Why So Serious?
No, this posting has got nothing to do with The Joker :-p
Tulisan ini dibikin pada pukul 5.30 pagi sambil mencari painkiller, ditemani dengan “No Ordinary Morning”-nya Chicane, setelah memberangkatkan kedua orang tua ke Cambodia (yes, I’m parentless again this weekend).
Kesadaraan akan sesuatu yang musti diubah itu bermula dari dua hari lalu ketika gw menelpon seorang sahabat yang sedang bersekolah di luar negeri. Sahabat gw ini orangnya suka bicara, jadi malam itu berasa sekali kalau dia ‘agak’ sedikit lebih diam, dan dia mengulang kalimat ini berkali-kali, “Kamu saja yang cerita.” Sebagai nanda-nanda sensitive, tentunya gw langsung tanya, “Are you OK?”
Setelah telepon ditutup, berlanjutlah obrolan di YM. Kali ini gw bertanya lagi, “I didn’t say anything wrong kan? Are you OK?” Lalu dia bilang, “Saya baik-baik saja, Laras. Kalau saya tadi agak diam, itu sama sekali bukan karena kamu, lagi…”
Masih juga tidak puas dengan jawaban dia, gw bercerita dengan kondisi ini kepada seorang teman baru (yang tidak tahu kenapa, saya cukup percaya insights-nya – jangan GR, I know you’re reading this :-p), “Kenapa ya, dia itu kok kayaknya berubah.” Dan dia juga mengkonfirmasi dengan berkata, “Bukan karena elo kali, Ras.”
Did I think too much? Yes, I did.
Was I too serious? Yes, I was.
Was I being too sensitive? Ha.
To be honest, when it comes to things (or people) that I really cared about, I could be hypersensitive. Ouch!
Dalam rangka mencari solusi, ngobrollah gw dengan Si Mentor (SM) kehidupan yang memang harus diakuin orangnya sangat content, sampai-sampai, mau orang ngomong apa juga tentang dia, dia bisa membalas dengan senyuman dan bener-bener nggak ambil pusing. Gw ngiri sama sisi ‘itu’ dari dia, jadilah hadir di kantornya kemarin sebagai nanda-nanda yang mau berguru.
Sebagai orang yang punya banyak talenta dan bisa dikategorikan sangat berpengaruh di bidangnya (dan juga terkenal hehe), Si Mentor mengajar bagaimana nggak ngambil pusing sama celaan orang-orang yang nggak mengenal kita. Ketika gw bilang, “Yang bikin gw sebel tuh, they don’t even know me, how come they judged?” Si Mentor tanya, “Tapi kalau kamu dipuji sama orang yang tidak kenal kamu, kamu senang?” Langsung gw terdiam sejenak, terus bilang, “Senenglah!” Lalu dia bilang, “Padahal kan, mau pujian atau celaan, keduanya sama-sama cuma based on your facade. They don’t know you. Terus kenapa kamu bisa senang dipuji padahal jelas-jelas tahu kalau orang itu tidak kenal kamu, sementara nggak bisa cuek ketika dicela padahal jelas-jelas tahu kalau orang itu tidak kenal kamu?”
Gw bilang, “Aku tuh suka mikirin segala sesuatu terlalu dalem sih.” Si Mentor ketawa, dia bilang, “But you have come so far, Laras. Kamu sudah banyak berubah. It’s a process.” Lalu gw tanya lagi, “Gimana caranya supaya nggak terlalu banyak mikir?” Dia kali ini nyengir lebar dan bilang, “Don’t digest everything. Taste it, if you don’t like it, muntahin aja.”
“Tapi kalau kita jadi terlalu cuek, nanti jadi nggak bisa kena teguran, itu juga salah kan?” Kali ini jawaban Si Mentor sudah bisa gw tebak sih (emang dasar demen nanya aja gw hahaha), “Pick the people you listen to, the rest.. don’t give a shite (bacanya shait ya, hehehe).”
“Yang penting kan yang tahu kebenarannya kamu dan Tuhan, terus ngapain kamu pusing sama pikiran orang-orang lain?” Si Mentor melanjutkan. Lalu gw merespon, “Yes, speaking of the truth ya…” Dia senyum, “..will set you free.” Kali ini gw yang ketawa, lalu dia melanjutkan, “Sama aja kayak dua orang ngeliat ke langit, Ras. Yang satu bilang warna langit biru, yang satu lagi bilang warna langit kuning. Jelas-jelas kamu tahu kebenarannya kalau warna langit itu biru. Bodohnya kita, malah mikirin terlalu serius, apa bener ya warna langitnya kuning?”
Sambil sibuk mengetik di Apple MacBookPro-nya, Si Mentor cerita lagi. “Di depan 2000 orang dia bilang begitu.” Gw kaget, karena gw tahu kalau Si Mentor sama sekali nggak bersalah. “Terus, what did you do?” Dijawab langsung, “Ketawa aja, padahal mukaku disorot di layar. Nggak ada gunanya bela diri, Ras. Kalau kamu tahu, kamu nggak salah.. ya sudah. Kalau kita bela diri, that shows that we feel guilty. Why feel guilty for something you didn’t do?”
Lalu saya jadi penasaran. “Waktu kejadian itu, kamu umur berapa ya?” Si Mentor mulai menghitung dengan kedua tangannya. “26,” jawabnya. Gw langsung teriak, “I’m 26 this year!!!” It’s all clearer now, everyone has their process and now it’s my turn. Glad to know that it’s just a phase.
“Kalau kita terlalu serius, yang rugi juga kita, Dear. That loser bisa bobo nyenyak, sementara kamu nggak bisa bobo. Iya kan?” Good point.
Lalu percakapan ini ditutup dengan satu kalimat pamungkas.
“Take a chill pill, Babe.” Si Mentor (SM) tapped me on my back.
- 10 Comments »
- Posted in Learn, Live on August 28th, 2008







