people this could be years)?

Atau yang sekarang lagi ngetrend banget, tulis aja lewat blog atau micro-blog :-) Jelek-jelekkin orang yang kita nggak suka, atau mungkin nyindir. Yah, semua-semuanya itu relatif ya, tinggal bagaimana kita menilai seseorang saja.

Hari ini gw mendapat tawaran yang sangat menarik dari seseorang yang mau membela gw, yaitu membalaskan ‘dendam’ (mungkin lebih tepatnya, ‘rasa kesal’) kepada seseorang yang dengan mudah sekali bisa gw jatuhkan melalui satu ketikan, ‘OK, do it for me please!’ di BB messenger, hehehe. Tapi terus gw mikir, “Kalau gw kayak begitu ke dia, apa bedanya gw sama dia?” So I decided to say thanks, but no thanks.

Kalau memang betul, “How you react towards problems is who you are”, tandanya gw lagi pembuktian nih. Bukan kepada orang lain, namun lebih kepada diri sendiri. I’m far above my problems, I’m far above all the stupid things that he/she did :-)

Jadi, kalau lo lagi nyari pasangan untuk seumur hidup, jangan keburu-buru. Tunggu sampai dia ‘diinjek kakinya’.. kalau hidupnya senang-senang saja, mungkin elo yang bisa ‘injek kakinya’, hehehe… :-)

Thanks to bYSI

Waktu dikasih kabar gw akan ngemsi di acara conference wanita, pertanyaan pertama yang muncul di kepala adalah, “Pake baju apa ya?”

Thanks to the power of micro-blogging, I put up a line on Twitter: “Anyone knows any boutique owner who can dress me up?” Dengan cepat, bantuan-bantuan berdatangan, salah duanya datang dari Kenny dan Jiji. I finally got in contact with bYSI who was willing to lend some of their dresses.

Akhirnya, di Sabtu sore yang cerah (halah!) serulah gw mencoba-coba banyak baju dari satu toko bYSI – Senayan City, thanks to Martin and Christa! Yeah, this is what every girl would feel, like owning the world!

Kalau ada butik yang mau endorse gw untuk setiap kali ngemsi, lucu juga kali ya? :-D

Ps. Gw foto-foto di changing room ini bukan karena narsis, tapi memang the owner wanted to see the dresses on me, untuk bantuin milih! Hehehehe…

Do You Love What You Do?

Kalau ditanya, “Do you love what you do?” Kira-kira jawabannya apa? Based on what I learned in life (so far), and questioning that to many of my friends, most people don’t really love what they do. Kalau gw pake kata ‘do’, ini nggak semata ngomongin jabatan atau jenis pekerjaan, tapi lebih kepada ‘role’ yang kita miliki dalam hidup. Ada orang yang ‘role’-nya sebagai guru, ada yang sebagai konselor, entertainer (nanda-nanda penghibur), dan masih banyak lagi.

If you ask me, “Do you love what you do, Laras?” My answer would be, “YES!”

Banyak orang bilang, “Enak banget kerjaan lo, ngemsi-ngemsi, siaran, seru banget kayaknya.” Terkadang gw suka ngerasa ada sense ‘menganggap gampang’ apa yang gw lakukan sekarang. Hahaha. Salah besar! Apa yang gw lakukan sekarang butuh banyak keputusan-keputusan besar di dalam hidup, ketika gw meninggalkan pekerjaan ’stabil’ gw sebagai Art Director, ketika gw memutuskan hubungan dengan seseorang karena dia nggak bisa mengerti kegiatan-kegiatan gw, dan masih banyak lagi. Nggak ada yang mudah untuk bisa mendapatkan apa yang benar-benar SUKA atau CINTA (you do realize that this applies to all areas in life, right? Hehehe). There is always price tag for everything that is GREAT and FULFILLING!

Last Friday and Saturday, I had the privilege to do two of my passions (memajukan wanita Indonesia dan jadi presenter) through one event, yaitu ngemsi di Treasures Women’s Conference 2008. Hari pertama ngemsi bareng Charles Bonar Sirait dan moderator talk show, Melissa Karim. Di hari kedua, gw ngemsi sendiri (Charles memang sudah bilang dari bulan lalu cuma bisa satu hari), and it was FUN.

The thing is, when you’re passionate about what you do, elo nggak akan ngeluh ketika harus bayar harga untuk melakukannya. Bayangin aja, gw di hari Kamis pulang jam 10 malem (abis ngajar di DATE), terus setelah beres-beres dan mandi, baru bisa tidur jam 12 malem, jam 2 pagi sudah harus bangun karena siaran Sahuruhara sampai jam 5 subuh. Selesai siaran langsung ke gym hanya untuk mandi, lanjut ke UpperRoom karena jam 7 sudah harus make-up. Setelah seharian ngemsi sampai jam 5 sore, gw nggak bisa istirahat karena masih harus lanjut ngemsi jam 7 sampai jam 10. Sampai rumah jam 11 malem, kaki gw rasanya mau rontok :-D Bayangin aja tidur 2 jam, lalu berkegiatan 20 jam.. hahahaha.

Baru tidur jam 12 malem juga nggak bisa lama-lama, karena jam 5 pagi sudah harus bangun lagi untuk ngemsi hari kedua :-) But you know what… I had so much fun! Di Plurk gw nulis, “I am tired on the outside but happy in the inside”… and that was for REAL!

Gw masih inget di hari kedua ketika Service Assitant (Randy) bilang, “Ras, Robb Thompson baru turun dari kamar hotelnya, you need to buy time!” FYI, saat itu gw sudah siap mau naik panggung! PANIK GILAAAA :-D Lalu Randy tanya, “What can I do to help you?” Gw langsung bilang, “Give me gifts to give away!” Akhirnya, untuk ‘membuang’ 15 menit sambil nunggu pembicara dateng, gw turun panggung, bikin acara dadakan ‘fashion police’ sambil bagi-bagi hadiah di antara 940 orang peserta conference.. hahahaha! It really worked!

Lepas dari kegilaan dan kesalahan yang gw lakukan (hahaha, I’m sure pasti banyak!), I took so much JOY out of it, dan ini juga terjadi ketika gw ngemsi di mana-mana. Kayaknya emang udah jodoh sama microphone deh hidup gw… :-)

Anyway, satu point penting nih. Kalau kita ngelakuin apa yang kita lakukan dengan passion dan hati, pasti kerjaan kita itu sifatnya kayak magnet, akan menarik hal-hal bagus lainnya. Buktinya, dari dua hari ngemsi, gw dapet satu tawaran jadi host TV, ngemsi di satu seminar, satu wedding, dan ngajar di public speaking school. YAAAAAY. But then again, nggak semua tawaran bagus HARUS diterima kan? Kita harus wise untuk memilihlah, intinya :-D

So, do you love what you do?

Amazing Dee

Kalau selama ini orang suka melihat sisi ‘cool’ gw, di hari Jumat 29 Agustus 2008 jam 9 pagi, rusaklah semua image-image itu. Jadi ceritanya gw sudah denger kabar dari seminggu sebelumnya (thanks to Budhi Samsudin dan Nasta Inda Sadikin, duo produser GMHR yang sangat mengerti kenorakkan gw) kalau Dewi ‘Dee’ Lestari akan datang ke Hard Rock FM untuk interview di Good Morning Hard Rockers Show (GMHR).

Sedikit background saja, gw sudah ngefans sama tulisan seorang Dewi Lestari dari awal dia menulis “Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh.” Dulu gw masih kuliah di Perth, setiap pulang Indo, sementara anak-anak perantauan lain sibuk shopping baju, gw sibuk ngeburu buku-buku Dee.

Jadilah dibela-belain ya, siaran jam 10 (Powder Room), tapi sudah hadir dari jam 9 pagi. Masuk ruangan dengan muka norak dan tingkah super kampungan. Secara anak-anak kantor sudah pada tahu gimana gw ngefans sama Dewi, mereka sibuk gangguin gw lah. I really lost my cool that morning :-p

Inilah percakapan-percakapan nggak cool gw…

Laras: “Ha…aaaiii.. D..ee..wwii… saya Laras, dari dulu gw suka baa..angge…ett.. baaa…caaa.. tu..liissaa…n… looo…”

Pandji: “Lha, Ras, gw kirain selama ini lo ngefans sama gw? Ternyata ngefans sama Dewi?”

(Dee cuma tertawa melihat kekampungannya gw, dan mendengar becandaan Pandji)

*

Budhi: “Dewi, Laras mau foto bareng…” (Sumpah, Budhi nyengir lebar banget, agak-agak bikin gw jiper)

Inilah hasil fotonya…

*

ON AIR

(Dee lagi nyanyi “Grow A Day Older”, dan gw nangis di pojokkan – males nggak sih? Hahaha.)

Pandji: “Di sini juga ada Larasati Silalahi, lagi nangis dia, Hard Rockers! Ah, tapi dia emang cengeng, nangis mulu. Eh Dewi, Laras ini suka nulis lho. Buka deh www.larasatisilalahi.com, bagus tulisan-tulisan dia.”

Dee: “Oh ya? Laras biasa nulis apa? Mau dong gw baca…”

Pandji: “Jadi dia tuh pernah nulis tentang….” (Pandji mulai mereview blog ini. Thanks, Ndji. Di balik penampilan nakal dan iseng lo, ternyata hati lo baik :-D )

*

OFF AIR

Dee: “Jadi kamu suka nulis, Ras?”

Gw: “Bangeeeettt…”

Dee: “Wah, boleh dong kita ngobrol-ngobrol lagi…”

Gw (mau pingsan): “Do you happen to use BlackBerry?”

Dee: “Yes, I do! Yuk tukeran PIN, kita ping-pingan.”

Gw: “Sure thing!” (sok cool ya?)

*

Karena gw takut terlalu terlihat seperti groupie berwujud stalker, gw banyak ‘menonton’ wawancara dari ruang studio.

Ayu: “Bu, nontonnya di luar ajaaaa… Tampil di setiap foto-foto.”

Gw: “Gila neik, malu gw. Jaim dikit ah.”

Dee: “Ehhh.. nggak papaaa lagiiii.. sini ajaaaa…”

(asssiiikkkk :-D )

*

Bagian paling keren dari wawancara pagi itu adalah ketika Pandji dan Ayu ngebahas gimana Dewi nanggepin semua gosip-gosip tentang perceraiannya dengan Marcell. Dewi sempet bilang, “Kalau selama ini orang bilang ‘diam itu emas’, sebenarnya setiap orang pasti punya sesuatu yang ingin disampaikan. Kalaupun orang itu diam, dalam hatinya pasti banyak yang dipendam. Jadi, diam itu hanya emas imitasi.” (Wow. Saat itu gw teringat lagi kenapa gw ngefans sama perempuan ini.)

*

The next day on BlackBerry messenger…

Dee: “Aku ada surprise buat kamu hari Selasa. Tungguin ya.”

Gw: “Looking forward to it!”

(Sebenarnya gw dan Dee masih nyerocos tentang banyak hal, tapi masih rahasia ah. Hahaha!)

*

Phone call on Tuesday morning…

Reza: “Halo, Laras! Ini Reza Gunawan, kamu hari ini siaran? Aku ada di Cosmopolitan FM nih habis siaran, ada titipan buat kamu dari Dewi.”

Gw (suara tidur): “Haaaaaah? Rezaaaa Gunnaaawaaaan? Thank youuuuu!” (Ngimpi apa gw dibangunin sama Reza Gunawan di pagi yang indah? Halah. Agak lebai yah gw.. hihihih.. tapi sumpah deh, seneeeeeeeng banget gw.)

*

Again, on BlackBerry messenger…

Gw: “Reza just called. THANK YOU SO MUCH!”

Dee: “Hehehe… You’re welcome, Dear. Please let me know what you think after ‘experiencing’ both works…”

Gw: “Will do! Will do! (ancur ya, kebaca noraknya) Btw, I love your ‘Mencari Herman’ short story! Just read it last night.. seperti ada banyak yang mau diungkap lewat cerita yang (cukup) sederhana.”

Dee: “Thank you for noticing.. Memang banyak metafora dan kontemplasi yang kusisipkan dalam cerita itu..”

Gw: “Nanti check blog-ku ya. Mau review ‘Rectoverso’ dan ‘Filosofi Kopi’.”

Dee: “Sure thing.. Aku akan posting comment/review kamu later on website ‘Rectoverso’, boleh ya?”

Gw: “Pleasures all mine!”

*

Akhirnya Rabu sore (hari ini) gw baru bisa ambil titipannya, karenaaaaaa.. kemarin macet gila dari airport, so I just picked them up today.

Inilah titipan seorang Dewi Lestari…

So far, my favorite tracks from “Rectoverso” the album would be: “Tidur”, “Selamat Ulang Tahun”, “Rectoverso, Curhat Buat Sahabat”, “Peluk”, “Malaikat Juga tahu”, “Hanya Isyarat”, “Grow A Day Older”, “Aku Ada”. Nggak sabar pengen baca the stories behind the songs.

Wait for my review on these fabulous stuff :-)

Hati-Hati

Selama ini kalau kita dengar kata ‘hati’, mungkin ada dua hal populer yang langsung muncul di pikiran kita. Pertama, hati secara harafiah, alias jantung. Satu lagi pastinya bentuk hati yang biasa kita corat-coret di kertas, ketika lagi iseng (lebih sering terjadi pada gender perempuan?).

Sama seperti kata-kata lain yang sudah terlalu sering dipakai, terkadang artinya bisa bergeser, dan seringkali jadi tidak lagi bermakna. Padahal yang namanya hati, adalah sesuatu yang memiliki kekuatan besar. Powerful. Very, very powerful!

1. Sesungguhnya, apa yang ada di hati, bermula dari pikiran. Percaya, tidak percaya, pikiran kita bisa mengkontrol hati. Kalau diumpamakan hubungan sebab-akibat, pikiran adalah sebab, hati adalah akibat. Apa yang ada dipikiran kita, secara langsung, maupun tidak langsung akan mempengaruhi susana hati. Contoh deh yang paling sederhana, disaat kita bertemu orang yang enak dilihat, mata langsung mengirim signal ke otak, “Lucu juga nih.” Nah, kalau pemikiran itu dilanjutin, bisa jadi suka. Suka itu ada di mana? Di hati.

Makanya, sangat penting untuk kita memiliki pembaharuan pikiran (renewing the minds). Ini juga salah satu alasan kenapa kita perlu mempunyai self-image yang benar. Karena apa yang ada di kepala kita, larinya ke hati. Karena ini juga, hadirlah satu pernyataan hebat, “Happiness is a choice” (Rasa bahagia itu adalah keputusan). Truth is, everything that we feel (hati), always starts with a decision (pikiran).

2. Hati kita bisa tercemar. Oh yes, for sure. Ibaratnya hati itu adalah sebuah ruangan, sangat mungkin sekali dikotori dengan sampah. Kalau mau disambung dengan point nomor satu, pikiran (baca: hati) kita juga bisa dikotori dengan sampah. Kalau kita suka baca, nonton, mengkonsumsi ’sampah’, sangatlah mungkin kalau hati kita juga jadi cemar. Hati-hati dengan fakta ini, karena apapun yang keluar, ditentukan dari apa yang masuk :-) Jadi kalau ada orang yang sukanya ‘nyampah’ (baca: bikin gosip, hina orang, etc), ada kemungkinan memang pikirannya (sekali lagi, baca: hatinya) juga secara konstan diisi dengan ’sampah’.

Sopan santunnya kalau bertamu, atau mungkin ketika beribadah, adalah melepas sendal atau sepatu. Tujuannya kan selain nilai kesopanan, adalah supaya bakteri dan kuman dari luar tidak perlu dibawa masuk. Sama seperti hati kita, ada ‘bakteri’ dan ‘kuman’ yang tidak perlu dibawa masuk. Bagus kalau cuma masuk, lalu keluar lagi. Gimana kalau masuk, terus tinggal selamanya di hati kita? Rugi bener.

3. Hati kita bisa dijaga. Menyambung point nomor dua, pintar-pintar memilih ya. Belajar untuk mengerti, yang mana yang boleh masuk di hati, yang mana yang tidak. Mungkin kata-kata “jaga hati” sudah terlalu sering dikumandangkan, jadi sepertinya sudah terlalu biasa. Padahal, kalau mau ditanyakan ke diri sendiri, seberapa sering kita jaga hati? Maksudnya, secara ’sadar’ membuat keputusan untuk menjaga hati.

Kalau memang kita sudah segitu pandainya menjaga hati, seharusnya tidak akan jatuh cinta kepada orang yang salah. Kalau memang kita sudah segitu pandainya menjaga hati, mungkin tidak akan menyakiti hati orang lain dengan perkataan atau perbuatan kita. Kalau memang kita sudah segitu pandainya menjaga hati, mungkin tidak akan batal puasa (ehem, hehehe).

4. Hati tidak bisa ‘dicuri’, namun bisa ‘dijajah’. Kalau ada orang pakai istilah ‘mencuri hati’, sebenarnya gw kurang setuju sih. Hati itu tidak bisa ‘dicuri’, orang kita yang mengkontrol, kok. Tapi benar, hati bisa ‘dijajah’. Sama halnya seperti kehidupan bernegara. Negara kita secara fisik tidak akan pernah bisa dicuri (masak mau diangkat, lalu dibawa kabur?), tapi bisa dijajah. Thank God we are free :-p

Begitu juga dengan hati. Yang ‘menjajah’ bisa jadi tidak berwujud manusia (seringkali sih manusia ya? Aaaw!), dan semoga saja bukan setan (Hahaha), tapi bisa saja nilai-nilai yang salah. Rasa iri, dengki, amarah, dendam, cemburu, rakus, dan lain sebagainya. Hal-hal itu bisa saja ‘menjajah’ hati kita. Pertanyaannya sih cuma satu, berapa lama mau ‘dijajah’?

Gw pribadi, suka sekali dengan dua kata ini: anugerah (grace) dan pengampunan (forgiveness). Untuk bisa ‘merdeka’ dari ‘penjajahan’, kita butuh dua hal itu.

5. Hati kita adalah sumber kehidupan. Enough said. Gw yakin elo tahu apa yang gw maksud di sini :-) Coba yuk kita refleksi ke diri sendiri, tanya begini: “Kehidupan macam apa yang kita mau?” Jawabannya akan menentukan usaha apa yang perlu dilakukan. Kalau sudah tahu apa itu, coba balik lagi ke point nomor satu.

“Guard your heart with all diligence, from out of it are the sources of life.” (Proverbs 4:23)